Skip to content

Hapus

Kamu ragu-ragu melakukannya. Kamu hapus percakapanmu dengannya di ruang maya itu. Ruang berlogo hijau dengan sedikit kombinasi putih, tempatmu biasa bercerita padanya. Ruang yang pernah membuatmu bahagia, juga menangis tidak karuan. Kamu masih ragu untuk sekadar memencet tombol itu lebih lama lalu mengeklik tombol delete. Tapi akhirnya kamu mengekliknya. Menghapusnya. Meniadakan surat-surat pengakuan yang pernah kamu kirim. Mengikis kata demi kata yang merangkai cerita kalian. Membunuh paksa kenangan yang tumbuh di sana. Kamu perlahan yakin menghapusnya adalah pilihan yang tepat. Walaupun sebenarnya kamu tak yakin kenangan itu terhapus pula. Tapi satu hal yang kamu yakini benar, cerita kalian harus diakhiri. Biar harapan saling tumbuh sembunyi-sembunyi, jika benar harapan itu masih ada. Biar kalau waktu mengizinkan kalian bertemu, bukan ruang maya itu tempatnya. Biar kalau kamu dan dia melebur dalam satu cerita, cerita baru yang terwujud. Tidak ada dia lainnya, yang katamu amat menyakitkan.

Ah, bukan, bukan itu. Karena cerita baru adalah saat rindu diam-diam berpadu dengan keberanian dalam ikatan suci. Menghapusnya. Kamu yakin itu pilihan benar. Biar nanti kamu memulai cerita baru, dengan dia yang dipilihkan Tuhan. Siapapun dia.

Published inProsa

One Comment

  1. Komi Komi

    Ini kok kayak cerita aku ya 🙁 dan aku mencoba buat yakin kalau menghapuhsnya adalah pilihan yang tepat 🙁 huaaaaa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *