Skip to content

Sempurna?

Dalam rentang waktu menahun yang kita punya untuk menjadi jauh, rindu sudah bukan lagi pertanyaan yang perlu jawaban. Namun, jarak mungkin benar mencipta bias bagi kita. Mencipta persepsi dan prejudis yang mungkin kita buat sendiri. Memproduksi molekul-molekul cemburu yang dengan tiba-tiba mengoyak keyakinan. Tapi sungguh, dalam ruang paling steril di palung hati, keyakinan itu masih utuh. Juga doa dan harapan yang masih menggumpal dalam baris alfabet.

Kamu dan aku harusnya tak perlu takut. Bukankah hati kita sama-sama tahu ke mana langkah ingin berpijak?

Maka jika hanya karena aku tampak terlalu sempurna di matamu, itu pastilah bias yang disebabkan oleh jarak. Dan kalaulah bukan bias, kamu jelas lupa bahwa aku tidak akan pernah jadi sempurna tanpa kamu.

Published inProsa

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *