Skip to content

Senja Memerah

Tadi, senja kembali memerah. Seperti membuka cerita yang dibawa angin. Seperti hendak berkelakar pada teratai di pertengahan danau. Seperti hendak bercerita tentang merahnya luka. Namun juga membariskan lagi harapan-harapan sembunyi.

Tadi, senja memerah lagi. Ia berpesan padaku tentang rindu bulan yang lama tak kujamah. Ah, juga tentang kita yang kupaksa meniada. Ia berkedip memuji aku yang mengaku bisa mengurai kenangan menjadi kekuatan. Ia berbisik tentang di mana rindu selama ini saling sembunyi. Ia bercerita tentang langit yang masih menunggu untuk mempersembahkan malamnya hanya pada bulan. Bukankah begitu janji langit dulu? Senja mengingatkanku bahwa malam yang dinanti bulan itu ada. Senja mengingatkanku pada rasa cemburu bulan yang meluap-luap pada bintang, juga tentang cara langit menenteramkannya. Senja memintaku untuk sekadar menatap bulan malam ini.

Tapi aku takut. Aku takut. Bahkan aku pun tak berani menjelaskan pada senja tentang rasa takut itu. Kecuali kamu datang, membawa malam yang dijanjikan langit.

Senja memerah itu, entahlah. Ia masih saja memotret ujung penaku dan penamu yang bertemu dalam paduan ilustrasi dan rangkaian huruf penuh rindu.

Salam dari senja.

Entah senja ke berapa kita akan duduk bersama menunggu pertemuan bulan dan langit malam. Aku tak tahu. Bahkan bisa saja tak akan ada waktu itu.

Tapi percayalah, langit malam sejatinya membentang untuk bulan itu. Bukankah hanya bulan yang diizinkan langit untuk membentuk fase yang berbeda di tiap siklusnya?

Purnama akan tiba, tunggu saja. Mungkin ini hanya soal waktu. Atau kekuatan hati.

Nanti mungkin kamu akan menyadari, dengan siapapun kamu duduk menikmati senja sambil menunggu pertemuan langit malam dan bulan, malam masih akan tetap menenteramkan. Sekalipun aku berharap, seseorang di sampingmu itu aku.

Kelak, bila kamu menatap senja memerah, temukan namaku di sana.

Published inProsa

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *