Skip to content

Lelaki dan Pembuktian

Aku tidak pernah jatuh cinta padanya sebelumnya. Bagaimanalah, untuk aku yang pernah jatuh terlalu dalam lalu terperosok hingga patah oleh cinta, definisi cinta menjadi begitu lain bagiku. Cinta yang sebelumnya kudefinisikan sebagai seseorang yang begini begitu, kini tak lagi begitu. Cinta bukan sekadar tentang siapa, tapi bagaimana. Yang kemudian aku percaya pasti, cinta itu adalah pembuktian, keyakinan, serta restu semua pihak. Maka, ketika dia datang, menawarkan pembuktian, aku mulai bertanya-tanya. Lalu Dia menjawab lewat restu-Nya yang begitu terasa dari hati yang yakin, diikuti keyakinan semua orang terdekat. Apakah aku jatuh cinta saat itu? Aku tidak tahu. Sungguh. Bagaimanalah, aku bahkan baru saja mengenalnya. Aku hanya yakin, dialah lelaki yang dijanjikan Tuhan.

Lalu hari demi hari berlalu, hari pembuktian keyakinan aku dan dia semakin dekat. Jatuh cinta? Sungguh aku masih belum tahu. Aku hanya bertemu dengannya sekali, itupun bersama keluarganya. Apakah aku tak pernah ragu? Bohong bila kunyatakan tak pernah. Nyatanya keyakinan itu sempat tergoyah oleh ketidaktahuan. Ya, oleh ketidaktahuanku atas banyak hal dari dirinya. Tapi dia menunjukkan pembuktian keyakinannya lewat kesabaran, bahwa aku dan dia bisa membangun cinta sama-sama. Apakah aku lantas jatuh cinta? Aku belum tahu. Hanya saja, perlahan hatiku mulai tahu, bahwa untuk mencintainya, aku harus mencintai Tuhanku karena Dialah yang sudah mengatur semua cerita yang tak mampu kuelakkan. Maka aku sadar benar, bukan cinta yang memilihnya, tapi Tuhan yang memilihkannya untuk kucintai.

Hingga hari itu pun tiba.

Qobiltu Nikahaha wa Tazwijaha alal Mahril Madzkuur wa Radhiitu bihi, Wallahu Waliyut Taufiq.

Aku tidak tahu daya magis apa yang tersirat dalam kalimat itu. Tapi setelah dia mengatakannya dengan yakin, ada satu benteng dan ego di hati meruntuh seketika. Disusul oleh tetesan air mata yang mengalir deras. Dia membuktikannya. Dia membuktikannya. Maka, hari itu aku yakin, dialah cinta.

Dan di sinilah awal semua ketidaktahuanku tersingkap. Di sinilah permata dari dirinya yang tak pernah kutahu ditunjukkan Tuhan sedikit demi sedikit. Di sinilah aku sadar, bahwa nyatanya kalimat ijab kabul yang dulu kuanggap pembuktian cinta, ternyata menagih pembuktian yang lebih dalam. Dan permata darinya berkilau menjadi bukti cinta itu.

“Kenapa bibirmu kering sekali? Kamu sariawan ya?”, tanyanya di malam ke-4 pernikahan kita. Masih kaku. Semuanya serba kejutan bagiku. Mungkin juga baginya.
“Tidak apa-apa, memang begini kondisinya.”
“Oh, biasanya diapakan biar sembuh?”
“Dibiarin aja, ntar juga sembuh. Paling mentok aku beliin vitamin C botolan. Biasanya lebih cepat sembuh.”
“Oh..”

Sudah kubilang, kita tak saling tahu banyak sebelumnya, kita hanya yakin banyak. Maka, dengan pertanyaan-pertanyaan semacam itulah kita belajar saling menyelami satu sama lain.

Tidak ada yang diucapkannya setelah ‘oh’ itu. Aku mulai mengerti dia bukan lelaki gombal yang gemar bicara janji. Walaupun nyatanya perempuan tetap saja suka digombali. Nyatanya, malam itu benar-benar tidak ada “wah, kamu minum air putih yang banyak ya.” Atau sekadar “Minum vitamin C yang cukup ya.” Atau bla bla bla kalimat perhatian lainnya. Tak ada. Yang ada adalah esok paginya, ketika aku baru saja membuka mata, dia menyodorkan dua botol vitamin C rasa lemon dan rasa jeruk sambil tersenyum, “nanti diminum ya, biar cepat sembuh.”

Dia tidak tahu, hari itu hatiku berdebar seperti debar hati remaja ketika bertemu cinta diam-diamnya. Apa aku jatuh cinta? Aku masih tidak tahu.

Yang aku tahu, dia kemudian ada dalam setiap langkahku, dalam setiap tindakanku, dalam setiap doa yang kumohonkan, dalam setiap keputusan yang kuambil, juga dalam setiap impianku. Dia ada di mana saja. Dia pun ada ketika raganya tak disampingku. Sungguh, dia menjelma menjadi segalanya. Bahkan, ridlonya kini menjadi tujuan hidupku. Maka, apakah kini aku sudah jatuh cinta?

Barangkali aku memang tidak jatuh cinta, ini bukan tentang aku yang terjatuh olehnya, tetapi tentang dia yang memberdirikan cinta di benteng hatiku. Sekarang aku tahu, dua insan yang menyatu dalam pernikahan, mengikat cinta karena cinta mereka kepada Pemilik Cinta, maka keduanya akan diliputi hati penuh cinta. Bagaimanalah, jika kita benar cinta pada-Nya, kita tahu betul hakikat pernikahan yang disyariatkan-Nya, kita penuhi tugas kewajiban kita dengan segenap hati yang ikhlas dan penuh pengorbanan. Maka,  bagaimana mungkin cinta itu tak tumbuh? Jika cinta adalah tentang memberi, cinta itu tumpah ruah setiap harinya.

“Selalu bersyukur diberi istri shalihah bernama kamu.”

Begitulah pesan yang ia kirim tadi pagi. Yang kontan membuat air mataku menitik tanpa kendali. Bagiku kalimat itu adalah doa, karena kupercaya menjadikanku shalihah adalah usaha dari kita berdua, tak cukup aku saja. Dan dia selalu menjadikanku begitu. Semoga. Semoga benar begitu yang ada dalam aku. Sebagaimana dia yang selalu membuktikan cintanya lewat segala kerja kerasnya.

Rumah,
9 Oktober 2015
17.55

Published inRumah Tangga

4 Comments

  1. Cindy Cindy

    Tidak ada yang paling didambakan dari laki-laki selain pembuktian

    • ahimsa ahimsa

      Sepakat 🙂

  2. Meleleh baca tulisan Mbak :’

  3. andi mappanganro andi mappanganro

    🙂 ya Allah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *