Skip to content

Category: Rumah Tangga

Naya dan Toilet Training

Hai, I’m  back. Kali ini cerita perjalanan sebagai emak-emak. Hehe. Sebelumnya, ini hanya cerita ya. Sekalian kemarin mencatat perkembangan Naya sejak toilet training. Saya banyak belajar dari tulisan ibu-ibu di blog tentang proses toilet training anaknya. Then, saya juga jadi semangat ikut nulis juga. Mungkin ada emak-emak yang jadi semangat ngajarin anaknya TT setelah baca ini. Aamiin.

Awalnya, saya mau memulai toilet training sejak Naya usia 16 bulan. Pertimbangan saya, saat itu dia sudah bisa bilang pipis ketika sedang di kamar mandi dan menunjuk popoknya dengan sebutan ‘pipis’. Tapi rencana itu mundur karena kita sekeluarga masih mobile bolak-balik sana-sini sampai Naya 18 bulan. Nah, pas usia 18 bulan, saya akhirnya bismillah memutuskan Naya akan mulai toilet training. Tapi waktu itu, sejujurnya saya belum terlalu siap. Masih banyak peer ini itu, masih melakukan perjalanan jauh, dll. Jadi saya tidak konsisten. Kadang pakai popok, kadang tidak. Lihat ompol di mana-mana rasanya puyeng. Haha. Jadi ya, sesuka hati saya aja. Apalagi pas pulang kampung lebaran kemarin, bubar. Hehe. Popok masih menggoda emak. Akhirnya, pelajaran inti dari toilet training pun tidak sampai ke Naya. Dia lebih sering pipis duluan, baru bilang pipis. Nah, setelah pulang dari lebaran, saya memutuskan untuk di rumah saja, saya mau kembali fokus memulai toilet training untuk Naya. Kali ini bekal saya insyaAllah juga lebih siap.

Nah, sebelumnya, sambil ngilangin capek pasca mudik, saya memulai baca lagi beberapa metode toilet training. Dari apa yang saya baca, ternyata toilet training itu tidak hanya membutuhkan kesiapan anaknya, tapi juga ibunya. Jangan sampai toilet training dilakukan saat pindah-pindah tempat tinggal, atau saat si anak punya adek baru, atau saat si ibu sibuk, dll. Karena, inti dari toilet training ini adalah kedisiplinan, kesabaran, konsistensi, dan fokus. Jadi, sebisa mungkin lakukanlah dengan bahagia tanpa ada tekanan bagi anak maupun ibunya. Fiuh, setelah menjalani, pantesan ya lulus toilet training jadi salah satu indikator kemandirian anak, karena prosesnya wow banget.

Maka, setelah berbagai urusan beres dan hati siap, bismillaah, 8 Agustus 2017 kemarin, saya mantap memulai lagi toilet training untuk Naya. Kali ini, saya udah bahagia lihat ompol di mana-mana dan ngepel berkali-kali. Udah rela kalau seprei harus basah dan rajin-rajin nyuci. Udah siap kalau harus lebih sering ganti baju karena tertempel ompol. Udah lebih tahan untuk konsisten nggak pakaikan Naya popok, meskipun saya capek. Kali ini tidak boleh lepas pakai lagi. Pelajarannya harus sampai. Karena itu semua, hati pun tenang menjalaninya. Sepanjang yang saya baca, kalau kita konsisten dan disiplin, serta semuanya siap, nggak lepas pakai popok, insyaAllah prosesnya lebih cepat.

Berikut catatan perjalanan toilet training Naya sejak resmi saya mulai lagi. Usia Naya 21 bulan kurang 3 hari ketika saya memulai TT. Continue reading Naya dan Toilet Training

Kamu dan Keberuntungan

Suatu hari kita berbicara tentang keberuntungan dan perjuangan. Banyak hal. Aku bercerita tentang perjuanganku menghadapi masa-masa sulit dalam menyelesaikan pendidikan. Kamu pun begitu. Kamu selingi dengan cerita kesuksesan kawan-kawan dekatmu.

Kemudian kamu tertawa karena menyadari betapa sangat jauh keberuntungan darimu. Ya, keberuntungan yang didefinisikan secara umum.

“Kalau ada lucky draw atau undian berhadiah atau doorprize, aku hampir tidak pernah menang.”

Aku yang saat itu mendengarkanmu bercerita sambil ngepel tertawa dalam hati, “kalau istrimu ini Miss Doorprize, Mas. Harus dapat doorprize dalam acara apapun.” Aku tersenyum mengingat semangatku saat mengikuti suatu seminar. Rajin duduk di depan dan paling semangat saat ikut games atau aktif bertanya pada sesi pertanyaan.

Kemudian kamu tersenyum lagi, aku masih mengepel. “Tapi bukan keberuntungan seperti itu yang diberikan Allah untukku. Ternyata banyak sekali keberuntungan dalam hidupku yang harus disyukuri.”

Aku masih mengepel, kali ini kuhentikan sebentar untuk tersenyum ke arahmu, “Iya, Mas. Kalau kita bersyukur kan kita sedang beruntung?”

Kamu merebahkan dirimu di sofa, dan aku masih mengepel. Itu aturanku, hehehe. Tidak boleh ada kaki menginjak lantai saat aku mengepel sampai lantai kering. Dan kamu tak pernah protes, malah sering tersenyum saat melihatku membawa alat pel. Kamu sadar harus segera angkat kaki dari nikmatnya gelosoran di lantai.

“Mendapatkan kamu adalah keberuntungan besar buat Mas.” Gumammu. Aku sedikit tersentak. Sebenarnya aku deg-degan, tapi menutupinya dengan tertawa. Continue reading Kamu dan Keberuntungan

Lelaki dan Pembuktian

Aku tidak pernah jatuh cinta padanya sebelumnya. Bagaimanalah, untuk aku yang pernah jatuh terlalu dalam lalu terperosok hingga patah oleh cinta, definisi cinta menjadi begitu lain bagiku. Cinta yang sebelumnya kudefinisikan sebagai seseorang yang begini begitu, kini tak lagi begitu. Cinta bukan sekadar tentang siapa, tapi bagaimana. Yang kemudian aku percaya pasti, cinta itu adalah pembuktian, keyakinan, serta restu semua pihak. Maka, ketika dia datang, menawarkan pembuktian, aku mulai bertanya-tanya. Lalu Dia menjawab lewat restu-Nya yang begitu terasa dari hati yang yakin, diikuti keyakinan semua orang terdekat. Apakah aku jatuh cinta saat itu? Aku tidak tahu. Sungguh. Bagaimanalah, aku bahkan baru saja mengenalnya. Aku hanya yakin, dialah lelaki yang dijanjikan Tuhan.

Lalu hari demi hari berlalu, hari pembuktian keyakinan aku dan dia semakin dekat. Jatuh cinta? Sungguh aku masih belum tahu. Aku hanya bertemu dengannya sekali, itupun bersama keluarganya. Apakah aku tak pernah ragu? Bohong bila kunyatakan tak pernah. Nyatanya keyakinan itu sempat tergoyah oleh ketidaktahuan. Ya, oleh ketidaktahuanku atas banyak hal dari dirinya. Tapi dia menunjukkan pembuktian keyakinannya lewat kesabaran, bahwa aku dan dia bisa membangun cinta sama-sama. Apakah aku lantas jatuh cinta? Aku belum tahu. Hanya saja, perlahan hatiku mulai tahu, bahwa untuk mencintainya, aku harus mencintai Tuhanku karena Dialah yang sudah mengatur semua cerita yang tak mampu kuelakkan. Maka aku sadar benar, bukan cinta yang memilihnya, tapi Tuhan yang memilihkannya untuk kucintai.

Hingga hari itu pun tiba. Continue reading Lelaki dan Pembuktian

Mengenalmu

Kamu dan aku adalah dua manusia asing yang lalu dipertemukan dengan keyakinan yang menghujam. Bahwa kamulah yang ridlonya kelak akan mengantarku ke surga. Bahwa akulah awak kapal yang akan kaunahkodai dalam samudera hidupmu. Begitu saja.

Kamu dan aku adalah dua manusia asing yang dipertemukan dengan keyakinan yang entah begitu saja. Cinta? Entah pula. Bagaimanalah. Jika cinta adalah mengenal, maka sekali lagi, kita adalah dua manusia asing.

Namun, percayalah, apalah arti keterasingan itu, jika Allah menjadi tujuan. Bukankah tak ada yang Continue reading Mengenalmu