Skip to content
Featured Post

Pertemuan

Siapa bilang pertemuan itu membunuh rindu? Ia hanya melipatgandakannya lalu diam-diam menikammu dari belakang. Kamu terhunus dalam bahagia. Lalu kamu menahan tangismu setelah ia kembali pergi. Kamu ingin hari itu berjalan lebih dari 24 jam. Tapi kamu pura-pura tersenyum. Punggungnya menyapamu untuk terakhir kali sebelum tubuhnya tak menyisakan bayangan. Kamu seperti bermimpi. Tapi itu nyata.

Ah, mereka bilang pertemuan itu pangkal rindu. Tapi bagimu ia tunas untuk lahirnya rindu-rindu yang terus bereplika. Kamu sempat lupa bahwa Continue reading Pertemuan

MEMAAFKAN DIRI SENDIRI

Ini adalah aku suatu ketika, yang sedang berbicara dengan diriku sendiri. Adalah aku, yang mulai bertanya. Duhai diri, kapankah kamu akan memulai memaafkan dirimu sendiri?

Entah pada episode ke berapa, kamu akan sampai pada titik itu. Kamu masih saja menangis, atau sekadar merutuk. Mencari orang lain untuk kamu jadikan si ‘Yang Bersalah’, agar kamu menjadi korban. Membiarkan orang lain membuatmu begitu tersakiti. Lalu menangis seolah kamu paling menderita. Berharap menjadi sejenak lebih baik setelahnya. Kamu lagi-lagi begitu menikmati peranmu sebagai korban. Hingga kamu tak sadar, lukamu sendiri kamu tutup begitu tebal. Luka yang kamu perbuat pada dirimu sendiri.

Kalau tak ada lagi sesiapa yang bisa kamu salahkan atas air matamu, maka kamu mulai menyalahkan keadaan. Menyalahkan hujan yang harusnya turun menjadi berkah. Menyalahkan matahari yang harusnya menghangatkan jiwamu. Menyalahkan apa saja. Agar kamu tak tampak bersalah. Agar kamulah yang tampak menjadi korbannya. Hingga kamu semakin tak menyadari, lukamu bernanah di balik perban tebal yang kamu bebatkan. Kamu seolah baik-baik saja. Tapi langkahmu berat, jiwamu kosong. Hanya senyummu tersungging seolah kamu yang paling kuat. Ah, bukankah itu sungguh menyesakkan?

Sementara jauh di dalam jiwamu, kamu meronta lalu merintih. Rintihan yang nyaris tak pernah kamu dengar. Continue reading MEMAAFKAN DIRI SENDIRI

Belajar Sabar

Man Shabara Dzafira

Suatu ketika, saya pernah lelah ketika Naya kumat tidak mau makan. Rasanya ffffhhh sesak sekali lihatnya. Tapi ya sudah, tarik nafas, tenang di pojokan mencari ide agar dia mau makan. Sabar menuntut kita untuk kreatif mencari solusi, sehingga kita lupa berkeluh kesah. Dari menawari nasi yang dibulat-bulat, disate, bikin makaroni, makan bareng temennya, dan lain-lain. Tapi ya gitu, masih irit. Tapi lebih baik, setidaknya dia mau makan walaupun sedikit. Ya udah. Ya udah. Saya mencoba melepaskan beban saya dengan pasrah. Nanti kalau lapar, dia pasti minta. Sambil berdoa tentu saja. Sabar. Sabar. Sabar itu kan berusaha dan berserah. Sabar bukan berarti kita tidak boleh kesal, tapi kita tahu cara menyalurkan kesal itu dengan baik. Apalagi menghadapi anak bayi, makin kita rungsing, makin menjauh dia dari harapan kita. Ya udah. Sabar. Lalu, tiba-tiba, Naya memberi kejutan. Saat saya sedang makan, tidak menawarinya, dia justru mengambil alih makanan saya dan makan sendiri dengan lahap. Ah leganyaaaaa. Kalau tadi saya jadi nangis atau marah, pasti menguras energi.

Di sisi lain, sabar juga terkadang tentang tidak menyerah dan terus berusaha. Continue reading Belajar Sabar

Naya dan Toilet Training

Hai, I’m  back. Kali ini cerita perjalanan sebagai emak-emak. Hehe. Sebelumnya, ini hanya cerita ya. Sekalian kemarin mencatat perkembangan Naya sejak toilet training. Saya banyak belajar dari tulisan ibu-ibu di blog tentang proses toilet training anaknya. Then, saya juga jadi semangat ikut nulis juga. Mungkin ada emak-emak yang jadi semangat ngajarin anaknya TT setelah baca ini. Aamiin.

Awalnya, saya mau memulai toilet training sejak Naya usia 16 bulan. Pertimbangan saya, saat itu dia sudah bisa bilang pipis ketika sedang di kamar mandi dan menunjuk popoknya dengan sebutan ‘pipis’. Tapi rencana itu mundur karena kita sekeluarga masih mobile bolak-balik sana-sini sampai Naya 18 bulan. Nah, pas usia 18 bulan, saya akhirnya bismillah memutuskan Naya akan mulai toilet training. Tapi waktu itu, sejujurnya saya belum terlalu siap. Masih banyak peer ini itu, masih melakukan perjalanan jauh, dll. Jadi saya tidak konsisten. Kadang pakai popok, kadang tidak. Lihat ompol di mana-mana rasanya puyeng. Haha. Jadi ya, sesuka hati saya aja. Apalagi pas pulang kampung lebaran kemarin, bubar. Hehe. Popok masih menggoda emak. Akhirnya, pelajaran inti dari toilet training pun tidak sampai ke Naya. Dia lebih sering pipis duluan, baru bilang pipis. Nah, setelah pulang dari lebaran, saya memutuskan untuk di rumah saja, saya mau kembali fokus memulai toilet training untuk Naya. Kali ini bekal saya insyaAllah juga lebih siap.

Nah, sebelumnya, sambil ngilangin capek pasca mudik, saya memulai baca lagi beberapa metode toilet training. Dari apa yang saya baca, ternyata toilet training itu tidak hanya membutuhkan kesiapan anaknya, tapi juga ibunya. Jangan sampai toilet training dilakukan saat pindah-pindah tempat tinggal, atau saat si anak punya adek baru, atau saat si ibu sibuk, dll. Karena, inti dari toilet training ini adalah kedisiplinan, kesabaran, konsistensi, dan fokus. Jadi, sebisa mungkin lakukanlah dengan bahagia tanpa ada tekanan bagi anak maupun ibunya. Fiuh, setelah menjalani, pantesan ya lulus toilet training jadi salah satu indikator kemandirian anak, karena prosesnya wow banget.

Maka, setelah berbagai urusan beres dan hati siap, bismillaah, 8 Agustus 2017 kemarin, saya mantap memulai lagi toilet training untuk Naya. Kali ini, saya udah bahagia lihat ompol di mana-mana dan ngepel berkali-kali. Udah rela kalau seprei harus basah dan rajin-rajin nyuci. Udah siap kalau harus lebih sering ganti baju karena tertempel ompol. Udah lebih tahan untuk konsisten nggak pakaikan Naya popok, meskipun saya capek. Kali ini tidak boleh lepas pakai lagi. Pelajarannya harus sampai. Karena itu semua, hati pun tenang menjalaninya. Sepanjang yang saya baca, kalau kita konsisten dan disiplin, serta semuanya siap, nggak lepas pakai popok, insyaAllah prosesnya lebih cepat.

Berikut catatan perjalanan toilet training Naya sejak resmi saya mulai lagi. Usia Naya 21 bulan kurang 3 hari ketika saya memulai TT. Continue reading Naya dan Toilet Training

Menulis Lagi

Screenshot_2017-07-19-22-58-55-10.png

“Kita hanya tahu apa yang terbaik yang terjadi di masa kita. Padahal kita belum memvalidasi apakah benar hal yang sama akan tetap menjadi yang terbaik untuk generasi berikutnya? Kita hanya tahu apa yang terbaik yang pernah kita alami. Padahal yang kita alami di zaman kita pun, belum tentu yang terbaik. Apalagi untuk zaman berikutnya…. Sebagai orang tua, kita harus sadari bahwa sebagian pengalaman hidup kita, hanya unik untuk generasi kita. Itu sebabnya, tidak semua nasihat dapat diaplikasikan lintas zaman.” (dikutip dari ‘Parent’s Stories Membesarkan Anak yang Berdaya, Adhitya Mulya, p. 120-121.)

Pernah nggak sih, kita ngerasa terlalu nyaman atau justru terlalu larut ke dalam rutinitas, atau malah tenggelam ke dalam masalah-masalah yang bikin kita baper, terus ujung-ujungnya hidup kita ngalir gitu aja. Nggak tahu mau ngapain. Pokoknya makan. Pokoknya nafas. Pokoknya hidup aja. Bisa ketawa-ketiwi, udah happy. Sampai nggak dirasa semuanya. Saking nyamannya atau justru saking sakitnya (?). Most of us mungkin pernah. Saya juga. Sampai lupa kalau saya itu hobi nulis dan hobi baca buku. Lah? Hahaaha. Kok bisa? Ya bisa.. Tapi alhamdulillah saya masih sadar. Saya sadar saya harus bangun. Saya harus GERAK untuk meraih tujuan hidup saya. Untuk mewujudkan impian-impian saya. Pokoknya harus gerak.

Saya kembali memaksa diri saya untuk push the limit, diantaranya dengan membaca buku sebanyak yang saya mampu. Salah satunya buku yang saya kutip di atas. Lalu saya menemukan sebuah simpulan. Bahwa ketika kita mau, kita mampu kok melewati batas-batas diri kita. Ini nasihat lama, yang selalu relevan lintas zaman. Ya begitulah. Saya yang beberapa bulan terakhir kesulitan menamatkan buku dengan dalih ini itu, kalau niatnya kuat ternyata bisa kok. Dan dari hal simpel se’kecil’ menamatkan baca buku, ternyata mempengaruhi aspek-aspek kehidupan yang lain. Jadwal saya beberes, ‘sekolah’ untuk Naya, masak, dll, menjadi lebih teratur. Efeknya ternyata sebegitunya. Apalagi jika buku yang dibaca pas dengan kebutuhan kita. Seperti bukunya Adhitya Mulya yang ini, nampar banget untuk saya sebagai new parents yang masih banyak banget perlu belajar. Buku ini memberi kita banyak sekali gambaran tentang menjadi orang tua masa kini dan bagaimana membuat anak-anak kita berdaya di masa depan. Sungguh, menjadi orang tua tidak mudah. Karena untuk menghasilkan generasi yang berdaya, kita pun harus berdaya, harus terus memperbaiki diri. Dan tentu saja harus terus GERAK.

Saya pun diam sejenak, lalu memutuskan untuk menulis ini sebagai salah satu upaya untuk terus MOVE UP! Bukankah menulis adalah bentuk mengikat ilmu? Begitulah. Lalu saya menulis. Memulai blogging lagi setelah sekian lama blog ini usang tanpa huruf-huruf baru.

Sebenarnya, salah satu hal yang membuat saya sadar saya harus gerak adalah sejak saya tergabung di Komunitas Ibu Muda Indonesia (KIMI), sebuah komunitas yang berisi para ibu berjiwa muda (karena nyatanya, di grup ini berisi para ibu lintas usia). Continue reading Menulis Lagi

Tentang Buku ‘Cinta yang Baru’

Rencana Begini

Di luar sana, banyak kisah cinta tentang penantian berujung pertemuan. Tentang kisah memendam cinta yang terungkap dengan kata saling. Tentang janji yang ditepati. Lalu terjadilah perayaannya. Tapi tidak tentang kita. Kisah penantian kita masing-masing yang dulu kita impikan nyatanya tak sempat menjadi cerita. Aku dengan kisah pilu patah hatiku ditinggalkan. Kamu dengan kisah magis merelakan cinta yang harus kautinggalkan. Kamu dan aku adalah dua orang yang sama-sama tak bisa merengkuh cinta yang kita nanti. Tapi kamu dan aku adalah dua hati yang sama-sama kuat untuk mau kembali berdiri lalu saling mencari. Karena barangkali apa yang dulu kita nanti bukanlah apa yang sejatinya ditulis takdir.

Kamu dan aku (yang saat itu belum menjadi kita) terus mencari tanpa pernah tahu bagaimana akan menemukan. Kamu dan aku terus berharap tanpa punya apa-apa selain doa. Kadang kamu merasa menemukan apa yang kaucari. Kadang aku merasa ditemukan apa yang kunanti. Tapi tak pernah ada kata saling. Lalu entah sinyal apa yang memancar, kamu dan aku justru dipertemukan saat kita berhenti mencari. Kamu dan aku, entah dengan keyakinan dari mana, tak perlu waktu lama untuk mengerti bahwa ini saatnya melebur menjadi kita. Ya, kita adalah dua manusia yang dipertemukan takdir. Barangkali begitu. Kita adalah dua manusia yang sempat dirundung duka oleh kisah pilu masing-masing, lalu melebur saling membangun cinta baru.

***

‘Cinta yang Baru’ adalah tentang perjalananku menemukanmu. Tentang takdir Tuhan yang tak bisa kuterka. Tentang luka yang menemukan penawarnya. Tentang rindu yang terbayar setelah keikhlasan menjadi syaratnya. Tentang kamu dan cintaku pada-Nya.

Buku ‘Cinta yang Baru’ sudah bisa kamu pesan. Info pemesanan: ceritahimsa.com/buku . Ada merchandise spesial untuk 1,000 pemesan pertama. Continue reading Tentang Buku ‘Cinta yang Baru’