Skip to content

Memaafkan dan Mengobati

Pernahkah kau mendengar bahwa memaafkan bukan berarti mengobati? Pernahkan kau merasa baik-baik saja di antara kecamuk hati yang kau sumpal supaya tidak protes? Ya, tentu saja kau pernah mendengarnya. Bisa jadi kau bahkan tengah merasakannya. Sialnya, luka-luka yang kaututup dan kausumpal itu bisa bernanah dan meletus suatu hari. Kau hanya mampu menangis. Lalu kau menyadari bahwa lukamu belum terobati dengan cara ‘memaafkan’. Ya,  aku tahu sekali kau sudah melakukan prosesi memaafkan itu dengan amat tulus. Kau sudah memaafkan apa-apa yang membuatmu sakit. Kau lulus sampai sana. Tapi kau belum sepenuhnya menerima bukan? Sebab itu kau berjalan ke sana ke mari, mencari obat. Lukamu nyatanya kembali menganga ketika angin sekadar menyapa memberi berbagai tanda.
Kau marah. Tapi tidak tahu pada siapa. Hei, kau bahkan tetap menangis tapi tanpa air mata. Kau menyembunyikannya entah di mana. Apa yang kau lakukan? Kau mencari obat itu pada nasihat-nasihat indah. Masih saja kambuh. Kau mencari obat itu pada apa yang membuatmu sakit. Sempat kautemukan. Tapi nyatanya kau jadi bertambah sering sakit. Kau mengaduh. Kau lupa satu hal. Obat itu sangat dekat bukan?

Dirimu sendiri. Kau belum memaafkan dirimu sendiri. Kau lupa bahwa kau tak pernah bisa menerima semuanya tanpa memaafkan dirimu sendiri.

~ setiap penerimaan perlu proses dan naik turunnya suatu kekuatan dalam diri hanyalah tanda bahwa kau adalah manusia biasa.

Kau hanya perlu berdiri lagi.

Published inProsa

3 Comments

  1. yani nday yani nday

    iya . kembali kediri sendiri :'(

  2. iya.. kita bukan hanya harus memaafkan orang lain,tapi diri sendiri juga :'(

  3. Lily nurharyanti Lily nurharyanti

    Berdiri dan menata diri kembali karna semuanyaa kembali pda diri sendiri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *