Skip to content

Undangan

Aku pulang lebih cepat hari ini. Pak Broto, CEO perusahaanku sedang bahagia karena ia ulang tahun. Kabarnya juga, anak perempuan semata wayangnya akan menikah minggu depan. Jadilah ia memberikan special day untuk karyawannya. Masuk sampai jam 12.00 dilanjut dengan acara makan-makan satu kantor. Sebenarnya tadi acara masih panjang. Kabarnya Pak Broto akan memperkenalkan putrinya kepada para karyawannya. Tapi aku tak peduli siapa putrinya. Bisa pulang pukul 14.00 dari kantor di hari Senin adalah kesempatan langka.

“Mas Andro udah pulang?” Andra, adik bungsuku yang masih SMP tampak terkejut begitu aku sampai rumah, ekspresi yang kuduga.

“Surprize, Ndra. Haha.” Aku meletakkan tas dan kunci motor di kamar. Tak lama kemudian, menyusul Andra di ruang TV.

“Mau ngapain Mas Andro?”

“Main PS lah. Kapan lagi mumpung pulang cepet?”

Aku pun bisa menebak lagi ekspresi Andra. Ia cepat menarik stick PS.

“Nggak bisa, Mas. Hari ini jatahku! Besok kan aku pulang sore, ada les.”

“Ye, nggak mau tahu, aku malah nggak tahu kapan bisa pulang cepet lagi.” Aku menarik stick PS itu.

“Nggak bisa, Mas. Nggak mau. Ih udah gede masa nggak mau ngalah?”

“Bodo amat.”

“Nggak bisa. Ini kan hadiah ulang tahun dari Ayah buat aku bukan buat Mas Andra.”

“Ih, tapi aku ikut iuran buat belinya,” aku tak mau kalah. Toh, sekali saja. Tak apalah sudah 25 tahun bertengkar sedikit dengan si bungsu.

“Ini punyaku. Mas Andra nanti malem aja. Nanti malem aku ada belajar kelompok soalnya.”

“Nggak bisa, ini punyaku.”

“Heeeh, ribut amat, kenapa sih?” Ibu muncul dari dapur, “Eh Andra udah pulang?”

“Iya, Bu. Si Bos ulang tahun dan anaknya mau nikah, jadi dia happy.

“Oh, ngomongin soal nikahan, Ibu ada undangan nih.”

“Iya, Mas Andra, udah PS ini punyaku aja ya? Tuh, Mas Andra udah punya undangan.”

Aku akhirnya menyerah dan mengikuti Ibu mengambil undangan. Oh Tuhan. Undangan dari Raissa. Seseorang yang amat kucintai sejak SMA. Mantan pacarku yang kuputuskan tiga tahun lalu karena kesalahanku. Aku mencintai perempuan lain. Padahal seminggu lalu aku baru saja bertemu dengannya. Padahal baru saja aku berniat mendekatinya lagi untuk menebus semua kesalahanku dan berniat serius dengannya. Tapi dia sudah akan menikah. Ia akan menikah dengan Raffa, Manager Operational di kantorku. Bagaimana bisa? Oh lihatlah nama ayah Raissa, Harlan Subroto. Bosku. Dan aku baru tahu.

Published inCerpen

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *