Skip to content

Month: June 2016

Benci

“Aku benci!”, ia melemparkan lagi sebuah batu ke danau di depannya. Mengagetkan beberapa ekor katak yang tengah tidurlelap di pinggiran danau.

“Apa yang kamu benci?”

“Episode cerita kita di sepertiga akhir tahun ini. Dia. Setengah kamu.”

“Setengah?”

“Setengahnya lagi begitu kucintai.”

“Maaf.”

Perempuan itu hanya tersenyum, sambil menyeka satu bulir air mata yang akhirnya jatuh, padahal dari tadi ia tahan. Laki-laki di belakangnya, yang dari tadi ia kira imaji, yang dari tadi suaranya menjawab teriakannya, berdiri tepat di belakangnya. Itu kamu. Masih dengan tas ranselmu. Masih dengan selembar surat yang kamu genggam. Masih berdiri kaku. Kakimu tak berani melangkah satu jengkal lagi untuk menyejajari perempuan itu. Kamu diam, kemudian mendengarkan ceritanya selanjutnya. Continue reading Benci

Hampa

Kamu tahu rasanya kosong? Seperti kotak itu, tergeletak di sudut ruang yang pernah kuberi nama rindu. Tanpa nama, tanpa cerita, tanpa rasa, tidak juga sakit. Ia hanya kosong.

Kamu tahu rasanya kosong? Berjalan begitu saja. Berlari pelan-pelan. Berhenti ketika harus berhenti. Terduduk di ruangan yang pernah kuberi nama rindu. Sepi. Kosong juga rindu itu. Continue reading Hampa

Senja Memerah

Tadi, senja kembali memerah. Seperti membuka cerita yang dibawa angin. Seperti hendak berkelakar pada teratai di pertengahan danau. Seperti hendak bercerita tentang merahnya luka. Namun juga membariskan lagi harapan-harapan sembunyi.

Tadi, senja memerah lagi. Ia berpesan padaku tentang rindu bulan yang lama tak kujamah. Ah, juga tentang kita yang kupaksa meniada. Ia berkedip memuji aku yang mengaku bisa mengurai kenangan menjadi kekuatan. Ia berbisik tentang di mana rindu selama ini saling sembunyi. Ia bercerita tentang langit yang masih menunggu untuk mempersembahkan malamnya hanya pada bulan. Bukankah begitu janji langit dulu? Senja mengingatkanku bahwa malam yang dinanti bulan itu ada. Senja mengingatkanku pada rasa cemburu bulan yang meluap-luap pada bintang, juga tentang cara langit menenteramkannya. Senja memintaku untuk sekadar menatap bulan malam ini. Continue reading Senja Memerah

Memaafkan dan Mengobati

Pernahkah kau mendengar bahwa memaafkan bukan berarti mengobati? Pernahkan kau merasa baik-baik saja di antara kecamuk hati yang kau sumpal supaya tidak protes? Ya, tentu saja kau pernah mendengarnya. Bisa jadi kau bahkan tengah merasakannya. Sialnya, luka-luka yang kaututup dan kausumpal itu bisa bernanah dan meletus suatu hari. Kau hanya mampu menangis. Lalu kau menyadari bahwa lukamu belum terobati dengan cara ‘memaafkan’. Ya,  aku tahu sekali kau sudah melakukan prosesi memaafkan itu dengan amat tulus. Kau sudah memaafkan apa-apa yang membuatmu sakit. Kau lulus sampai sana. Tapi kau belum sepenuhnya menerima bukan? Sebab itu kau berjalan ke sana ke mari, mencari obat. Lukamu nyatanya kembali menganga ketika angin sekadar menyapa memberi berbagai tanda. Continue reading Memaafkan dan Mengobati

Karena Tuhan Belum Restu

Ada tiga huruf, alfabet empat, lima, dan sebelas, yang biasa kamu gunakan untuk menyapa. Sudah lama tidak terdengar. Biar saja tak terdengar. Ada 20 bungkus cokelat krispi kesukaanku di dalam kresek merahmu. Sudah lama tanganku tak menerima. Biar saja tak terterima. Ada beberapa baris syair tak bernada tapi bernyanyi merdu di pikiranku. Sudah lama tak berbisik. Biar saja tak terbisik. Ada sendu dalam rindu yang mencandu. Sudah lama tak berpadu. Biar saja menjadi tumpukan residu.

Diam-diam, kita mungkin saling bertukar cerita dalam perantara yang tak ada, atau saling meniadakan dalam ada, atau saling menggantung dalam pendulum waktu yang entah kapan terhenti di titik aku dan kamu. Mungkin kamu juga mengatakan, “Biar saja bla bla bla”, lalu tenggelam lagi dalam deru aktivitas. Melupakan soal itu. Atau mungkin kamu sedang bersiap? Bersiap apa? Entahlah, aku bahkan hanya menerka dengan ‘mungkin bla bla bla’ sejak huruf pertama masuk ke paragraf ini. Biar saja tak terterka, sampai kamu memberi jawaban.

Karena mungkin saja, aku juga tak terterka, sampai aku memberi jawaban. Ada beberapa huruf yang berjajar rapi. Apa bunyinya? Biar saja hanya aku dan layar putih ini yang tahu. Ada beberapa bulir yang mengkristal. Kenapa? Biar saja tetesan yang mengendap itu yang tahu.

Biar saja, aku dan kamu sama-sama tak terterka. Continue reading Karena Tuhan Belum Restu