Skip to content

Mencari Bahagia

Pernah nggak sih kita mencari sesuatu ke sana ke sana ke mari, ternyata barang itu ada di genggaman atau di saku kita? Misalnya, kita mencari kacamata, ternyata ia ada di saku baju kita. Kita mencari sisir, ternyata ia masih menempel di rambut kita. Padahal kita sudah mencari ke sana ke mari. Menengok setiap sudut, kolong, dan semuanya. Tapi tak ada. Karena ia ada di tubuh kita. Apakah pencarian itu lantas menjadi sia-sia? Tidak sedikit pun. Karena di situlah letak suatu ikhtiyar. Justru kalau kita diam saja, kita pasti akan semakin bingung, di mana barang itu berada. That’s why, kita tetap harus gerak untuk mencari. 

Barangkali begitu juga ketika kita mencari bahagia. Sejatinya ia sudah ada dalam diri kita, tapi karena kita fokus pada hal buruk yang menimpa, kita lupa bersyukur. Hati dipenuhi oleh prasangka buruk pada takdir yang sudah diberi Allah. Bahagia itu pun jadi tak terasa lagi. Padahal ia ada dalam diri kita.

Ah, lalu apakah kamu tidak ingat cerita Hajar dan Ismail bayi yang ditinggal oleh Nabi Ibrahim di padang tandus, tanpa bekal apapun? Hajar saat itu hanya bertanya apakah itu semua perintah Allah. Dan ia tak banyak bicara lagi ketika suaminya mengangguk. Ia hanya tahu, jika Allah sudah menetapkan sesuatu, pasti itu baik untuknya. Ia lalu berusaha, lari bolak-balik dari bukit Shafa ke bukit Marwah, mencari setetes air untuk sang putra yang mulai menangis. Lari lagi, tak peduli ia melewati rute yang sama, dan mata air itu tidak ada. Tapi ia tidak menyerah, yang ia tahu, Allah pasti menolong. Dan ternyata, mata air itu memancar di dekat kakinya, tempat di mana ia berdiri pertama kali. Itulah mata air zamzam yang masyhur itu. Bisa saja, ia mengeluh lalu berkata, “ah, kalau begitu, aku tak perlu berlari-lari.” Tapi tidak bagi Hajar. Ia tahu, jika mata air itu harus di dapatnya melalui sebuah usaha, dan tentu saja prasangka baik kepada Allah.

Barangkali, begitu pulalah perjalanan kita mencari bahagia. Kita diuji dengan banyak hal. Jika kita gusar, kita hanya akan mengeluh dan melupakan hakikat bahwa segala yang Allah berikan adalah yang terbaik untuk kita. Mungkin kita akan jatuh dulu, terpuruk, bersedih, kecewa, ah semuanya. Tak apa. Tapi bangunlah. Bangun dan berlarilah seperti Hajar yang terus berlari walaupun ia tak punya apa-apa selain yakin pada Allah. Berlarilah tapi jangan menghindarinya. Hadapi. Berusahalah. Berdoa, bekerja, berkarya, menyenangkan orang lain walau hanya dengan senyuman, bersyukur, dan banyak hal lainnya yang bisa kita lakukan. Gerak. Lalu juga jangan lupa berprasangka baik pada Allah, pada setiap kejadian yang ada, pada masa lalu, masa kini, dan masa depanmu, maka kamu akan bersyukur dan tahu di mana bahagia itu ada.

#selfreminder

*buat diri sendiri yang masih sering lupa di mana cari bahagia, lalu kebanyakan khawatir dan ngeluh. Takut ini itu. Lupa, kalau Allah udah ngatur semuanya. Dan tugas kita adalah berusaha. Ah..

Medan, 18 Oktober 2017

03.57 WIB

Published inInspirasi

2 Comments

  1. Arf Arf

    Kayak cari jodoh kemana mana, eh ternyata dia. Kayak idam idamkan sekolah dimana, eh disitu juga.
    Ya sudah. Alhamdulillah saja

    • ahimsa ahimsa

      Aku rindu komenmu hihi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *