Skip to content

Category: Prosa

Menemukanmu

Menemukanmu adalah seperti menemukan angka di saat aku berenang di dalam lautan abjad. Menemukanmu adalah seperti bermain di pantai. Aku mencari kerang dan mutiara di sepanjang pasir putih, namun kamu adalah sebentuk mawar biru yang tiba-tiba tumbuh di sana. Menemukanmu adalah sebuah perjalanan berhenti menerka, karena takdir Tuhan terlalu indah untuk diterka. Sekalipun untuk aku yang terlalu banyak menerka.

Menemukanmu adalah sebuah definisi bahagia yang sangat sederhana. Menemukanmu adalah yakin begitu saja tanpa terlalu banyak jika. Menemukanmu adalah seperti perjalanan Hajar mencari air zam-zam, berlari dulu dari Shafa ke Marwa hingga tujuh kali, namun ia ternyata ada begitu dekat. Menemukanmu adalah soal percaya kepastian janji Tuhan. Continue reading Menemukanmu

Aku Pernah Cemburu

Aku pernah cemburu pada sebuah kertas yang tahu isi perasaanmu. Setidaknya ia lebih kaupercaya daripada aku. Aku pernah cemburu pada 140 karakter yang hanya bisa kautafsir sendiri. Aku pernah cemburu pada berbagai cerita di sebuah tempat yang aku tak ada di sana. Aku pernah cemburu pada bingkai foto yang melukis tawa lepasmu—sekali lagi, tanpa aku. Aku juga pernah cemburu pada selarik bait yang kautulis diam-diam di samping gambar-gambarmu. Terlebih pada gambar-gambarmu, aku bahkan sangat cemburu.

Aku juga pernah sedemikian cemburu pada… ah, aku bahkan menggigil untuk menulisnya.

Tapi kemudian aku diam, mengapa aku harus cemburu? Dan aku tertunduk menerka-nerka cerita. Melarikkan rasa di atas tuts-tuts hitam, karena aku tidak bisa menggambar sepertimu. Hey, apa kamu juga pernah cemburu pada tuts-tuts ini? Continue reading Aku Pernah Cemburu

Dear, Kamu

Aku tetiba amat merindukanmu. Merindukan sebentuk bola mata yang hanya dengan menatapku lekat seperti mampu menghapus semua sakit. Aku tetiba amat merindukanmu. Merindukan sebentuk bahu bidang yang hanya kusandari seperti mampu membuatku memiliki dunia. Aku tetiba amat merindukanmu. Merindukan sebentuk pesan yang walaupun singkat tanpa rima seperti mampu membuat hati ini terus kuat. Aku tetiba amat merindukanmu. Merindukan sesosok senyum sederhana tapi mampu membuatku mengingat penciptanya. Sayangnya, aku bahkan tak tahu siapa kamu.

Aku, malam ini, akan berbicara sangat absurd. Seabsurd rindu yang tak mengenal pemiliknya. Tapi ia ada. Iya, untukmu. Terserah jika kamu atau siapapun lalu akan melabeliku dengan cap galau, aku tak peduli. Aku mencoba lagi meretas rindu dengan cara ini. Mengabarkanmu betapa ingin aku sekadar menggenggam tanganmu saat ini. Betapa aku teramat takut pada keputusan besar yang sedang kuambil. Lalu biarlah ia bercampur dengan molekul udara. Barangkali kamu membacanya. Kamu yang aku pun tak tahu siapa. Continue reading Dear, Kamu

Menerka Takdir

Kamu diam-diam menangis, mengingat harapan dan kenyataan yang tidak belum egaliter. Lalu, dalam ruang sempit 3,2x 4 meter kamu berdoa, kadang juga mereka-reka bagaimana harapan-harapan itu akan terwujud dalam angan-angan. Jam yang terus berputar seolah tak menjadi petunjuk bahwa malam telah larut. Kamu lebih banyak menggigit udara di antara gigi-gigimu ketika kamu menunggu angan itu tercapai. Dan kenyataannya, lama sekali angan itu tak jua tercapai. Lalu kamu berpikir, ah, sebaiknya tak usah berharap, biarkan angan itu terlelap. Tapi nyatanya, kamu justru terkesiap. Kamu terkesiap oleh rekaanmu sendiri.

Angan yang kamu reka dan takdir yang tak dapat kamu terka, membuatmu tergugu dalam keadaan yang tak kamu duga. Kamu tergugu, karena kamu ingat kamu pernah mempertanyakan di mana tanggung jawab Tuhan atas doa-doa yang kamu panjatkan. Kamu tergugu, karena kamu ingat kamu bahkan sudah menyerah mencapai harapan kamu. Kamu tergugu, karena kamu ingat, nada-nadamu bahkan sudah tak mampu melagu, habis oleh air matamu. Kamu tergugu, karena nyatanya takdir Tuhan terlampaui indah untuk kamu reka dengan anganmu. Nyatanya, kamu tak pernah mampu menerka takdir Tuhan. Continue reading Menerka Takdir

Hapus

Kamu ragu-ragu melakukannya. Kamu hapus percakapanmu dengannya di ruang maya itu. Ruang berlogo hijau dengan sedikit kombinasi putih, tempatmu biasa bercerita padanya. Ruang yang pernah membuatmu bahagia, juga menangis tidak karuan. Kamu masih ragu untuk sekadar memencet tombol itu lebih lama lalu mengeklik tombol delete. Tapi akhirnya kamu mengekliknya. Menghapusnya. Meniadakan surat-surat pengakuan yang pernah kamu kirim. Mengikis kata demi kata yang merangkai cerita kalian. Membunuh paksa kenangan yang tumbuh di sana. Kamu perlahan yakin menghapusnya adalah pilihan yang tepat. Walaupun sebenarnya kamu tak yakin kenangan itu terhapus pula. Tapi satu hal yang kamu yakini benar, cerita kalian harus diakhiri. Biar harapan saling tumbuh sembunyi-sembunyi, jika benar harapan itu masih ada. Biar kalau waktu mengizinkan kalian bertemu, bukan ruang maya itu tempatnya. Biar kalau kamu dan dia melebur dalam satu cerita, cerita baru yang terwujud. Tidak ada dia lainnya, yang katamu amat menyakitkan.
Continue reading Hapus

Saya, Jatuh Cinta

Saya harus mengetik tanda koma pada judul di atas karena pada dasarnya saya pun tidak yakin dengan pendapat saya sendiri bahwa saya sedang jatuh cinta. Bukan. Bukan saat ini. Saya bahkan lupa sejak kapan. Yang jelas, jatuh cinta—entah apapun namanya—resmi membuat saya menghilang dari untaian-untaian huruf. Dua puluh empat hari tidak bisa menulis sebenarnya adalah siksaan bagiku. Begitulah. Aku tidak berani menulis karena aku jatuh cinta. Sebuah kenyataan yang sangat berbalik dengan opini publik bahwa jatuh cinta—katanya—bisa meningkatkan produktivitas.

Ah, barangkali itu benar. Jika saja cinta itu tepat. Tepat versi Tuhan—dengan segala penjagaan-Nya.

Anggaplah cerita ini adalah cerita cinta dari seseorang yang menamai dirinya sebagai ‘saya’, entah siapa nama sebenarnya.

Baiklah, kamu mungkin sudah mulai menerka-nerka jatuh cinta macam apa yang sedang pernah kualami beberapa waktu lalu ini. Iya, kamu tepat. Tentu saja saya jatuh cinta kepada seorang lelaki. Jatuh cinta yang teramat diam-diam, walaupun akhirnya gosip-gosip mulai beterbangan karena wajah saya yang tidak dapat menahan rona merah seketika namanya disebut. Semoga ia tak mendengarnya. Saya jatuh cinta hanya karena ia mencintai huruf-huruf yang saya tulis. Saya juga tak yakin apa benar itu alasannya. Toh, apapun alasannya, saya yakin wanita normal pasti mengaguminya. Entahlah, saya tidak tahu sejak kapan. Dia, yang sebenarnya hampir tidak pernah terlibat dalam kehidupan saya, tiba-tiba terasa dekat (hanya terasa). Kenapa tidak dari dulu saat ia pertama kali menyapa kami dengan sapaan “adik-adik”? Kenapa baru sekarang saya baru bisa berpendapat bahwa saya jatuh cinta? Saya juga tidak tahu. Dia, dengan segala diamnya, senyumnya yang kucuri pelan-pelan ketika tak sengaja kita berada dalam satu forum, seperti mampu mengobati luka-luka lama. Saya tahu saya harus beristighfar berkali-kali untuk perasaan yang merajai hati dengan sangat berani ini. Saya bahkan tahu saya tak boleh mengulangi kesalahan yang sama—berharap pada manusia (yang sebenarnya pun bagai pungguk merindukan satelit). Continue reading Saya, Jatuh Cinta

KAMU!

Ajarkanku menjadi naif, senaif rasa ragu dan yakin yang kaubungkus dengan rapi di depanku. Senaif rindumu dan rinduku yang pura-pura tak tahu semua ketidakberdayaanku. Senaif harapan yang masih saja ada di ujung logika cinta. Senaif ketegaranmu yang tinggal menunggu waktu saja untuk lapuk. Ajarkanku menghadapi hatiku. Bagaimanalah? Jika penyebab sakit dan obatnya berada dalam wujud yang sama: KAMU. Iya, Kamu. Sesosok manusia dalam imaji futuristik yang kupunya. Continue reading KAMU!

Mencemburu Masa Lalu

Suatu kali saya pernah memiliki pertanyaan, “apakah setiap orang pernah mencemburui masa lalu pasangannya?”. Saya, jujur saja, pernah. Lalu, pikiran saya terbang menuju berbagai situasi lampau di mana seandainya pada masa lalu itu, saya lah yang ada di sebelah pasangan saya, bukan orang lain. Tapi pikiran saya yang lain seperti membunyikan alarm sendiri. Hei, bukankah di masa yang sama yang telah lampau itu, saya pun juga memiliki kisah sendiri? Adil. Bukankah kita dibersamakan sepaket dengan masa lalu, masa kini, dan (semoga) masa depan? Saya terdiam lagi.

Terlepas dari haramnya berandai-andai akan suatu hal yang sudah lampau, saya hanya ingin berbagi sedikit ceracauan saya tentang penerimaan, termasuk dalam menerima masa lalu kita sendiri maupun masa lalu pasangan kita. Karena dalam proses penerimaan itu, terkadang ujian itu datang begitu saja. Ada kecemburuan pada Continue reading Mencemburu Masa Lalu

Mengenalmu

Kamu dan aku adalah dua manusia asing yang lalu dipertemukan dengan keyakinan yang menghujam. Bahwa kamulah yang ridlonya kelak akan mengantarku ke surga. Bahwa akulah awak kapal yang akan kaunahkodai dalam samudera hidupmu. Begitu saja.

Kamu dan aku adalah dua manusia asing yang dipertemukan dengan keyakinan yang entah begitu saja. Cinta? Entah pula. Bagaimanalah. Jika cinta adalah mengenal, maka sekali lagi, kita adalah dua manusia asing.

Namun, percayalah, apalah arti keterasingan itu, jika Allah menjadi tujuan. Bukankah tak ada yang Continue reading Mengenalmu