Skip to content

Definisi Bahagia

Saya teringat sebuah pertanyaan. Emang iya ya jadi ibu rumah tangga membahagiakan? Kan ya sayang sekolahnya tinggi-tinggi? Eh tapi, saya tidak akan bahas tentang itu. Ini bukan sekadar jadi ibu rumah tangga atau jadi wanita karir. Ini tentang definisi bahagia setiap orang yang berbeda—yang kita wajib menghormatinya.

Keinginan saya untuk menulis ini dimulai dari surat kaleng seorang sahabat perempuan tentang keputusan hidupnya untuk berbahagia dengan jalannya sendiri. Ia punya cara unik yang ia sebut: mendefinisikan bahagia. Sebagai seorang yang pintar, keinginannya awalnya seperti orang-orang pada umumnya. Kuliah tinggi, aktif di organisasi sebagai bekal untuk meniti karir dan sukses karir di ibukota. Awalnya, begitulah ia mendefinisikan bahagia. Yang pada akhirnya ia sadari, itu adalah definisi bahagia versi orang pada umumnya. Yang sayangnya bukan versi dirinya sendiri.

Tiba-tiba saya dikejutkan oleh pesan whatsapp darinya yang kurang lebih isinya begini:

Himsa, aku mau belajar, jadi dosen aja, nggak jadi kerja di Jakarta, aku mau nanti aku sendiri yang mendidik anak-anakku. Aku mau anak-anakku dapat pemahaman baik tentang hidup dari ibunya sendiri.

Saya kaget. Seorang enerjik itu berubah haluan? Ada apa?

Sebelumnya, ketika ia bercita-cita menjadi wanita karier, saya pun tidak pernah protes, karena saya pikir, hal itulah yang akan membuat hidupnya bahagia. Setiap orang punya pilihannya masing-masing kan? Saya pun mendukungnya, karena saya tahu dia punya potensi besar untuk itu. Dan dia pasti sudah tahu semua konsekuensi atas pilihannya. Jujur, saya pun sempat iri padanya, lebih tepatnya pada kegigihannya berjuang menjadi wanita karir. Saya sudah merasakan Jakarta dan saya tahu persis, jadi wanita karier Jakarta yang mengurus diri sendiri saja tidak mudah, apalagi jika sudah berkeluarga. Saya akui para wanita karir ibukota sudah pasti keren sekali. Mereka adalah perempuan-perempuan tangguh. Tapi pada akhirnya saya melihat diri saya, dan menyadari bahwa itu bukan pilihan yang menjadi jalan hidupku. Karena itulah, saya memutuskan tidak berjuang gigih di jalan itu, tapi menyimpan energi yang saya miliki untuk gigih di ranah yang menjadi tujuan hidup saya—walaupun saya tahu saya pun harus jatuh berkali-kali untuk sampai.

Lalu saya menemukan jawabannya, saya dan teman saya hanya berusaha mendefinisikan bahagia kita masing-masing. Dan kita berusaha mengikuti jalan itu. Untuk apa mengikuti bahagia versi orang jika kita sendiri bahkan—tidak sadar—tidak menginginkannya. Kita hanya ingin tampak bahagia di mata orang banyak, tapi tidak pada diri kita sendiri.

Saya jadi ingat kisah penemuan definisi bahagia yang saya alami. Sebuah pencarian di awal tahun kuliah. Saya, yang saat itu tidak pernah ingin kuliah di kampus saya karena menginginkan kampus kuning di Depok sana, setiap hari hanya mengeluh—ingin pindah kuliah. Saya sadar, rasa menyesal saya sebenarnya karena saya tidak pernah daftar kuliah di kampus itu. Setahun itu, saya murung, menjadi orang yang menyebalkan. Pokoknya yang penting belajar dan dapat IPK tinggi. Bahagia? Tidak sama sekali. Pencarian bahagia itu sampai melalui buku ‘Ayahku Bukan Pembohong’ Tere Liye. Bahwa bahagia adalah pilihan, yang muaranya adalah diri kita sendiri. Tak peduli bagaimana di luar sana, jika kita memiliki hati yang luas, kebahagian itu akan menjadi milik kita.

Sejak itu saya memilih untuk bahagia. Saya menggali apa saja yang saya dapatkan di kampus ini dan apa yang saya dapatkan jika saya di kampus kuning itu. Saya sadar, apa yang saya butuhkan ada di kampus ini. Sampai sekarang saya sudah lulus, sudah tidak terhitung nikmat yang saya dapatkan karena Allah menempatkan saya di sini. Saya bahkan pernah iseng membuat daftar nikmat itu, dan saya tidak mampu meneruskannya—saking banyaknya.

Nah, lalu apa definisi bahagiamu dalam hidupmu? Jangan sampai, kita masuk jurusan A karena jurusan itu dinilai keren orang banyak. Jangan sampai, kita kerja di perusahaan X karena kerja di perusahaan tersebut dianggap keren oleh mayoritas. Jangan sampai, kita memilih berprofesi Z karena profesi tersebut adalah profesi standard sukses versi mayoritas. Jangan sampai sekadar itu. Kita bukan hidup di bayang-bayang mayoritas. Hidup kita akan kita pertanggungjawabkan sendiri. Mayoritas tak akan peduli.

Berbahagialah jadi apapun selama dari hati kita memang bahagia. Orang lain boleh menganggap kita tidak sukses, tapi pastikan diri kita sendiri tahu bahwa kita telah sukses mencapai bahagia itu.

Karena Bahagia Itu Tentang Kita, Bukan Mereka.

Published inInspirasi

4 Comments

  1. Meisyta Puspaningrum Meisyta Puspaningrum

    Menginsipasi banget kak 🙂
    Salam dari Boyolali kak hehe

    • ahimsa ahimsa

      salam 🙂

  2. Assalamu’alaykum, kak Himsa! ^^
    Salam kenal, nama saya Mellan. Masih 16 tahun, heheh:D. Omong-omong saya ingin tahu, dulu kak Himsa pernah sekolah di SMA mana? Terima kasih. 🙂

    • ahimsa ahimsa

      waalaikumsalam. di sma 1 pati 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *