Skip to content

Menulis dan Patah Hati

“Kak, gimana sih caranya nulis?”
“Kak, kok tulisannya tentang patah hati terus? Pernah mengalami ya?”
“Kak, gimana cara melupakan dia? Saya mau bangkit dari patah hati.”

Tiga pertanyaan di atas sering sekali mampir di kotak masuk saya. Malam ini, saya mau mencoba berbagi tentang itu semua kepada teman-teman tentang jawabannya. Semoga bermanfaat ya πŸ™‚

Baiklah, sebenarnya ketiga jawaban pertanyaan di atas tidak bisa dipisahkan. Saya mulai suka menulis sejak SD, mungkin sejak kelas V ketika guru Bahasa Indonesia saya memberi PR untuk membuat karangan bebas. Karangan saya diapresiasi dengan sangat baik. Sejak itu, entah dapat ilham dari mana, saya tidak lagi menulis kata ‘dokter’ sebagai cita-cita saya. Saya mau jadi penulis. Setiap hari saya mulai rajin menulis diari, terkadang membuat cerita pendek. Sebenarnya, ini tidak lepas dari peran Abah yang selalu mendoktrin saya dengan kalimat, “kamu itu harus rajin baca buku, kalau udah besar, pacarannya sama buku.” Abah sering membelikan buku cerita dan Majalah Bobo. Jadilah saya suka mengkhayal dan mengarang cerita. Cita-cita itu terus saya genggam. Ketika SMP dan SMA, saya aktif di organisasi majalah sekolah. Saya pun memutuskan untuk mengambil jurusan Ilmu Komunikasi yang menurut saya relevan dengan hobi saya. Sejak kuliah inilah, saya tidak lagi menulis diari di buku kecil. Saya mencoba menuliskannya melalui blog wordpress. Dari blogging inilah, saya bertemu dengan banyak penulis lain yang membuat saya semakin semangat untuk mewujudkan impian.

Saya menulis tentang apa saja. Karena, kata para penulis, menulis itu seperti menuangkan air dari teko ke dalam gelas. Jika teko kita ada isinya, maka gelas kita akan terus penuh. Teko itulah inspirasi, yang harus digali. Inspirasi bisa datang dari mana saja, mulai dari membaca (apapun, dari buku sampai status FB), berempati, mengamati, curhatan teman, bahkan perasaan.

Tidak saya pungkiri, perasaan menjadi inspirasi saya untuk menulis. Kata orang, jatuh cinta merupakan energi besar untuk berkarya. Itu tidak bisa disalahkan. Tapi kisah saya sebaliknya. Patah hati justru membuat saya mau tidak mau harus rajin menulis. Karena begitulah saya melakukan terapi hati. Saya menulis apa saja di blog untuk mengingatkan diri sendiri juga berbagi. Bahwa bangkit dari patah hati itu bagian dari iman, yang hukumnya wajib. Bahwa jika kita mengisi hati kita dengan nama Allah, maka kita akan tenang, bagaimana pun manusia membuat hati kita kecewa. Bahwa jatuh cinta dan rindu amat bisa dikelola. Bahwa keikhlasan itu proses sulit tapi harus terus dilakukan. Dan sebagainya. Teman-teman mungkin sudah membaca sebagian besar tulisan itu di sini.

Maka, jika ditanya, bagaimana cara bangkit dari patah hati? Adalah dengan menyibukkan diri, mengingat Allah, dan menghasilkan karya. Tulisan saya inilah buktinya. Apakah patah hati sembuh begitu saja? Tentu saja tidak, ia terus diuji dan diuji. Saya jatuh berkali-kali. Bangkit lagi. Jatuh lagi. Sampai kita benar-benar ikhlas. Ikhlas dengan apapun ketentuan yang diberikan Allah, entah sesuai dengan keinginan atau tidak. Apakah itu mudah? Tentu saja juga tidak. Yang saya lakukan adalah terus berdoa dan berkarya. Setiap satu tunas rindu bermunculan, saya membunuhnya dengan karya-karya. Terus begitu.

Hasilnya? Ternyata saya baru menyadari bahwa Allah memberikan kesedihan sepaket dengan kebahagiaannya. Melalui kisah pilu patah hati inilah impian saya memiliki buku sendiri justru terwujud. Dan saya tidak pernah tahu sebelumnya, bahwa buku ini dinikmati dam disukai teman-teman. Mungkin di antara kalian sudah pernah ada yang membaca buku itu. Maka, sungguh, saya berterima kasih atas setiap sakit yang pernah saya rasakan. Atas setiap rindu yang pernah begitu menyesakkan. Saya ikhlas dengan takdir-Nya.

Kabar baiknya, saya benar-benar membuktikan janji Allah. Bahwa jika kita menyerahkan urusan kita kepada-Nya, Dialah yang akan menyelesaikan urusan kita. Urusan patah hati itu saya selesaikan dengan karya-karya dan terus mengingat-Nya.

Benar saja. Dia lalu mengganti apa yang sudah hilang dengan apa yang jauh lebih baik untuk saya. Dengan waktu yang sangat singkat, tanpa pernah saya duga sebelumnya, saya dipertemukan dengan seseorang yang membuat saya lupa tentang semua luka yang pernah saya alami. Proses yang sangat singkat, sederhana, tapi penuh kejutan. Tentu saja, saya tidak mau lagi mengulangi jalinan hubungan tidak jelas macam pacaran, HTS, kakak adekan, dsb. Kami menikah. Nanti akan saya bagi ya kisah pernikahan saya πŸ™‚ Alhamdulillah, setelah bertahun menahan luka, hari ini saya bahagia menjalani peran saya sebagai istri dan ibu sekaligus penulis.

Hari ini, saat menulis ini, saya sudah bisa tertawa mengingat semua kenangan juga sakit yang pernah saya rasakan. Mungkin benar, ketika kita sudah bisa menertawai semua sakit, saat itulah kita sudah ikhlas.

Selamat memperjuangkan keikhlasan. Selamat menikmati takdir-Nya yang pasti indah.

Published inInspirasi

3 Comments

  1. Arf Arf

    Selalu sedang menuju tak pernah lelah untuk sampai

  2. ceritanya menginspirasi sekali… πŸ™‚
    ijin follow blog nya ya..terima kasih

  3. azka fikrina azka fikrina

    kaka salam buat , kak amiq ahimsa :D, terima kasih telah membukakan hati saya pandangan saya penilaian saya tentang perasaan yang kuat, perasaan yang merindu dengan sangat ,terima kasih inspirasinya kak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *