Skip to content

Bias(a)

Mengapa mereka mencintai hujan? Bahkan kamu juga. Apa hujan menyampaikan perih-perih rasa yang tak mampu tersampaikan? Tidak, tentu saja aku tidak membenci hujan. Aku juga mencintai hujan, sama seperti mereka mencintai hujan. Apa kenangan hujan itu selalu manis? Apa rintik hujan itu seperti satu demi satu rintik kenangan yang membuat kita tiba-tiba memiliki rindu?
Saat aku menulis ini, di depanku sama sekali sedang tidak ada hujan. Langit sedang cerah sekali. Tapi, bukankah hujan juga sama seperti cerah? Hujan dan cerah sama-sama ungkapan langit? Hanya saja, aku tidak bisa menemukan ekspresi yang tepat untuk merepresentasikan hujan dan cerah. Apa hujan itu selalu berarti sedih? Apa cerah itu selalu berarti bahagia? Belum tentu.

Mungkin kamu sama sepertiku yang tak mengerti ekspresi langit. Kamu selalu menyangka bahwa hujan itu sendu, kata siapa? Kata siapa cerahnya sinar matahari itu pasti ceria? Kata siapa rintik gerimis itu semuanya menenteramkan? Kebanyakan memang seperti itu, tapi kamu harus ingat, belum tentu. Belum tentu apa yang dilihat dan dianggap ‘biasanya’ itu yang terjadi. Bukankah selalu ada ‘bias’ dalam kata ‘biasa’nya? Mengapa kamu tidak juga berpikir bahwa bisa juga aku menjadi bagian dari bias itu?

Kamu mau tahu bagaimana mengerti ekspresi langit sebenarnya? Kamu mau tahu bagaimana yang kurasakan sebenarnya? Lihat lebih dekat, kamu pasti akan mengerti. Lihat lebih dekat, lebih dekat, lihat lebih dekat. Kamu mungkin akan mengerti. Dan semoga aku selalu berusaha mengerti tanpa meminta untuk dimengerti.

Published inProsa

One Comment

  1. indira indira

    saya sangat suka dengan karyanya , setiap kata katanya menginspirasi saya..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *