Skip to content

Month: May 2016

Berbicara pada Hati

Suatu ketika, aku duduk sendiri di tengah keramaian. Pergi dari semua hal yang menyesaki pikiranku. Untuk berbicara pada hati. Tentang ia yang begitu sesak. Tentang ia yang basah oleh air mata. Tentang apa-apa yang tak bisa kusampaikan tapi selalu kurasakan. Tentang hati yang terluka.

Maka, aku duduk sendiri. Mendengarkan lagu-lagu  yang setiap liriknya selalu kuhubung-hubungkan dengan kehidupanku. Menarikan jemari di atas tuts-tuts hitam, sekadar untuk melarikkan rasa. Atau sejenak menatap keluar, menyaksikan ibu dan anak yang menikmati segelas ice cream berdua, di tangan mereka terdengar suara seorang lelaki dari sebuah ponsel. Anak kecil itu samar-samar kudengar berteriak, “Ayah, aku diajak Mama beli ice cream loh. Ayah masih di kantor?” Lalu, si ibu tersenyum bahagia. Anak yang beruntung—sepertinya.

Ah, bukankah hidup itu selalu seperti itu? Kita melihat orang lain bahagia, lalu kita merasa betapa hidup kita tak sebahagia ia. Betapa hidup kita dipenuhi luka. Betapa kita ingin seperti dia. Padahal sungguh, kita tak pernah tahu, luka macam apa yang disembunyikan di balik sesimpul senyum. Maka, sungguh. Sungguh bukan kita saja yang dianugerahi luka di hati. Continue reading Berbicara pada Hati