Skip to content

Mencemburu Masa Lalu

Suatu kali saya pernah memiliki pertanyaan, “apakah setiap orang pernah mencemburui masa lalu pasangannya?”. Saya, jujur saja, pernah. Lalu, pikiran saya terbang menuju berbagai situasi lampau di mana seandainya pada masa lalu itu, saya lah yang ada di sebelah pasangan saya, bukan orang lain. Tapi pikiran saya yang lain seperti membunyikan alarm sendiri. Hei, bukankah di masa yang sama yang telah lampau itu, saya pun juga memiliki kisah sendiri? Adil. Bukankah kita dibersamakan sepaket dengan masa lalu, masa kini, dan (semoga) masa depan? Saya terdiam lagi.

Terlepas dari haramnya berandai-andai akan suatu hal yang sudah lampau, saya hanya ingin berbagi sedikit ceracauan saya tentang penerimaan, termasuk dalam menerima masa lalu kita sendiri maupun masa lalu pasangan kita. Karena dalam proses penerimaan itu, terkadang ujian itu datang begitu saja. Ada kecemburuan pada sesuatu yang sebenarnya sudah tidak terjadi lagi. Pikiran kita boleh saja berbisik, “yang lalu biarlah berlalu”, tapi hati yang kosong kadang mudah sekali oleng. Lalu tak berdaya. Saat itulah, saatnya kembali memberdayakan hati, jangan biarkan ia kosong, isi dengan nama Tuhan, karena toh pada akhirnya bisikan pikiran itu benar “masa lalu biarlah berlalu”. Ia adalah zona terjauh jika kita ingin menempuhnya.

Maka alam sadarku sekali lagi mengingatkan, kita tak perlu kembali ke sana. Masa lalu memang ada. Iya, ia ada untuk mengantarkan kita ke masa kini. Karena tentang masa lalu adalah selayaknya jalan yang kalau kita dulu tak melaluinya, barangkali tak ada kita yang sekarang. Tak ada kita yang sebahagia sekarang bersama pasangan kita.

Saya teringat pesan ayah saya, tentang larangan untuk membenci masa lalu. Sekelam apapun ceritanya, masa lalu adalah bagian diri kita.

“Jangan pernah membenci siapapun di masa lalu kalian. Apapun kesalahannya. Sefatal apapun keadaannya. Karena apa yang telah terjadi adalah takdir. Kalaupun dulu kalian pernah terpisah dengan seseorang, itu hanya cara Allah memisahkan, bukan karena kesalahan dia, kamu, atau salah keadaan, tapi karena bukan dia nama yang dijodohkan denganmu di Lauhul Mahfuz. Lalu kenapa kalian pernah dibiarkan seakan-akan hampir bersatu? Itu rahasia Allah. Barangkali, agar kalian belajar banyak hal. Yang jelas, jika sesuatu itu telah terjadi, itu berarti Allah mengizinkan itu terjadi. Dan jelas, tak ada satupun kejadian di dunia ini yang luput dari hikmah.”

Aku terdiam lagi mengenang nasihat itu. Teringat pernah membaca suatu kisah dalam novel metropop yang membahas tentang rumah tangga. Salah satu topik yang dijadikan problem adalah hadirnya orang ketiga yang berusaha merusak hubungan pernikahan mereka. Sang suami yang masih diikuti mantan pacarnya, dan sang istri yang masih diincar banyak lelaki. Sang penulis menceritakan dengan apik bagaimana mereka bersikap menghadapi cobaan itu. Di sisi lain, problem rumah tangga internal pun mengganggu pasangan tersebut. Saling cemburu tak luput menjadi bumbu romansa. Namun di endingnya, diceritakan bahwa sang suami yang lemah lembut akhirnya dengan tegas memblokir semua komunikasi dengan mantannya. Dan sang istri yang sebenarnya akrab dengan banyak lelaki, dengan tegas pula membatasi pergaulannya. Permasalahan mereka pun hanya mereka yang menyelesaikan. Tanpa intervensi pihak manapun.

Dari kisah tersebut saya belajar, bahwa semua masalah dan kekhawatiran dalam berumah tangga sejatinya hanya soal sikap. Begitupun soal masa lalu, semua kembali tergantung bagaimana kita menyikapinya. Mencemburuinya, bagi saya adalah suatu kewajaran. Dengan syarat: tanpa menjadikannya masalah. Ia hanya pelajaran.

Jadi, apakah kamu pun pernah merasakan apa yang saya tanyakan di atas? 😉

Selamat belajar dari masa lalu. Selamat bahagia dengan masa kini. Dan selamat bekerja untuk masa depan.

Rumah,
11 September 2015
11.03 Waktu Bagian Rindu

Published inProsa

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *