Skip to content

Berbicara pada Hati

Suatu ketika, aku duduk sendiri di tengah keramaian. Pergi dari semua hal yang menyesaki pikiranku. Untuk berbicara pada hati. Tentang ia yang begitu sesak. Tentang ia yang basah oleh air mata. Tentang apa-apa yang tak bisa kusampaikan tapi selalu kurasakan. Tentang hati yang terluka.

Maka, aku duduk sendiri. Mendengarkan lagu-lagu  yang setiap liriknya selalu kuhubung-hubungkan dengan kehidupanku. Menarikan jemari di atas tuts-tuts hitam, sekadar untuk melarikkan rasa. Atau sejenak menatap keluar, menyaksikan ibu dan anak yang menikmati segelas ice cream berdua, di tangan mereka terdengar suara seorang lelaki dari sebuah ponsel. Anak kecil itu samar-samar kudengar berteriak, “Ayah, aku diajak Mama beli ice cream loh. Ayah masih di kantor?” Lalu, si ibu tersenyum bahagia. Anak yang beruntung—sepertinya.

Ah, bukankah hidup itu selalu seperti itu? Kita melihat orang lain bahagia, lalu kita merasa betapa hidup kita tak sebahagia ia. Betapa hidup kita dipenuhi luka. Betapa kita ingin seperti dia. Padahal sungguh, kita tak pernah tahu, luka macam apa yang disembunyikan di balik sesimpul senyum. Maka, sungguh. Sungguh bukan kita saja yang dianugerahi luka di hati.

Bukankah luka di hati adalah tanda bahwa kita sedang belajar? Kita belajar bagaimana mengobatinya. Kita belajar membujuknya untuk tak lagi sakit walau tekanan menumpuki ruang-ruangnya. Kita belajar untuk bernegosiasi dengan apa-apa yang siap menyakitinya. Bahwa bagaimanapun keadaan membuat hati terhimpit, kita masih bisa mengajak hati untuk menjadi lega sebab kita tahu bagaimana cara keluar dari himpitan itu.

Aku masih duduk sendiri. Lalu aku tersenyum.

Masalahku tak akan selesai dengan begini. Kata pikiranku.

Tapi aku tak peduli. Terkadang kita hanya ingin pergi sejenak, bukan untuk pergi dari masalah, tapi untuk menyisakan lagi ruang hati agar tak terlalu sesak. Agar ia kuat lagi menghadapi tumpukan rasa yang siap datang. Entah rasa apa saja.

Maka, wahai hati, bukankah ikhlas itu tak berbatas? Mari terus menjadi luas.

Published inProsa

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *