Skip to content

Undeniable

Aku bersumpah tidak akan pernah melupakan hari ini. Hari ketika kamu mengucap janji di depan ayahku dan tentu saja di depan Tuhan. Sangat syahdu. Aku menangis ketika bersalaman denganmu. Kamu mengecup keningku lembut untuk pertama kalinya. Hari yang sepuluh tahun lalu pernah kubayangkan dalam mimpiku. Tapi juga hari yang sejak empat tahun lalu tak pernah lagi kuinginkan terjadi.

“Hal apa yang paling kamu hindari di dunia ini?” aku pernah mendapatkan pertanyaan itu dari seorang sahabatku.

“Menikah dengan satu-satunya mantanku,” jawabku mantap saat itu.

“Kenapa?”

“Kita masih bisa bahagia dengan orang lain kan?”

Tapi Tuhan berkata lain. Hari ini, seseorang yang baru saja mengecup keningku itu adalah kamu, sang mantanku satu-satunya. Kamu masih laki-laki yang kusimpan dalam khayalan futuristikku, satu-satunya yang kubiarkan mengobrak-abrik hatiku, termasuk menyakitinya. Parahnya, karena hanya kamulah obat atas sakit yang juga kamu sebabkan itu. Entah bagaimana cerita Tuhan mengatur hati, kita bertemu setelah saling melepaskan. Bertemu untuk berjanji di hadapan-Nya.

It’s undeniable.. that we should be together.

Published inCerpen

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *