Skip to content

Month: April 2016

Kamu dan Keberuntungan

Suatu hari kita berbicara tentang keberuntungan dan perjuangan. Banyak hal. Aku bercerita tentang perjuanganku menghadapi masa-masa sulit dalam menyelesaikan pendidikan. Kamu pun begitu. Kamu selingi dengan cerita kesuksesan kawan-kawan dekatmu.

Kemudian kamu tertawa karena menyadari betapa sangat jauh keberuntungan darimu. Ya, keberuntungan yang didefinisikan secara umum.

“Kalau ada lucky draw atau undian berhadiah atau doorprize, aku hampir tidak pernah menang.”

Aku yang saat itu mendengarkanmu bercerita sambil ngepel tertawa dalam hati, “kalau istrimu ini Miss Doorprize, Mas. Harus dapat doorprize dalam acara apapun.” Aku tersenyum mengingat semangatku saat mengikuti suatu seminar. Rajin duduk di depan dan paling semangat saat ikut games atau aktif bertanya pada sesi pertanyaan.

Kemudian kamu tersenyum lagi, aku masih mengepel. “Tapi bukan keberuntungan seperti itu yang diberikan Allah untukku. Ternyata banyak sekali keberuntungan dalam hidupku yang harus disyukuri.”

Aku masih mengepel, kali ini kuhentikan sebentar untuk tersenyum ke arahmu, “Iya, Mas. Kalau kita bersyukur kan kita sedang beruntung?”

Kamu merebahkan dirimu di sofa, dan aku masih mengepel. Itu aturanku, hehehe. Tidak boleh ada kaki menginjak lantai saat aku mengepel sampai lantai kering. Dan kamu tak pernah protes, malah sering tersenyum saat melihatku membawa alat pel. Kamu sadar harus segera angkat kaki dari nikmatnya gelosoran di lantai.

“Mendapatkan kamu adalah keberuntungan besar buat Mas.” Gumammu. Aku sedikit tersentak. Sebenarnya aku deg-degan, tapi menutupinya dengan tertawa. Continue reading Kamu dan Keberuntungan

Menulis dan Patah Hati

“Kak, gimana sih caranya nulis?”
“Kak, kok tulisannya tentang patah hati terus? Pernah mengalami ya?”
“Kak, gimana cara melupakan dia? Saya mau bangkit dari patah hati.”

Tiga pertanyaan di atas sering sekali mampir di kotak masuk saya. Malam ini, saya mau mencoba berbagi tentang itu semua kepada teman-teman tentang jawabannya. Semoga bermanfaat ya 🙂

Baiklah, sebenarnya ketiga jawaban pertanyaan di atas tidak bisa dipisahkan. Saya mulai suka menulis sejak SD, mungkin sejak kelas V ketika guru Bahasa Indonesia saya memberi PR untuk membuat karangan bebas. Karangan saya diapresiasi dengan sangat baik. Sejak itu, entah dapat ilham dari mana, saya tidak lagi menulis kata ‘dokter’ sebagai cita-cita saya. Saya mau jadi penulis. Setiap hari saya mulai rajin menulis diari, terkadang membuat cerita pendek. Sebenarnya, ini tidak lepas dari peran Abah yang selalu mendoktrin saya dengan kalimat, “kamu itu harus rajin baca buku, kalau udah besar, pacarannya sama buku.” Abah sering membelikan buku cerita dan Majalah Bobo. Jadilah saya suka mengkhayal dan mengarang cerita. Cita-cita itu terus saya genggam. Ketika SMP dan SMA, saya aktif di organisasi majalah sekolah. Saya pun memutuskan untuk mengambil jurusan Ilmu Komunikasi yang menurut saya relevan dengan hobi saya. Sejak kuliah inilah, saya tidak lagi menulis diari di buku kecil. Saya mencoba menuliskannya melalui blog wordpress. Dari blogging inilah, saya bertemu dengan banyak penulis lain yang membuat saya semakin semangat untuk mewujudkan impian.

Saya menulis tentang apa saja. Karena, kata para penulis, menulis itu seperti menuangkan air dari teko ke dalam gelas. Jika teko kita ada isinya, maka gelas kita akan terus penuh. Teko itulah inspirasi, yang harus digali. Inspirasi bisa datang dari mana saja, mulai dari membaca (apapun, dari buku sampai status FB), berempati, mengamati, curhatan teman, bahkan perasaan.

Tidak saya pungkiri, perasaan menjadi inspirasi saya untuk menulis. Kata orang, jatuh cinta merupakan energi besar untuk berkarya. Itu tidak bisa disalahkan. Tapi kisah saya sebaliknya. Patah hati justru membuat saya mau tidak mau harus rajin menulis. Karena begitulah saya melakukan terapi hati. Saya menulis apa saja di blog untuk mengingatkan diri sendiri juga berbagi. Bahwa bangkit dari patah hati itu bagian dari iman, yang hukumnya wajib. Bahwa jika kita mengisi hati kita dengan nama Allah, maka kita akan tenang, bagaimana pun manusia membuat hati kita kecewa. Bahwa jatuh cinta dan rindu amat bisa dikelola. Bahwa keikhlasan itu proses sulit tapi harus terus dilakukan. Dan sebagainya. Teman-teman mungkin sudah membaca sebagian besar tulisan itu di sini.

Maka, jika ditanya, bagaimana cara bangkit dari patah hati? Adalah dengan menyibukkan diri, mengingat Allah, dan menghasilkan karya. Tulisan saya inilah buktinya. Apakah patah hati sembuh begitu saja? Tentu saja tidak, ia terus diuji dan diuji. Saya jatuh berkali-kali. Bangkit lagi. Jatuh lagi. Sampai kita benar-benar ikhlas. Ikhlas dengan apapun ketentuan yang diberikan Allah, entah sesuai dengan keinginan atau tidak. Apakah itu mudah? Tentu saja juga tidak. Yang saya lakukan adalah terus berdoa dan berkarya. Setiap satu tunas rindu bermunculan, saya membunuhnya dengan karya-karya. Terus begitu.
Continue reading Menulis dan Patah Hati

Sempurna?

Dalam rentang waktu menahun yang kita punya untuk menjadi jauh, rindu sudah bukan lagi pertanyaan yang perlu jawaban. Namun, jarak mungkin benar mencipta bias bagi kita. Mencipta persepsi dan prejudis yang mungkin kita buat sendiri. Memproduksi molekul-molekul cemburu yang dengan tiba-tiba mengoyak keyakinan. Tapi sungguh, dalam ruang paling steril di palung hati, keyakinan itu masih utuh. Juga doa dan harapan yang masih menggumpal dalam baris alfabet.

Kamu dan aku harusnya tak perlu takut. Bukankah hati kita sama-sama tahu ke mana langkah ingin berpijak? Continue reading Sempurna?

Krisis Percaya Diri

Kemarin, saya bertemu dengan sahabat lama saya. Sejak kenal dia ketika SMA, saya tahu sekali dia punya rasa percaya diri yang tinggi. Cantik, jago olahraga, berprestasi, populer dan tentu saja cerdas. Ah, rasanya lengkap sekali. Tapi, ternyata saya tidak setahu yang saya kira. Dalam pertemuan kemarin—pertemuan pertama setelah hampir empat tahun masa SMA berakhir—dia bercerita banyak hal. Ada satu kalimat dia yang mengusik hati saya, “I have a self confidence crisis.” katanya jujur. Saya hampir tidak percaya.

Tidak perlu saya beberkan bentuk krisis kepercayaan diri seperti apa yang dialami oleh sahabat saya. Yang jelas, saat itu saya berpikir. Bagaimana pun seseorang terlihat sempurna di mata orang lain, seseorang itu tetaplah manusia. Selalu punya alasan untuk merasa kehilangan rasa percaya diri.

Saya kemudian mengingat cerita teman saya yang lainnya. Sama. Saya pun melihatnya sebagai sosok yang sempurna. Seorang gadis cantik, cerdas, berprestasi dan nomor satu di jurusannya. Tapi ia pun teryata sama—pernah memiliki rasa tidak percaya diri. Dan, kalau boleh jujur, tidak usah jauh-jauh, saya pun demikian. Banyak yang mengatakan bahwa seorang Himsa tidak perlu motivasi untuk punya rasa percaya diri. Bahkan banyak pula yang bertanya tips supaya bisa percaya diri. Tidak semanis yang terlihat kok.

Hmm, mungkin karena sesosok Himsa yang terlihat selama ini adalah sosok yang aktif, cerewet, dan terkesan santai di depan umum, sesosok Himsa yang adalah diri saya, tampak begitu percaya diri. Padahal, saya juga sama seperti teman-teman. Sama saja. Saya juga bingung bagaimana caranya menumbuhkan rasa percaya diri. Bahkan, dalam titik tertentu ketika saya down, saya benar-benar tidak bisa mempercayai kemampuan saya—walaupun orang lain mengakuinya. Serius. Sampai suatu ketika, saya menemukan jawabannya. Semoga bisa jadi jawaban untuk siapapun yang pernah bertanya. Continue reading Krisis Percaya Diri

Merayakan Kegagalan

Mungkin, cara paling asyik untuk menikmati kegagalan adalah dengan merayakannya.

Ada orang yang mendapatkan keinginannya dengan sangat mudah. Mulai dari masuk sekolah hingga perguruan tinggi favorit, diterima bekerja di mana saja, bahkan hingga urusan jodoh pun berjalan mulus dengan sangat mudah dan lancar. Ada pula mereka yang harus gagal berkali-kali, jatuh dulu, berdarah-darah dulu hanya untuk sekadar memperoleh impian sederhana mereka–mendapat perguruan tinggi negeri misalnya. Ada pula yang hidupnya biasa saja. Pernah gagal, pernah juga berhasil. Ada yang biasa saja, tak pernah gagal (atau tak pernah punya target yang ingin dicapai?). Atau apalagi? Begitulah dinamika hidup. Anehnya kita (saya) seringkali larut dalam kondisi saling iri.

Mereka yang bisa mendapat semua yang diinginkan dengan mulus akan terus mencari tantangan, justru penasaran kapan ia akan gagal. Ia mencari motivasi terbesar dan ingin tahu rasanya bangkit luar biasa setelah jatuh. Sementara yang berkali-kali dihantui kegagalan akan terus bertanya “kapan akhirnya keberhasilan berteman baik denganku?”. Ada yang terus berusaha. Ada pula yang hanya mampu bertanya lalu menyerah. Kondisi saling berbalik. Entahlah. Apa yang harus direnungkan? Selain tentu saja menyadari bahwa hidup harus terus disyukuri ada di posisi manapun kita. Karena dengan bersyukur kita belajar dan mengambil hikmah. Karena dengan bersyukur kita hidup tenang. Tanpa terus bertanya kapan akan jatuh atau kapan akan berhasil. Karena dengan bersyukur kita terus berusaha bahwa Tuhan selalu punya jawab atas tanya yang Ia titipkan di hati dan pikiran kita. Continue reading Merayakan Kegagalan

Tidak Mencintai Siapa-Siapa

Apakah dalam hidup kita harus mencintai seseorang? Bukan, maksudku bukan orang tua atau sahabat. Tapi cinta kepada seseorang lawan jenis. Cinta yang membuat huruf-hurufmu berjatuhan dalam bait puisi. Cinta yang membuat degupmu kautata agar tak melanggar aturan-Nya. Cinta yang meluruhkan semua keberanianmu ke dalam air mata hanya karena dadamu sesak oleh rindu. Cinta yang membuatmu menggigit sela-sela gigi atas dan bawahmu untuk menahan cemburu yang tak kaukira. Cinta yang membuatmu bermunajat pada-Nya. Atau barangkali cinta yang kausimpan diam-diam, tapi kaudoakan dalam setiap sujudmu. Entahlah bagaimana kamu mendeskripsikannya. Cinta itu membuat jiwamu lebih hidup. Sebagaimana Tuhan bertitah dalam bahasa Cinta surat Ar-Rum: 21, tentang pasangan yang membuat hatimu menjadi tenteram. Apakah setiap orang harus memilikinya? Apakah setiap orang harus merindukan sosoknya? Continue reading Tidak Mencintai Siapa-Siapa

Pamit

Aku pamit.

Kalimat itu sudah diketik, hampir saja dikirim pada sebuah nomor yang selama ini cukup spesial baginya. Tapi kalimat berisi dua kata itu dihapus lagi. Ia justru mematikan handphonenya. Menyimpan di bawah bantal. Kemudian, ia menangis. Menangis pelan namun deras. Tidak ada artinya kata pamit. Semua berawal tanpa kata, selesai pun tanpa kata, pikirnya. Perempuan itu lalu sejenak terdiam, menatap dinding birunya yang mengusam, membaca lembar demi lembar catatannya yang menuliskan semua perasaannya.

Perempuan sembilan belas tahun itu masih menangis.

Tiga tahun lalu, tanpa kata cinta layaknya sepasang muda-mudi menjalin tali asmara, dua orang ini justru saling menjauh, memilih menghindari perasaan mereka, sampai suatu waktu, tabir-tabir tersingkap dan mereka pun tak mampu menutupi lagi apa yang ada di hati mereka. Tidak ada tali apapun yang mengaitkan hati mereka, sungguh tidak ada. Atau kalaupun ada, mungkin tali itu yang disebut orang-orang bernama perasaan. Perempuan itu, tiga tahun menyimpan perasaannya. Bukan waktu yang lama. Sungguh singkat sebenarnya.

Tidak ada yang tahu, tapi sesosok laki-laki yang ia beri nama “Langit” mengerti dan memahami. Sesosok laki-laki itu membuatnya memiliki harapan. Jauh perjalanan mereka. Harapan-harapan itu menggantung dalam doa. Hingga perempuan itu kini mendapati banyak “Langit” yang juga siap memantulkan warna birunya untuknya. Perempuan itu jengah. Bukan ia berhenti mencintai Langitnya, tapi karena ia mengerti satu hal. BELUM SAATNYA MENCINTAI LANGIT. Sungguh belum saatnya. Dan kali ini, ia benar-benar menghayati kalimat itu. Continue reading Pamit

Menemukanmu

Menemukanmu adalah seperti menemukan angka di saat aku berenang di dalam lautan abjad. Menemukanmu adalah seperti bermain di pantai. Aku mencari kerang dan mutiara di sepanjang pasir putih, namun kamu adalah sebentuk mawar biru yang tiba-tiba tumbuh di sana. Menemukanmu adalah sebuah perjalanan berhenti menerka, karena takdir Tuhan terlalu indah untuk diterka. Sekalipun untuk aku yang terlalu banyak menerka.

Menemukanmu adalah sebuah definisi bahagia yang sangat sederhana. Menemukanmu adalah yakin begitu saja tanpa terlalu banyak jika. Menemukanmu adalah seperti perjalanan Hajar mencari air zam-zam, berlari dulu dari Shafa ke Marwa hingga tujuh kali, namun ia ternyata ada begitu dekat. Menemukanmu adalah soal percaya kepastian janji Tuhan. Continue reading Menemukanmu

Tentang Bersabar

Suatu hari, saat menunggu Bus Transjakarta di Shelter GBK, banyak sekali orang yang mengantre. Aku dan seorang teman berada di antara antrean itu. Sampai kemudian tibalah bus yang dinanti. Orang-orang berebut ingin memasuki bus. Namun, ketika tiba giliran kami hendak melangkahkan kaki menuju bus, kami justru tidak boleh masuk. Petugas memberhentikan langkah kami.

“Cukup ya. Di belakang masih ada.” Continue reading Tentang Bersabar