Skip to content

Menangis Diam-Diam

Kapan terakhir kali kamu menangis diam-diam? Ketika merindu pada Ibu? Ketika ingin menggenggam tangan Ayah yang kekar? Ketika diam, mengingat kesalahan demi kesalahan pada-Nya? Ketika kesal tiba-tiba menggerogoti hati atas ketidakmengertian orang lain pada kita? Ketika jenuh dengan semuanya? Ketika hati terasa hambar tanpa kita mengerti sebabnya?

Kapan terakhir kali kamu menangis diam-diam? Aku terakhir kali menangis diam-diam, tiga detik yang lalu, ketika aku merasa bersyukur. (Bukan diam-diam lagi, karena akhirnya aku bercerita melalui huruf-huruf ini). Aku merasa bersyukur, diantara rinduku pada Ibu, Allah masih memberinya rasa sabar dalam mendidik anak-anaknya. Aku merasa bersyukur, di antara keinginanku menggenggam tangan Ayah yang kekar, Allah masih memberinya kesehatan untuk menunaikan tanggung jawabnya sebagai ayah. Aku merasa bersyukur, di antara banyaknya kesalahan-kesalahanku yang membuat hati menyesal, Allah masih mengingatkanku atas itu semua, semoga aku bisa belajar dari semua kesalahan itu. Aku merasa bersyukur, di tengah kesal atas ketidakmengertian orang lain padaku, aku masih memiliki mereka, yang mewarnai hari, yang memberikan kebahagiaan jauh lebih besar jika dibandingkan ketidakmengertiannya. Aku merasa bersyukur, di antara jenuh yang mengendap dan perasaan hambar, Allah masih mengizinkanku untuk mengingat-Nya. Diam di hadapan-Nya. Hanya Dia yang mengerti.
Tuhan, izinkan aku menangis diam-diam.
-Ahimsa Azaleav

Published inProsa

One Comment

  1. siti ratnasari siti ratnasari

    salam mbak ahimsa 🙂
    aku juga pernah menangis diam-diam saat aku mulai merindu kepada bapakku yang telah jauh disanah, aku rindu pelukan itu disaat aku msih kecil dulu, aku rindu kasih sayang yang ia berikan dulu padaku :’)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *