Skip to content

Saya, Jatuh Cinta

Saya harus mengetik tanda koma pada judul di atas karena pada dasarnya saya pun tidak yakin dengan pendapat saya sendiri bahwa saya sedang jatuh cinta. Bukan. Bukan saat ini. Saya bahkan lupa sejak kapan. Yang jelas, jatuh cinta—entah apapun namanya—resmi membuat saya menghilang dari untaian-untaian huruf. Dua puluh empat hari tidak bisa menulis sebenarnya adalah siksaan bagiku. Begitulah. Aku tidak berani menulis karena aku jatuh cinta. Sebuah kenyataan yang sangat berbalik dengan opini publik bahwa jatuh cinta—katanya—bisa meningkatkan produktivitas.

Ah, barangkali itu benar. Jika saja cinta itu tepat. Tepat versi Tuhan—dengan segala penjagaan-Nya.

Anggaplah cerita ini adalah cerita cinta dari seseorang yang menamai dirinya sebagai ‘saya’, entah siapa nama sebenarnya.

Baiklah, kamu mungkin sudah mulai menerka-nerka jatuh cinta macam apa yang sedang pernah kualami beberapa waktu lalu ini. Iya, kamu tepat. Tentu saja saya jatuh cinta kepada seorang lelaki. Jatuh cinta yang teramat diam-diam, walaupun akhirnya gosip-gosip mulai beterbangan karena wajah saya yang tidak dapat menahan rona merah seketika namanya disebut. Semoga ia tak mendengarnya. Saya jatuh cinta hanya karena ia mencintai huruf-huruf yang saya tulis. Saya juga tak yakin apa benar itu alasannya. Toh, apapun alasannya, saya yakin wanita normal pasti mengaguminya. Entahlah, saya tidak tahu sejak kapan. Dia, yang sebenarnya hampir tidak pernah terlibat dalam kehidupan saya, tiba-tiba terasa dekat (hanya terasa). Kenapa tidak dari dulu saat ia pertama kali menyapa kami dengan sapaan “adik-adik”? Kenapa baru sekarang saya baru bisa berpendapat bahwa saya jatuh cinta? Saya juga tidak tahu. Dia, dengan segala diamnya, senyumnya yang kucuri pelan-pelan ketika tak sengaja kita berada dalam satu forum, seperti mampu mengobati luka-luka lama. Saya tahu saya harus beristighfar berkali-kali untuk perasaan yang merajai hati dengan sangat berani ini. Saya bahkan tahu saya tak boleh mengulangi kesalahan yang sama—berharap pada manusia (yang sebenarnya pun bagai pungguk merindukan satelit).

Tapi jatuh cinta terkadang membuat kita pilih-pilih pepatah. Yang tepat dijadikan quote, yang tidak dibuang entah ke mana. Jatuh cinta tak peduli bahwa seseorang itu tak mungkin memiliki perasaan yang sama. Tak peduli. Jatuh cinta seperti punya alasan untuk selalu membela diri, bahwa probabilitas akan selalu ada untuk orang yang jatuh cinta. Begitulah. Ia seperti bunga yang terus mekar ketika gerimis membasahi akar-akarnya. Sapaan “ciye” dari teman-teman, pertemuan yang tidak sengaja, bahkan sekadar tanda ‘like’ di facebook atau ‘RT’ di twitter bisa menjadi pupuk mujarab yang menumbuhkan perasaan itu. Ya, jatuh cinta nyatanya mampu meningkatkan daya imajinasi kita. Berimajinasi bahwa dia juga jatuh cinta pada kita. Sehingga, apapun yang dia lakukan, yang sebenarnya amat biasa saja bisa jadi tidak biasa di mata orang yang sedang jatuh cinta. Saya sendiri sebenarnya lebih banyak berimajinasi bahwa dia sama sekali tidak mempunyai perasaan yang sama pada saya.

Ah, kenyataannya, hal-hal kecil yang sebenarnya wajar pun menjadi tidak wajar bagi saya. Di tengah berbagai kesibukan mengejar berbagai deadline, mempunyai perasaan jatuh cinta diam-diam itu terkadang menenteramkan. Hingga ketika kesibukan itu telah usai, saya baru menyadari bahwa namanya memenuhi nurani. Tak peduli dia sama sekali tak tampak di hadapanku. Hanya dia.

Sepi demi sepi. Keikhlasan pun mulai kembali dipertanyakan. Untuk dia atau untuk Allah?

Dan teman terbaik adalah mereka yang membawamu pada jalan yang baik, meskipun itu menyakitkan untukmu. Begitulah. Walaupun banyak “ciye” menemani, saya bersyukur masih punya teman yang marah karena sayang. Ia mengingatkan dengan caranya. Dengan wajah cerianya. Dengan candanya.

Well, bisa jadi perasaanmu justru menjadi penghalang untukmu bertemu dengan jodoh sejatimu,” katanya singkat. Saya diam.

“Bersihkanlah hatimu. Nanti, kalau Tuhan mempertemukanmu dengan jodoh sejatimu, kau bisa melihat semuanya dengan lebih jernih.”

“Aku tidak melarangmu jatuh cinta. Tapi jika jatuh cinta membuatmu terbang, berharap penuh angan, padahal semuanya sebenarnya biasa saja, lebih baik engkau kelola perasaanmu lagi. Tanyakan lagi, apa benar itu jatuh cinta, kagum yang berlebihan, atau apa? Sementara dia yang katanya kaujatuhi cinta sama sekali bukan (belum) jadi siapa-siapamu. Kembalilah. Jangan terbang terlalu tinggi.”

Sudah, sejak dua puluh empat hari yang lalu saya memutuskan untuk diam. Berhenti menulis. Karena begitulah caraku menjauh darinya. Bukankah dari huruf aku merasa jatuh cinta? Maka karena huruf pula aku bisa merenungkannya. Kamu pasti tak percaya, tapi perasaan berbunga-bunga tak karuan itu akhirnya lenyap. Hatipun kembali kosong dari imajinasi-imajinasi itu. Semudah itu. Hanya karena aku mau untuk membersihkan hati dari ingatan-ingatan tentangnya, sebelum terlalu jauh menyusup relung hati. Ya, karena aku mau. Jatuh cinta, sebenarnya amat bisa kaukelola. Membiarkannya ada, atau menjadikannya pelajaran. Biarkanlah ada bahkan terus ada jika komitmen sucimu pada Maha Cinta telah kau ucap bersamanya.

Lalu, bagaimana dengan hati yang kosong? Isilah dengan cinta-Nya. Karena mencintai adalah kata kerja, jika kau tak bisa melakukan apa-apa untuk cintamu, maka diam dan bersabarlah. Tuhan mungkin masih memintamu menyiapkan diri sebelum kau bekerja untuk cinta.

Jatuh cinta. Sejatinya adalah perasaan yang amat wajar—manusiawi. Tetapi mengelolanya adalah pilihan. Saya, hari ini, entah tidak tahu jatuh cinta pada siapa. Tidak ada. Semoga Tuhan menjatuhkan cinta hanya kepada pemilik tulang rusuk yang digunakan untuk menciptakanku.

Rumah

2 April 2014

Published inProsa

8 Comments

  1. Andri Putri Andri Putri

    Lalu, bagaimana dengan hati yang kosong? Isilah dengan cinta-Nya.

    Terima kasih Kak. Menentramkan…

    • ahimsa ahimsa

      Semoga bermanfaat ya 🙂

  2. alfiyah alfiyah

    masya Allah. Sy suka dgn tulisan2 mbak:)
    Salam kenal. Kita mungkin memiliki cerita hampir sama-

  3. Ummu Fatih Ummu Fatih

    Ma saya Allah. Sebagai mahasiswi ini sangat menyejukkan sekali. ana sangat suka gaya penulisan anti, ukhti ahimsa 🙂 barakallahu fiik. Saya tau anti baru2 ini, dan langsung pingin beli ephemera ^^

  4. Fiersa Fiersa

    Terima kasih kak himsa untuk motivasinya, Salam dari saya yang suka dengan tulisan2 kak himsa 🙂

  5. tria tria

    Ijin share kak

  6. masyaallah. menenteramkan sangat, kak. suka dengan cara kak himsa bertutur tulisan. baarakallaah fiikum, kak ^^

  7. wichita abror wichita abror

    Suka dengan gaya tulisannya, ringan dan lembut. Salam kenal ka Ahimsa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *