Skip to content

Category: Inspirasi

Belajar Sabar

Man Shabara Dzafira

Suatu ketika, saya pernah lelah ketika Naya kumat tidak mau makan. Rasanya ffffhhh sesak sekali lihatnya. Tapi ya sudah, tarik nafas, tenang di pojokan mencari ide agar dia mau makan. Sabar menuntut kita untuk kreatif mencari solusi, sehingga kita lupa berkeluh kesah. Dari menawari nasi yang dibulat-bulat, disate, bikin makaroni, makan bareng temennya, dan lain-lain. Tapi ya gitu, masih irit. Tapi lebih baik, setidaknya dia mau makan walaupun sedikit. Ya udah. Ya udah. Saya mencoba melepaskan beban saya dengan pasrah. Nanti kalau lapar, dia pasti minta. Sambil berdoa tentu saja. Sabar. Sabar. Sabar itu kan berusaha dan berserah. Sabar bukan berarti kita tidak boleh kesal, tapi kita tahu cara menyalurkan kesal itu dengan baik. Apalagi menghadapi anak bayi, makin kita rungsing, makin menjauh dia dari harapan kita. Ya udah. Sabar. Lalu, tiba-tiba, Naya memberi kejutan. Saat saya sedang makan, tidak menawarinya, dia justru mengambil alih makanan saya dan makan sendiri dengan lahap. Ah leganyaaaaa. Kalau tadi saya jadi nangis atau marah, pasti menguras energi.

Di sisi lain, sabar juga terkadang tentang tidak menyerah dan terus berusaha. Continue reading Belajar Sabar

Menulis dan Patah Hati

“Kak, gimana sih caranya nulis?”
“Kak, kok tulisannya tentang patah hati terus? Pernah mengalami ya?”
“Kak, gimana cara melupakan dia? Saya mau bangkit dari patah hati.”

Tiga pertanyaan di atas sering sekali mampir di kotak masuk saya. Malam ini, saya mau mencoba berbagi tentang itu semua kepada teman-teman tentang jawabannya. Semoga bermanfaat ya 🙂

Baiklah, sebenarnya ketiga jawaban pertanyaan di atas tidak bisa dipisahkan. Saya mulai suka menulis sejak SD, mungkin sejak kelas V ketika guru Bahasa Indonesia saya memberi PR untuk membuat karangan bebas. Karangan saya diapresiasi dengan sangat baik. Sejak itu, entah dapat ilham dari mana, saya tidak lagi menulis kata ‘dokter’ sebagai cita-cita saya. Saya mau jadi penulis. Setiap hari saya mulai rajin menulis diari, terkadang membuat cerita pendek. Sebenarnya, ini tidak lepas dari peran Abah yang selalu mendoktrin saya dengan kalimat, “kamu itu harus rajin baca buku, kalau udah besar, pacarannya sama buku.” Abah sering membelikan buku cerita dan Majalah Bobo. Jadilah saya suka mengkhayal dan mengarang cerita. Cita-cita itu terus saya genggam. Ketika SMP dan SMA, saya aktif di organisasi majalah sekolah. Saya pun memutuskan untuk mengambil jurusan Ilmu Komunikasi yang menurut saya relevan dengan hobi saya. Sejak kuliah inilah, saya tidak lagi menulis diari di buku kecil. Saya mencoba menuliskannya melalui blog wordpress. Dari blogging inilah, saya bertemu dengan banyak penulis lain yang membuat saya semakin semangat untuk mewujudkan impian.

Saya menulis tentang apa saja. Karena, kata para penulis, menulis itu seperti menuangkan air dari teko ke dalam gelas. Jika teko kita ada isinya, maka gelas kita akan terus penuh. Teko itulah inspirasi, yang harus digali. Inspirasi bisa datang dari mana saja, mulai dari membaca (apapun, dari buku sampai status FB), berempati, mengamati, curhatan teman, bahkan perasaan.

Tidak saya pungkiri, perasaan menjadi inspirasi saya untuk menulis. Kata orang, jatuh cinta merupakan energi besar untuk berkarya. Itu tidak bisa disalahkan. Tapi kisah saya sebaliknya. Patah hati justru membuat saya mau tidak mau harus rajin menulis. Karena begitulah saya melakukan terapi hati. Saya menulis apa saja di blog untuk mengingatkan diri sendiri juga berbagi. Bahwa bangkit dari patah hati itu bagian dari iman, yang hukumnya wajib. Bahwa jika kita mengisi hati kita dengan nama Allah, maka kita akan tenang, bagaimana pun manusia membuat hati kita kecewa. Bahwa jatuh cinta dan rindu amat bisa dikelola. Bahwa keikhlasan itu proses sulit tapi harus terus dilakukan. Dan sebagainya. Teman-teman mungkin sudah membaca sebagian besar tulisan itu di sini.

Maka, jika ditanya, bagaimana cara bangkit dari patah hati? Adalah dengan menyibukkan diri, mengingat Allah, dan menghasilkan karya. Tulisan saya inilah buktinya. Apakah patah hati sembuh begitu saja? Tentu saja tidak, ia terus diuji dan diuji. Saya jatuh berkali-kali. Bangkit lagi. Jatuh lagi. Sampai kita benar-benar ikhlas. Ikhlas dengan apapun ketentuan yang diberikan Allah, entah sesuai dengan keinginan atau tidak. Apakah itu mudah? Tentu saja juga tidak. Yang saya lakukan adalah terus berdoa dan berkarya. Setiap satu tunas rindu bermunculan, saya membunuhnya dengan karya-karya. Terus begitu.
Continue reading Menulis dan Patah Hati

Krisis Percaya Diri

Kemarin, saya bertemu dengan sahabat lama saya. Sejak kenal dia ketika SMA, saya tahu sekali dia punya rasa percaya diri yang tinggi. Cantik, jago olahraga, berprestasi, populer dan tentu saja cerdas. Ah, rasanya lengkap sekali. Tapi, ternyata saya tidak setahu yang saya kira. Dalam pertemuan kemarin—pertemuan pertama setelah hampir empat tahun masa SMA berakhir—dia bercerita banyak hal. Ada satu kalimat dia yang mengusik hati saya, “I have a self confidence crisis.” katanya jujur. Saya hampir tidak percaya.

Tidak perlu saya beberkan bentuk krisis kepercayaan diri seperti apa yang dialami oleh sahabat saya. Yang jelas, saat itu saya berpikir. Bagaimana pun seseorang terlihat sempurna di mata orang lain, seseorang itu tetaplah manusia. Selalu punya alasan untuk merasa kehilangan rasa percaya diri.

Saya kemudian mengingat cerita teman saya yang lainnya. Sama. Saya pun melihatnya sebagai sosok yang sempurna. Seorang gadis cantik, cerdas, berprestasi dan nomor satu di jurusannya. Tapi ia pun teryata sama—pernah memiliki rasa tidak percaya diri. Dan, kalau boleh jujur, tidak usah jauh-jauh, saya pun demikian. Banyak yang mengatakan bahwa seorang Himsa tidak perlu motivasi untuk punya rasa percaya diri. Bahkan banyak pula yang bertanya tips supaya bisa percaya diri. Tidak semanis yang terlihat kok.

Hmm, mungkin karena sesosok Himsa yang terlihat selama ini adalah sosok yang aktif, cerewet, dan terkesan santai di depan umum, sesosok Himsa yang adalah diri saya, tampak begitu percaya diri. Padahal, saya juga sama seperti teman-teman. Sama saja. Saya juga bingung bagaimana caranya menumbuhkan rasa percaya diri. Bahkan, dalam titik tertentu ketika saya down, saya benar-benar tidak bisa mempercayai kemampuan saya—walaupun orang lain mengakuinya. Serius. Sampai suatu ketika, saya menemukan jawabannya. Semoga bisa jadi jawaban untuk siapapun yang pernah bertanya. Continue reading Krisis Percaya Diri

Merayakan Kegagalan

Mungkin, cara paling asyik untuk menikmati kegagalan adalah dengan merayakannya.

Ada orang yang mendapatkan keinginannya dengan sangat mudah. Mulai dari masuk sekolah hingga perguruan tinggi favorit, diterima bekerja di mana saja, bahkan hingga urusan jodoh pun berjalan mulus dengan sangat mudah dan lancar. Ada pula mereka yang harus gagal berkali-kali, jatuh dulu, berdarah-darah dulu hanya untuk sekadar memperoleh impian sederhana mereka–mendapat perguruan tinggi negeri misalnya. Ada pula yang hidupnya biasa saja. Pernah gagal, pernah juga berhasil. Ada yang biasa saja, tak pernah gagal (atau tak pernah punya target yang ingin dicapai?). Atau apalagi? Begitulah dinamika hidup. Anehnya kita (saya) seringkali larut dalam kondisi saling iri.

Mereka yang bisa mendapat semua yang diinginkan dengan mulus akan terus mencari tantangan, justru penasaran kapan ia akan gagal. Ia mencari motivasi terbesar dan ingin tahu rasanya bangkit luar biasa setelah jatuh. Sementara yang berkali-kali dihantui kegagalan akan terus bertanya “kapan akhirnya keberhasilan berteman baik denganku?”. Ada yang terus berusaha. Ada pula yang hanya mampu bertanya lalu menyerah. Kondisi saling berbalik. Entahlah. Apa yang harus direnungkan? Selain tentu saja menyadari bahwa hidup harus terus disyukuri ada di posisi manapun kita. Karena dengan bersyukur kita belajar dan mengambil hikmah. Karena dengan bersyukur kita hidup tenang. Tanpa terus bertanya kapan akan jatuh atau kapan akan berhasil. Karena dengan bersyukur kita terus berusaha bahwa Tuhan selalu punya jawab atas tanya yang Ia titipkan di hati dan pikiran kita. Continue reading Merayakan Kegagalan

Tentang Bersabar

Suatu hari, saat menunggu Bus Transjakarta di Shelter GBK, banyak sekali orang yang mengantre. Aku dan seorang teman berada di antara antrean itu. Sampai kemudian tibalah bus yang dinanti. Orang-orang berebut ingin memasuki bus. Namun, ketika tiba giliran kami hendak melangkahkan kaki menuju bus, kami justru tidak boleh masuk. Petugas memberhentikan langkah kami.

“Cukup ya. Di belakang masih ada.” Continue reading Tentang Bersabar

Definisi Bahagia

Saya teringat sebuah pertanyaan. Emang iya ya jadi ibu rumah tangga membahagiakan? Kan ya sayang sekolahnya tinggi-tinggi? Eh tapi, saya tidak akan bahas tentang itu. Ini bukan sekadar jadi ibu rumah tangga atau jadi wanita karir. Ini tentang definisi bahagia setiap orang yang berbeda—yang kita wajib menghormatinya.

Keinginan saya untuk menulis ini dimulai dari surat kaleng seorang sahabat perempuan tentang keputusan hidupnya untuk berbahagia dengan jalannya sendiri. Ia punya cara unik yang ia sebut: mendefinisikan bahagia. Sebagai seorang yang pintar, keinginannya awalnya seperti orang-orang pada umumnya. Kuliah tinggi, aktif di organisasi sebagai bekal untuk meniti karir dan sukses karir di ibukota. Awalnya, begitulah ia mendefinisikan bahagia. Yang pada akhirnya ia sadari, itu adalah definisi bahagia versi orang pada umumnya. Yang sayangnya bukan versi dirinya sendiri.

Tiba-tiba saya dikejutkan oleh pesan whatsapp darinya yang kurang lebih isinya begini:

Himsa, aku mau belajar, jadi dosen aja, nggak jadi kerja di Jakarta, aku mau nanti aku sendiri yang mendidik anak-anakku. Aku mau anak-anakku dapat pemahaman baik tentang hidup dari ibunya sendiri.

Saya kaget. Seorang enerjik itu berubah haluan? Ada apa? Continue reading Definisi Bahagia