Skip to content

Category: Prosa

MEMAAFKAN DIRI SENDIRI

Ini adalah aku suatu ketika, yang sedang berbicara dengan diriku sendiri. Adalah aku, yang mulai bertanya. Duhai diri, kapankah kamu akan memulai memaafkan dirimu sendiri?

Entah pada episode ke berapa, kamu akan sampai pada titik itu. Kamu masih saja menangis, atau sekadar merutuk. Mencari orang lain untuk kamu jadikan si ‘Yang Bersalah’, agar kamu menjadi korban. Membiarkan orang lain membuatmu begitu tersakiti. Lalu menangis seolah kamu paling menderita. Berharap menjadi sejenak lebih baik setelahnya. Kamu lagi-lagi begitu menikmati peranmu sebagai korban. Hingga kamu tak sadar, lukamu sendiri kamu tutup begitu tebal. Luka yang kamu perbuat pada dirimu sendiri.

Kalau tak ada lagi sesiapa yang bisa kamu salahkan atas air matamu, maka kamu mulai menyalahkan keadaan. Menyalahkan hujan yang harusnya turun menjadi berkah. Menyalahkan matahari yang harusnya menghangatkan jiwamu. Menyalahkan apa saja. Agar kamu tak tampak bersalah. Agar kamulah yang tampak menjadi korbannya. Hingga kamu semakin tak menyadari, lukamu bernanah di balik perban tebal yang kamu bebatkan. Kamu seolah baik-baik saja. Tapi langkahmu berat, jiwamu kosong. Hanya senyummu tersungging seolah kamu yang paling kuat. Ah, bukankah itu sungguh menyesakkan?

Sementara jauh di dalam jiwamu, kamu meronta lalu merintih. Rintihan yang nyaris tak pernah kamu dengar. Continue reading MEMAAFKAN DIRI SENDIRI

Hampa

Kamu tahu rasanya kosong? Seperti kotak itu, tergeletak di sudut ruang yang pernah kuberi nama rindu. Tanpa nama, tanpa cerita, tanpa rasa, tidak juga sakit. Ia hanya kosong.

Kamu tahu rasanya kosong? Berjalan begitu saja. Berlari pelan-pelan. Berhenti ketika harus berhenti. Terduduk di ruangan yang pernah kuberi nama rindu. Sepi. Kosong juga rindu itu. Continue reading Hampa

Senja Memerah

Tadi, senja kembali memerah. Seperti membuka cerita yang dibawa angin. Seperti hendak berkelakar pada teratai di pertengahan danau. Seperti hendak bercerita tentang merahnya luka. Namun juga membariskan lagi harapan-harapan sembunyi.

Tadi, senja memerah lagi. Ia berpesan padaku tentang rindu bulan yang lama tak kujamah. Ah, juga tentang kita yang kupaksa meniada. Ia berkedip memuji aku yang mengaku bisa mengurai kenangan menjadi kekuatan. Ia berbisik tentang di mana rindu selama ini saling sembunyi. Ia bercerita tentang langit yang masih menunggu untuk mempersembahkan malamnya hanya pada bulan. Bukankah begitu janji langit dulu? Senja mengingatkanku bahwa malam yang dinanti bulan itu ada. Senja mengingatkanku pada rasa cemburu bulan yang meluap-luap pada bintang, juga tentang cara langit menenteramkannya. Senja memintaku untuk sekadar menatap bulan malam ini. Continue reading Senja Memerah

Memaafkan dan Mengobati

Pernahkah kau mendengar bahwa memaafkan bukan berarti mengobati? Pernahkan kau merasa baik-baik saja di antara kecamuk hati yang kau sumpal supaya tidak protes? Ya, tentu saja kau pernah mendengarnya. Bisa jadi kau bahkan tengah merasakannya. Sialnya, luka-luka yang kaututup dan kausumpal itu bisa bernanah dan meletus suatu hari. Kau hanya mampu menangis. Lalu kau menyadari bahwa lukamu belum terobati dengan cara ‘memaafkan’. Ya,  aku tahu sekali kau sudah melakukan prosesi memaafkan itu dengan amat tulus. Kau sudah memaafkan apa-apa yang membuatmu sakit. Kau lulus sampai sana. Tapi kau belum sepenuhnya menerima bukan? Sebab itu kau berjalan ke sana ke mari, mencari obat. Lukamu nyatanya kembali menganga ketika angin sekadar menyapa memberi berbagai tanda. Continue reading Memaafkan dan Mengobati

Karena Tuhan Belum Restu

Ada tiga huruf, alfabet empat, lima, dan sebelas, yang biasa kamu gunakan untuk menyapa. Sudah lama tidak terdengar. Biar saja tak terdengar. Ada 20 bungkus cokelat krispi kesukaanku di dalam kresek merahmu. Sudah lama tanganku tak menerima. Biar saja tak terterima. Ada beberapa baris syair tak bernada tapi bernyanyi merdu di pikiranku. Sudah lama tak berbisik. Biar saja tak terbisik. Ada sendu dalam rindu yang mencandu. Sudah lama tak berpadu. Biar saja menjadi tumpukan residu.

Diam-diam, kita mungkin saling bertukar cerita dalam perantara yang tak ada, atau saling meniadakan dalam ada, atau saling menggantung dalam pendulum waktu yang entah kapan terhenti di titik aku dan kamu. Mungkin kamu juga mengatakan, “Biar saja bla bla bla”, lalu tenggelam lagi dalam deru aktivitas. Melupakan soal itu. Atau mungkin kamu sedang bersiap? Bersiap apa? Entahlah, aku bahkan hanya menerka dengan ‘mungkin bla bla bla’ sejak huruf pertama masuk ke paragraf ini. Biar saja tak terterka, sampai kamu memberi jawaban.

Karena mungkin saja, aku juga tak terterka, sampai aku memberi jawaban. Ada beberapa huruf yang berjajar rapi. Apa bunyinya? Biar saja hanya aku dan layar putih ini yang tahu. Ada beberapa bulir yang mengkristal. Kenapa? Biar saja tetesan yang mengendap itu yang tahu.

Biar saja, aku dan kamu sama-sama tak terterka. Continue reading Karena Tuhan Belum Restu

Berbicara pada Hati

Suatu ketika, aku duduk sendiri di tengah keramaian. Pergi dari semua hal yang menyesaki pikiranku. Untuk berbicara pada hati. Tentang ia yang begitu sesak. Tentang ia yang basah oleh air mata. Tentang apa-apa yang tak bisa kusampaikan tapi selalu kurasakan. Tentang hati yang terluka.

Maka, aku duduk sendiri. Mendengarkan lagu-lagu  yang setiap liriknya selalu kuhubung-hubungkan dengan kehidupanku. Menarikan jemari di atas tuts-tuts hitam, sekadar untuk melarikkan rasa. Atau sejenak menatap keluar, menyaksikan ibu dan anak yang menikmati segelas ice cream berdua, di tangan mereka terdengar suara seorang lelaki dari sebuah ponsel. Anak kecil itu samar-samar kudengar berteriak, “Ayah, aku diajak Mama beli ice cream loh. Ayah masih di kantor?” Lalu, si ibu tersenyum bahagia. Anak yang beruntung—sepertinya.

Ah, bukankah hidup itu selalu seperti itu? Kita melihat orang lain bahagia, lalu kita merasa betapa hidup kita tak sebahagia ia. Betapa hidup kita dipenuhi luka. Betapa kita ingin seperti dia. Padahal sungguh, kita tak pernah tahu, luka macam apa yang disembunyikan di balik sesimpul senyum. Maka, sungguh. Sungguh bukan kita saja yang dianugerahi luka di hati. Continue reading Berbicara pada Hati

Sempurna?

Dalam rentang waktu menahun yang kita punya untuk menjadi jauh, rindu sudah bukan lagi pertanyaan yang perlu jawaban. Namun, jarak mungkin benar mencipta bias bagi kita. Mencipta persepsi dan prejudis yang mungkin kita buat sendiri. Memproduksi molekul-molekul cemburu yang dengan tiba-tiba mengoyak keyakinan. Tapi sungguh, dalam ruang paling steril di palung hati, keyakinan itu masih utuh. Juga doa dan harapan yang masih menggumpal dalam baris alfabet.

Kamu dan aku harusnya tak perlu takut. Bukankah hati kita sama-sama tahu ke mana langkah ingin berpijak? Continue reading Sempurna?

Tidak Mencintai Siapa-Siapa

Apakah dalam hidup kita harus mencintai seseorang? Bukan, maksudku bukan orang tua atau sahabat. Tapi cinta kepada seseorang lawan jenis. Cinta yang membuat huruf-hurufmu berjatuhan dalam bait puisi. Cinta yang membuat degupmu kautata agar tak melanggar aturan-Nya. Cinta yang meluruhkan semua keberanianmu ke dalam air mata hanya karena dadamu sesak oleh rindu. Cinta yang membuatmu menggigit sela-sela gigi atas dan bawahmu untuk menahan cemburu yang tak kaukira. Cinta yang membuatmu bermunajat pada-Nya. Atau barangkali cinta yang kausimpan diam-diam, tapi kaudoakan dalam setiap sujudmu. Entahlah bagaimana kamu mendeskripsikannya. Cinta itu membuat jiwamu lebih hidup. Sebagaimana Tuhan bertitah dalam bahasa Cinta surat Ar-Rum: 21, tentang pasangan yang membuat hatimu menjadi tenteram. Apakah setiap orang harus memilikinya? Apakah setiap orang harus merindukan sosoknya? Continue reading Tidak Mencintai Siapa-Siapa