Skip to content

Month: March 2016

Menerka Takdir

Kamu diam-diam menangis, mengingat harapan dan kenyataan yang tidak belum egaliter. Lalu, dalam ruang sempit 3,2x 4 meter kamu berdoa, kadang juga mereka-reka bagaimana harapan-harapan itu akan terwujud dalam angan-angan. Jam yang terus berputar seolah tak menjadi petunjuk bahwa malam telah larut. Kamu lebih banyak menggigit udara di antara gigi-gigimu ketika kamu menunggu angan itu tercapai. Dan kenyataannya, lama sekali angan itu tak jua tercapai. Lalu kamu berpikir, ah, sebaiknya tak usah berharap, biarkan angan itu terlelap. Tapi nyatanya, kamu justru terkesiap. Kamu terkesiap oleh rekaanmu sendiri.

Angan yang kamu reka dan takdir yang tak dapat kamu terka, membuatmu tergugu dalam keadaan yang tak kamu duga. Kamu tergugu, karena kamu ingat kamu pernah mempertanyakan di mana tanggung jawab Tuhan atas doa-doa yang kamu panjatkan. Kamu tergugu, karena kamu ingat kamu bahkan sudah menyerah mencapai harapan kamu. Kamu tergugu, karena kamu ingat, nada-nadamu bahkan sudah tak mampu melagu, habis oleh air matamu. Kamu tergugu, karena nyatanya takdir Tuhan terlampaui indah untuk kamu reka dengan anganmu. Nyatanya, kamu tak pernah mampu menerka takdir Tuhan. Continue reading Menerka Takdir

Hapus

Kamu ragu-ragu melakukannya. Kamu hapus percakapanmu dengannya di ruang maya itu. Ruang berlogo hijau dengan sedikit kombinasi putih, tempatmu biasa bercerita padanya. Ruang yang pernah membuatmu bahagia, juga menangis tidak karuan. Kamu masih ragu untuk sekadar memencet tombol itu lebih lama lalu mengeklik tombol delete. Tapi akhirnya kamu mengekliknya. Menghapusnya. Meniadakan surat-surat pengakuan yang pernah kamu kirim. Mengikis kata demi kata yang merangkai cerita kalian. Membunuh paksa kenangan yang tumbuh di sana. Kamu perlahan yakin menghapusnya adalah pilihan yang tepat. Walaupun sebenarnya kamu tak yakin kenangan itu terhapus pula. Tapi satu hal yang kamu yakini benar, cerita kalian harus diakhiri. Biar harapan saling tumbuh sembunyi-sembunyi, jika benar harapan itu masih ada. Biar kalau waktu mengizinkan kalian bertemu, bukan ruang maya itu tempatnya. Biar kalau kamu dan dia melebur dalam satu cerita, cerita baru yang terwujud. Tidak ada dia lainnya, yang katamu amat menyakitkan.
Continue reading Hapus

Saya, Jatuh Cinta

Saya harus mengetik tanda koma pada judul di atas karena pada dasarnya saya pun tidak yakin dengan pendapat saya sendiri bahwa saya sedang jatuh cinta. Bukan. Bukan saat ini. Saya bahkan lupa sejak kapan. Yang jelas, jatuh cinta—entah apapun namanya—resmi membuat saya menghilang dari untaian-untaian huruf. Dua puluh empat hari tidak bisa menulis sebenarnya adalah siksaan bagiku. Begitulah. Aku tidak berani menulis karena aku jatuh cinta. Sebuah kenyataan yang sangat berbalik dengan opini publik bahwa jatuh cinta—katanya—bisa meningkatkan produktivitas.

Ah, barangkali itu benar. Jika saja cinta itu tepat. Tepat versi Tuhan—dengan segala penjagaan-Nya.

Anggaplah cerita ini adalah cerita cinta dari seseorang yang menamai dirinya sebagai ‘saya’, entah siapa nama sebenarnya.

Baiklah, kamu mungkin sudah mulai menerka-nerka jatuh cinta macam apa yang sedang pernah kualami beberapa waktu lalu ini. Iya, kamu tepat. Tentu saja saya jatuh cinta kepada seorang lelaki. Jatuh cinta yang teramat diam-diam, walaupun akhirnya gosip-gosip mulai beterbangan karena wajah saya yang tidak dapat menahan rona merah seketika namanya disebut. Semoga ia tak mendengarnya. Saya jatuh cinta hanya karena ia mencintai huruf-huruf yang saya tulis. Saya juga tak yakin apa benar itu alasannya. Toh, apapun alasannya, saya yakin wanita normal pasti mengaguminya. Entahlah, saya tidak tahu sejak kapan. Dia, yang sebenarnya hampir tidak pernah terlibat dalam kehidupan saya, tiba-tiba terasa dekat (hanya terasa). Kenapa tidak dari dulu saat ia pertama kali menyapa kami dengan sapaan “adik-adik”? Kenapa baru sekarang saya baru bisa berpendapat bahwa saya jatuh cinta? Saya juga tidak tahu. Dia, dengan segala diamnya, senyumnya yang kucuri pelan-pelan ketika tak sengaja kita berada dalam satu forum, seperti mampu mengobati luka-luka lama. Saya tahu saya harus beristighfar berkali-kali untuk perasaan yang merajai hati dengan sangat berani ini. Saya bahkan tahu saya tak boleh mengulangi kesalahan yang sama—berharap pada manusia (yang sebenarnya pun bagai pungguk merindukan satelit). Continue reading Saya, Jatuh Cinta

Lelaki dan Pembuktian

Aku tidak pernah jatuh cinta padanya sebelumnya. Bagaimanalah, untuk aku yang pernah jatuh terlalu dalam lalu terperosok hingga patah oleh cinta, definisi cinta menjadi begitu lain bagiku. Cinta yang sebelumnya kudefinisikan sebagai seseorang yang begini begitu, kini tak lagi begitu. Cinta bukan sekadar tentang siapa, tapi bagaimana. Yang kemudian aku percaya pasti, cinta itu adalah pembuktian, keyakinan, serta restu semua pihak. Maka, ketika dia datang, menawarkan pembuktian, aku mulai bertanya-tanya. Lalu Dia menjawab lewat restu-Nya yang begitu terasa dari hati yang yakin, diikuti keyakinan semua orang terdekat. Apakah aku jatuh cinta saat itu? Aku tidak tahu. Sungguh. Bagaimanalah, aku bahkan baru saja mengenalnya. Aku hanya yakin, dialah lelaki yang dijanjikan Tuhan.

Lalu hari demi hari berlalu, hari pembuktian keyakinan aku dan dia semakin dekat. Jatuh cinta? Sungguh aku masih belum tahu. Aku hanya bertemu dengannya sekali, itupun bersama keluarganya. Apakah aku tak pernah ragu? Bohong bila kunyatakan tak pernah. Nyatanya keyakinan itu sempat tergoyah oleh ketidaktahuan. Ya, oleh ketidaktahuanku atas banyak hal dari dirinya. Tapi dia menunjukkan pembuktian keyakinannya lewat kesabaran, bahwa aku dan dia bisa membangun cinta sama-sama. Apakah aku lantas jatuh cinta? Aku belum tahu. Hanya saja, perlahan hatiku mulai tahu, bahwa untuk mencintainya, aku harus mencintai Tuhanku karena Dialah yang sudah mengatur semua cerita yang tak mampu kuelakkan. Maka aku sadar benar, bukan cinta yang memilihnya, tapi Tuhan yang memilihkannya untuk kucintai.

Hingga hari itu pun tiba. Continue reading Lelaki dan Pembuktian

KAMU!

Ajarkanku menjadi naif, senaif rasa ragu dan yakin yang kaubungkus dengan rapi di depanku. Senaif rindumu dan rinduku yang pura-pura tak tahu semua ketidakberdayaanku. Senaif harapan yang masih saja ada di ujung logika cinta. Senaif ketegaranmu yang tinggal menunggu waktu saja untuk lapuk. Ajarkanku menghadapi hatiku. Bagaimanalah? Jika penyebab sakit dan obatnya berada dalam wujud yang sama: KAMU. Iya, Kamu. Sesosok manusia dalam imaji futuristik yang kupunya. Continue reading KAMU!

Ephemera

Aku duduk di balkon, tepat menghadap kawanan mobil yang merayapi Jalan Merdeka setiap malam minggu. Hampir tak ada sela. Angkot-angkot hijau tampak berhenti menunggu penumpang, sementara petugas keamanan menyuruh mereka jalan, menghindari kemacetan yang semakin parah. Aku sejenak menikmati suasana crowdedsenja di kota penuh kenangan ini. Senja yang mataharinya sudah tenggelam sejak beberapa jam lalu. Tersembunyikan oleh hujan deras. Sisa rintiknya bahkan masih membasahi sebagian kursi lain di depanku. Sambil menikmati segelas McFloat Kiwi,  aku masih asyik membuka sebuah buku yang baru saja kubeli dari toko buku di depan restoran cepat saji ini. Bandung, senja, buku, gerimis, entah kenapa selalu menjadi perpaduan yang sempurna buatku.

“Tes, kamu di mana sekarang? Anak-anak lagi pada ngumpul di Bandung. Ikut yuk.” Suara itu langsung saja terdengar begitu aku mengangkat telepon, tanpa assalamualaikum atau sekadar hallo.

“Dikooo, assalamualaikum dulu bisa kali.” Jawabku santai.

“Iye bu haji. Di mana kamu?”

“BIP. McD. Abis beli buku barusan.”

“Oke.” Pip. Telepon mati. Astaga, teman-temanku tidak pernah berubah ternyata. Masih saja ‘tidak jelas’, entah mereka membuat kejutan apalagi sekarang. Empat tahun berlalu sejak perpisahan SMA, sama sekali tak berubah. Kecuali mungkin, hmm..

“Buku apa ini? Suka sekali menutup muka pakai buku. Lagi sedih ya, Neng?”

Eh? Sungguh ini seperti dejavu. Kejadian beberapa tahun lalu, di sekolah, seperti terulang persis. Hanya saja dulu tak ada hujan, tak ada segelas McFloat. Lelaki tinggi itu mengambil Continue reading Ephemera

Undangan

Aku pulang lebih cepat hari ini. Pak Broto, CEO perusahaanku sedang bahagia karena ia ulang tahun. Kabarnya juga, anak perempuan semata wayangnya akan menikah minggu depan. Jadilah ia memberikan special day untuk karyawannya. Masuk sampai jam 12.00 dilanjut dengan acara makan-makan satu kantor. Sebenarnya tadi acara masih panjang. Kabarnya Pak Broto akan memperkenalkan putrinya kepada para karyawannya. Tapi aku tak peduli siapa putrinya. Bisa pulang pukul 14.00 dari kantor di hari Senin adalah kesempatan langka.

“Mas Andro udah pulang?” Andra, adik bungsuku yang masih SMP tampak terkejut begitu Continue reading Undangan

Foto

Ada kebisingan yang memekaki telingaku di ruang ini. Ruang kosong, berdinding putih kusam, dengan cahaya temaram. Tidak ada siapa-siapa di ruang itu, selain aku dan kamu. Oh, bukan,lebih tepatnya, aku dan foto masa kecilmu. Gigimu belum ada di foto itu, karena jika sudah ada, aku yakin mereka pasti akan berjajar rapi menghiasi wajah ceriamu, sebagaimana ciri khas semua fotomu saat kamu tersenyum. Aku lupa usiamu berapa di foto itu—mungkin enam bulan. Aku lupa. Yang aku ingat, kita terakhir bertemu tepat enam tahun yang lalu. Saat setiap cerita berakhir dengan jalan cerita yang sama sekali tak kuinginkan. Hari itu, semua tentangmu sudah tak ada. Kecuali foto ini, yang terselip di bawah pintu, yang mungkin jatuh ketika aku mengemasi semua barangku.

Maka, demi menemukan foto ini lagi, semua hal tentangmu bernyanyi dan bercerita bersahutan, memekaki telingaku. Semua. Dari suaramu yang menenangkan hingga suara Continue reading Foto

Undeniable

Aku bersumpah tidak akan pernah melupakan hari ini. Hari ketika kamu mengucap janji di depan ayahku dan tentu saja di depan Tuhan. Sangat syahdu. Aku menangis ketika bersalaman denganmu. Kamu mengecup keningku lembut untuk pertama kalinya. Hari yang sepuluh tahun lalu pernah kubayangkan dalam mimpiku. Tapi juga hari yang sejak empat tahun lalu tak pernah lagi kuinginkan terjadi.

“Hal apa yang paling kamu hindari di dunia ini?” aku pernah mendapatkan pertanyaan itu dari seorang sahabatku.

Continue reading Undeniable

Ilalang

“Oh ya? Kita satu SMA dong?” kataku antusias sekaligus terkejut.

Perempuan di depanku juga tak kalah antusias, “Iya, pas aku lulus, kamu kayaknya baru masuk jadi siswa baru. Hehehe.”

“Iya, Kakak. Nggak nyangka deh ketemu pejuang satu almameter di sini.”

“Nggak usah panggil Kakak, panggil aja Nimar. Biar nggak berasa tua. Oke?” dia tersenyum sambil mengangkat tangan kanannya, membentuk simbol ‘oke’ dengan membulatkan jempol dan telunjuknya.

Aku tersenyum dan mengikuti gerakan tangannya. Sepertinya, seseorang yang baru kukenal beberapa menit yang lalu ini akan menjadi teman yang menyenangkan. Setidaknya, di antara ratusan wajah yang baru kulihat hari ini, aku yakin Nimar akan menjadi salah satu teman dekat. Ya, aku baru saja mengikuti gathering komunitaswomanpreneur yang diadakan di Bandung. Sengaja sekali datang dari Jakarta dengan niat ingin memperdalam ilmu dan memperluas jaringan.

“Mifa, berarti kamu baru lulus tahun lalu dong?”

“Iya, Kak, eh Nimar, hehe. Masih belajar banget soal bisnis. Duh lebih Continue reading Ilalang