Skip to content

Menerka Takdir

Kamu diam-diam menangis, mengingat harapan dan kenyataan yang tidak belum egaliter. Lalu, dalam ruang sempit 3,2x 4 meter kamu berdoa, kadang juga mereka-reka bagaimana harapan-harapan itu akan terwujud dalam angan-angan. Jam yang terus berputar seolah tak menjadi petunjuk bahwa malam telah larut. Kamu lebih banyak menggigit udara di antara gigi-gigimu ketika kamu menunggu angan itu tercapai. Dan kenyataannya, lama sekali angan itu tak jua tercapai. Lalu kamu berpikir, ah, sebaiknya tak usah berharap, biarkan angan itu terlelap. Tapi nyatanya, kamu justru terkesiap. Kamu terkesiap oleh rekaanmu sendiri.

Angan yang kamu reka dan takdir yang tak dapat kamu terka, membuatmu tergugu dalam keadaan yang tak kamu duga. Kamu tergugu, karena kamu ingat kamu pernah mempertanyakan di mana tanggung jawab Tuhan atas doa-doa yang kamu panjatkan. Kamu tergugu, karena kamu ingat kamu bahkan sudah menyerah mencapai harapan kamu. Kamu tergugu, karena kamu ingat, nada-nadamu bahkan sudah tak mampu melagu, habis oleh air matamu. Kamu tergugu, karena nyatanya takdir Tuhan terlampaui indah untuk kamu reka dengan anganmu. Nyatanya, kamu tak pernah mampu menerka takdir Tuhan.

Kamu masih terkesiap, ketika harapanmu tiba-tiba menjadi kenyataan dalam suatu waktu yang tak pernah kamu reka. Parahnya, Tuhan yang Mahabaik juga memberi bonus, yang kamu bahkan tak pernah memintanya. Ah, kamu hanya lupa, bahwa Tuhan lebih tahu kapan saat yang tepat untuk tercapainya sebuah harapan. Kamu hanya perlu memahami. Tanpa berhenti berdoa. Tanpa lelah berusaha. Tanpa menyerah untuk memantaskan diri.

Untuk kamu yang percaya, bahwa Tuhan memberi lebih dari sekadar yang kita khayalkan. :’) Semoga kamu mengerti, bahwa tercapainya keinginan bukanlah satu-satunya hal yang bisa mengantarkan kita pada kebahagiaan.

Published inProsa

2 Comments

  1. zhna_sna zhna_sna

    First coment, hehehehe…

    Bener banget mbak,..
    Baca ini jadi berasa berkaca sama diri sendiri, semoga saja slalu dianugerahkan sabar oleh Allah SWT dalam menanti takdir indah-NYA..
    Amien…

    Ditunggu tulisan inspirasi selanjutnya…

    • ahimsa ahimsa

      Aamiin 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *