Skip to content

Ephemera

Aku duduk di balkon, tepat menghadap kawanan mobil yang merayapi Jalan Merdeka setiap malam minggu. Hampir tak ada sela. Angkot-angkot hijau tampak berhenti menunggu penumpang, sementara petugas keamanan menyuruh mereka jalan, menghindari kemacetan yang semakin parah. Aku sejenak menikmati suasana crowdedsenja di kota penuh kenangan ini. Senja yang mataharinya sudah tenggelam sejak beberapa jam lalu. Tersembunyikan oleh hujan deras. Sisa rintiknya bahkan masih membasahi sebagian kursi lain di depanku. Sambil menikmati segelas McFloat Kiwi,  aku masih asyik membuka sebuah buku yang baru saja kubeli dari toko buku di depan restoran cepat saji ini. Bandung, senja, buku, gerimis, entah kenapa selalu menjadi perpaduan yang sempurna buatku.

“Tes, kamu di mana sekarang? Anak-anak lagi pada ngumpul di Bandung. Ikut yuk.” Suara itu langsung saja terdengar begitu aku mengangkat telepon, tanpa assalamualaikum atau sekadar hallo.

“Dikooo, assalamualaikum dulu bisa kali.” Jawabku santai.

“Iye bu haji. Di mana kamu?”

“BIP. McD. Abis beli buku barusan.”

“Oke.” Pip. Telepon mati. Astaga, teman-temanku tidak pernah berubah ternyata. Masih saja ‘tidak jelas’, entah mereka membuat kejutan apalagi sekarang. Empat tahun berlalu sejak perpisahan SMA, sama sekali tak berubah. Kecuali mungkin, hmm..

“Buku apa ini? Suka sekali menutup muka pakai buku. Lagi sedih ya, Neng?”

Eh? Sungguh ini seperti dejavu. Kejadian beberapa tahun lalu, di sekolah, seperti terulang persis. Hanya saja dulu tak ada hujan, tak ada segelas McFloat. Lelaki tinggi itu mengambil buku yang kubaca dengan seenak hati. Seperti tak bersalah sama sekali. Jelas-jelas buku itu sedang kubaca. Kalau orang itu bukan dia, mungkin sudah kulaporkan dia pada Komnas HAM. Dia melanggar hak asasiku membaca. Oke, sepertinya otakku mulai tidak sinkron. Sayangnya orang itu adalah dia, laki-laki yang satu setengah tahun ini kuhindari.

Dia membuka kacamatanya, meletakkannya bersama buku yang dirampoknya di samping gelas. Lalu tersenyum sejenak menatapku perlahan. Aku mengalihkan pandangan pada hujan. Sengaja sekali memilih diam.

“Kamu pernah bilang, apapun yang terjadi, sahabat tetap sahabat, Tes.” Katanya pelan. Aku masih diam. Kali ini memilih menunduk.

“Satu setengah tahun belum cukup ya untuk kamu mengobati semua luka itu?” katanya lagi.

“Hmm, kamu kapan sampai Bandung? Tahu dari mana aku di sini?” jawabanku sama sekali tidak berhubungan dengan pertanyaannya. Sengaja.

“Kamu bahkan bilang, kita semua adalah sahabat sepanjang masa. Kenapa aku diberi pengecualian? Kamu nggak pernah mencoba melihat masalah kita dari sisi aku ya, Tes?” Tidak nyambung juga jawabannya dengan tanggapanku.

Aku menghela nafas, “setiap orang perlu jeda untuk belajar memahami, dan menerima, Han.”

“Sudah cukup jedanya? Satu setengah tahun bukan waktu yang sebentar, Tes. Dan aku tahu persis kesalahanku. That’s why I just choose silent. Mengikuti aturanmu. Tapi lama-lama aku nggak bisa, Tes. Kita katanya sahabat. Sementara sebentar lagi aku akan… ah sudahlah, kamu sepertinya sudah tak peduli.”

Aku diam saja. Mencoba menanyakan apa yang ditanyakannya pada diriku sendiri. Mencoba mengingat semua sakit yang pernah menyesakkan dadaku. Apakah masih? Kali ini dia juga ikut diam, mungkin menyerah. Mungkin juga tenggelam dalam pikirannya sendiri. Semuanya terasa sepi, diam. Kecuali para pengunjung yang asyik ngobrol, kecuali para muda mudi SMA yang asyik berfoto-foto, kecuali suara alunan lagu yang diputar oleh restoran cepat saji ini.

I do remember hate that came after broken heart

Sadness that make me so helpless

I can fight

I can remember how long it least

I’m sure it went away so freakin fast.

 

Tiba-tiba kami tertawa bersamaan. Tawa magis. Tawa entahlah. Kami tertawa cukup lama sampai kemudian aku akhirnya memulai lagi pembicaraan ini.

“Kamu kenapa tertawa, Han?”

“Kamu sendiri?” ia bertanya balik.

Kami sama-sama meletakkan tangan kanan kami di telinga. Lagu itu kembali terdengar, kali ini lebih kami nikmati.

Far too many emotions that taint my soul before my faith

And often drown in the moment

When in the end

They all ephemera

 

“Ephemera.” Kataku.

“Yeah, ephemera.”

“Aku percaya bangkit dari patah hati adalah sebagian dari iman.”

Well, kamu tidak berubah, Tes,” kali ini dia tersenyum lebih lega, “kamu mau berceracau apa tentang patah hati?”

“Siapa sih yang mau harapannya direnggut begitu saja, Han? Nggak ada. Begitu juga aku saat itu. Bohong kalau aku nggak membenci kamu dan juga dia. Bohong banget. But I can fight. I can remember how long it least. I’m sure it went away so freakin fast. Menerima harapan yang tak terwujud adalah bagian dari rukun iman ke enam, menurutku. Menerima ketentuan-Nya. Dan tentu saja mau belajar dari itu semua.”

“Hmm.. So sorry for that.

“Aku masih mau jadi orang beriman kok, tenang aja. It’s over. Cuma aku nggak mau aja mengulangi kejadian ini. Nggak mau aja lagi menjalani hubungan semacam itu. Cukup jadi pelajaran, Han. Awalnya patah hati sih. Lama-lama aku tahu kenapa Tuhan nggak ngebolehin ada hubungan dekat antara laki-laki dan perempuan selain pernikahan. Dan aku percaya banget konsep cinta sejati nggak akan kita temukan dalam hubungan pacaran atau kakak adek-adekan atau tunggu-tungguan atau sejenisnya lah.”

“Oke. Kamu keras banget ya sekarang?”

“Kalau dalam ilmu komunikasi pemahaman manusia terhadap sesuatu itu dipengaruhi oleh frame of reference dan field of experience. Aku dapet dari dua-duanya. Aku baca buku dan aku mengalaminya, maka pemahamanku tentang hal itu pun berubah perlahan, Han.”

Dia tersenyum. Kuakui senyumnya masih sama. Sama saja meruntuhkan pertahanan kalau aku tidak segera memegang kendali hatiku sendiri.

“Jadi?” katanya kemudian.

“Jadi apa, Han?”

“Udah dimaafkan?”

“Aku bahkan sudah memaafkanmu dari dulu. Aku hanya menerapi diriku sendiri. Maaf.”

“Kok jadi kamu yang minta maaf? Baiklah, sekarang sudah sembuh?”

It just ephemera.” kataku singkat.

“Kapan kamu berbicara dengan makna denotasi, Tes?”

“Hahaha, entahlah. Ya ini semua ephemera, Han. Aku nggak selebay itu. Seperti yang kubilang, aku hanya perlu jeda. Ini semua hanya emosi sesaat. Ya ephemera, nggak ada yang terjadi selamanya. Bahkan mungkin juga tawa kita, pun ephemera.”

I do remember laughter that can make my stomach hurt

With happiness that make it all pretty

Even a dirt

I can remember how long it least

I’m pretty sure it went away so fast

 

“Yeah. Tiga tahun yang kita rasakan amat membahagiakan walaupun tanpa jumpa, jugaephemera ya? Aku seneng kenal sama kamu, Tes.”

“Kamu apaan sih, Han? Oh ya, ada yang belum pernah aku bilang sama kamu ya?”

“Ya?”

“Aku mau bilang terima kasih banget sama kamu. Ini bukan sarkasme ya walaupun aku suka bermajas.  Tapi beneran terima kasih untuk bagian hidup yang aku alami sama kamu. Selain semua mimpi yang pernah kita kejar bersama, semua inspirasi yang pernah kamu beri, aku juga mau bilang terima kasih untuk pelajaran berharga bernama patah hati. Aku belajar banyak sekali dari kejadian itu, Han.”

Dia tersenyum, “kamu selalu berpikir bahwa hati kamu saja yang patah untuk semua kejadian ini,” katanya pelan.

Aku belum menanggapinya ketika Diko, Inez, Agia, Farhan, Finta, dan Mentari tiba-tiba ada begitu saja. Mereka mengambil kursi-kursi kosong dan mendekatkannya pada kami. Aku hanya melongo. Sekarang aku tahu kenapa tiba-tiba Hansa ada di sini.

“Nggak baik berdua lama-lama. Udah baikan kan?” ujar Finta santai sambil mencomotFrench fries.

“Jadi kapan dilamarnya?” celetuk Diko begitu saja. Aku terkejut walaupun aku tahu itu bercanda.

“Apa nunggu Hansa balik dari Jerman?” lanjut Mentari.

“Jerman?” aku akhirnya bertanya.

“Ih kamu nggak pakai prolog dulu ya, Bro?” kata Farhan menyenggol lengan Hansa, “Jadi, Tes, kita sebenarnya nggak mau ikut campur urusan kalian. Tapi Hansa bulan depan berangkat ke Jerman. Nggak lucu banget dia pergi dan kalian belum baikan.”

“Oia? Congrat,Han. Dreams come true, dong ya?” kataku santai.

“Ciye yang masih inget mimpinya.” Celetuk Diko lagi, “kapan dilamar, Bro? Siapa tahu kan sebelum berangkat ada lamaran dulu?”

“Hei, kalian ini ngomong asal banget ya. Kasih kesempatan Hansa ngomong dulu lah.” Kata Inez mencoba bijak.

“Nggak, Tes. Mereka bercanda. Emang kamu mau nunggu aku lagi sepulang dari Jerman?” kata Hansa santai.

“Nggak mau. Ntar kamu kecantol gadis Jerman aku patah hati untuk kedua kalinya.” Kataku santai.

“Pesimis amat, Neng.” Jawabnya santai pula.

“Nggak, Han, bercanda. Biarkan saja semua berjalan, nggak usah saling berharap, bisa jadi besok kita sama-sama menemukan orang yang melengkapi kita. Kita tidak tahu. Aku baik-baik saja dengan semua kehidupanku sejauh ini. Kamu pasti juga begitu.”

“Huuu, nggak jadi lamaran dong?” kali ini Mentari yang protes.

“Aku juga belum siap untuk memulai semuanya, Tes. Sekarang aku yang perlu jeda. Jadi ya, biarkan semua berjalan saja. Aku rela kalau kamu nanti sama orang lain.”

“Aku juga, Han.”

“Tapi lebih lega ya sekarang?” Inez yang dari tadi tampil bijak ikut menengahi, “pun kalau kalian memang ditakdirkan, nggak akan ke mana kok takdir Tuhan mah. Iya nggak, Tes?”

“Haha, Inez kan juga pernah patah hati. Tahu lah ya. Hehe.”

“Iya, Tes. Tahu banget. Siapa tahu besok kamu dilamar orang yang tak kamu duga? Siapa tahu besok Hansa tiba-tiba ngasih undangan. Atau siapa tahu kalian dipertemukan dan nggak bisa menolak. Who knows. Yang penting jangan menutup hati. Objektif aja lah.” Lanjut Inez.

“Ngomong-ngomong yang pasti lah ya, Si Ghandi, master teknik ITS kelas kita yang kemarin exchange ke London, bulan depan balik mau nikah, Guys. Datang ya.” Sela Finta.

“Oh iya?” Diko langsung menimpali, “bule mana?”

“Bule sini aja,” Finta tersenyum.

“Jangan bilang sama kamu, Fin?” tebak Mentari.

Finta mengangguk pelan, disambut teriakan “Woo” dari semuanya.

“Aku pikir kisah friendzone di antara kita cuma kisah rumit Hansa dan Tesla, eh diem-diem ada yang tiba-tiba nikah. Parah lah..” protes Inez, hilang gaya bijaknya.

“Jangankan kalian, aku aja nggak percaya, dua bulan lalu kita chat di facebook, bercanda kayak sama kalian, tiba-tiba dia bilang lagi cari istri, terus tiba-tiba dia nanyain aku.” Kata Finta membela.

“Dan kamu nggak bisa menolak?” selidikku.

Finta mengangguk lagi. Kami tertawa. However the ending will be, friendship must be last forever. Aku bisa melihat senyum lega di bibir Hansa, senyum malu-malu yang disunggingkan Finta, dan tawa renyah dari semuanya. Aku sendirii.. entahlah. Hari ini aku tahu bahwa perasaan sesungguhnya amat bisa kita kendalikan. Hari ini aku hanya ingin bilang bahwa aku sudah bisa menerima Hansa lagi sebagai teman. Teman. Tanpa embel-embel perasaan yang tersembunyi, apalagi sakit hati yang membekas. Ya, kadang kita hanya perlu jeda. Bukan untuk selamanya. Karena ini semua pun sebenarnya hanyaephemera.

Far too many emotions that taint my soul before my faith

And often drown in the moment

When in the end

They all ephemera

Published inCerpen

7 Comments

  1. MUHAMMAD KAHFI MUHAMMAD KAHFI

    mba novi, mba buat cerita bagus kaya gini apakah berdasarkan true story, just write, curcol temen atau apa ?

    apakah mba novi punya tempat khusus untuk menggali pemilihan diksi dan alur yang bagus ?

    terimakasih mbaa

    #temennyaniakahimsayangselalungerpotinakuyangkemanamanabareng

    • ahimsa ahimsa

      Hai, temennya Nia.

      Cerita yg saya tulis berasal dari semuanya. Hehe. Kadang true story, kdg asal nulis, kadang ngekhayal aja, kadang gemes liat apa di jalan, kadang curcol temen. Makanya hati2 kalau curhat sama penulis hahaha.

      Hmm. Nggak ada tempat khusus. Tipsnya adalah banyak membaca dan banyak merasakan. Dan tentu saja banyak menulis. Lama-lama terbiasa. Oh ya, banyak ngekhayal juga :p

      • kahfi kahfi

        saya masih begitu belia mba, membaca juga banyak, hayalan juga tinggi,sering dijadiin tempat curhat juga wkwk tapi masih aja aku cemburu dengan orang orang yang style nulisnya itu bagus banget. apa aku gak bisa menyimpulkan ya ?

      • ahimsa ahimsa

        kalau gitu kamu nulis aaja deh 😀
        bikin blog terus share deh hehe

  2. alifah alifah

    Kakak ….membaca tulisan kakak pengen jdi penulis juga
    Buku apa aja yg udah di terbitkann

    • ahimsa ahimsa

      ikuti terus di sini ya, nanti akan diupdate soal buku 🙂

  3. Erda Erda

    CAKEPPPPPP….
    Jempol banyak …..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *