Skip to content

Cinta yang Baru

Di luar sana, banyak kisah cinta tentang penantian berujung pertemuan. Tentang kisah memendam cinta yang terungkap dengan kata saling. Tentang janji yang ditepati. Lalu terjadilah perayaannya. Tapi tidak tentang kita. Kisah penantian kita masing-masing yang dulu kita impikan nyatanya tak sempat menjadi cerita. Aku dengan kisah pilu patah hatiku ditinggalkan. Kamu dengan kisah magis merelakan cinta yang harus kautinggalkan. Kamu dan aku adalah dua orang yang sama-sama tak bisa merengkuh cinta yang kita nanti. Tapi kamu dan aku adalah dua hati yang sama-sama kuat untuk mau kembali berdiri lalu saling mencari. Karena barangkali apa yang dulu kita nanti bukanlah apa yang sejatinya ditulis takdir.

Kamu dan aku (yang saat itu belum menjadi kita) terus mencari tanpa pernah tahu bagaimana akan menemukan. Kamu dan aku terus berharap tanpa punya apa-apa selain doa. Kadang kamu merasa menemukan apa yang kaucari. Kadang aku merasa ditemukan apa yang kunanti. Tapi tak pernah ada kata saling. Lalu entah sinyal apa yang memancar, kamu dan aku justru dipertemukan saat kita berhenti mencari. Kamu dan aku, entah dengan keyakinan dari mana, tak perlu waktu lama untuk mengerti bahwa ini saatnya melebur menjadi kita. Ya, kita adalah dua manusia yang dipertemukan takdir. Barangkali begitu. Kita adalah dua manusia yang sempat dirundung duka oleh kisah pilu masing-masing, lalu melebur saling membangun cinta baru.

Aku tidak mengerti cara kerjanya. Kamu datang begitu saja di saat aku sedang tidak memikirkan apa-apa tentang cinta. Kamu datang saat hatiku baru sembuh dari luka. Aku juga tidak yakin apakah benar sudah sembuh. Yang jelas kedatanganmu membuatku lupa bahwa aku punya luka.

Aku tidak mengerti cara kerjanya. Sebab tak ada apa-apa yang kamu tawarkan dalam perkenalan singkat kita. Tak ada mimpi-mimpi yang kamu gadangkan. Tak ada apapun yang dulu kuimajinasikan. Belum juga ada cinta. Tapi hatiku tidak bisa kukendalikan. Sesaat saja. Ia memilihmu. Lalu, aku menyadari, ternyata kamu itulah mimpi yang kugadangkan.

Kamu, cinta yang baru. Kamu tak pernah sama dengan cerita-cerita yang dulu kuimajikan. Tapi kamu memang bukan imaji. Kamu realita. Realita yang menjelma menjadi cinta. Menjadi janji sekaligus buktinya. Menjadi perjalanan.

Aku mungkin berbeda dengan cinta yang pernah kaupunya sebelum ini. Begitupun kamu yang tak pernah sama dengan apa yang dulu begitu kunanti. Kita tak peduli itu. Karena nyatanya, ketika memilih untuk saling mencintai, memutuskan jalan terbaik untuk membangun cinta, Allah hadir memupuk rasa kasih sayang.

Medan

7 April 2016

01.14

Published inRumah Tangga

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *