Skip to content

Category: Uncategorized

Menulis Lagi

Screenshot_2017-07-19-22-58-55-10.png

“Kita hanya tahu apa yang terbaik yang terjadi di masa kita. Padahal kita belum memvalidasi apakah benar hal yang sama akan tetap menjadi yang terbaik untuk generasi berikutnya? Kita hanya tahu apa yang terbaik yang pernah kita alami. Padahal yang kita alami di zaman kita pun, belum tentu yang terbaik. Apalagi untuk zaman berikutnya…. Sebagai orang tua, kita harus sadari bahwa sebagian pengalaman hidup kita, hanya unik untuk generasi kita. Itu sebabnya, tidak semua nasihat dapat diaplikasikan lintas zaman.” (dikutip dari ‘Parent’s Stories Membesarkan Anak yang Berdaya, Adhitya Mulya, p. 120-121.)

Pernah nggak sih, kita ngerasa terlalu nyaman atau justru terlalu larut ke dalam rutinitas, atau malah tenggelam ke dalam masalah-masalah yang bikin kita baper, terus ujung-ujungnya hidup kita ngalir gitu aja. Nggak tahu mau ngapain. Pokoknya makan. Pokoknya nafas. Pokoknya hidup aja. Bisa ketawa-ketiwi, udah happy. Sampai nggak dirasa semuanya. Saking nyamannya atau justru saking sakitnya (?). Most of us mungkin pernah. Saya juga. Sampai lupa kalau saya itu hobi nulis dan hobi baca buku. Lah? Hahaaha. Kok bisa? Ya bisa.. Tapi alhamdulillah saya masih sadar. Saya sadar saya harus bangun. Saya harus GERAK untuk meraih tujuan hidup saya. Untuk mewujudkan impian-impian saya. Pokoknya harus gerak.

Saya kembali memaksa diri saya untuk push the limit, diantaranya dengan membaca buku sebanyak yang saya mampu. Salah satunya buku yang saya kutip di atas. Lalu saya menemukan sebuah simpulan. Bahwa ketika kita mau, kita mampu kok melewati batas-batas diri kita. Ini nasihat lama, yang selalu relevan lintas zaman. Ya begitulah. Saya yang beberapa bulan terakhir kesulitan menamatkan buku dengan dalih ini itu, kalau niatnya kuat ternyata bisa kok. Dan dari hal simpel se’kecil’ menamatkan baca buku, ternyata mempengaruhi aspek-aspek kehidupan yang lain. Jadwal saya beberes, ‘sekolah’ untuk Naya, masak, dll, menjadi lebih teratur. Efeknya ternyata sebegitunya. Apalagi jika buku yang dibaca pas dengan kebutuhan kita. Seperti bukunya Adhitya Mulya yang ini, nampar banget untuk saya sebagai new parents yang masih banyak banget perlu belajar. Buku ini memberi kita banyak sekali gambaran tentang menjadi orang tua masa kini dan bagaimana membuat anak-anak kita berdaya di masa depan. Sungguh, menjadi orang tua tidak mudah. Karena untuk menghasilkan generasi yang berdaya, kita pun harus berdaya, harus terus memperbaiki diri. Dan tentu saja harus terus GERAK.

Saya pun diam sejenak, lalu memutuskan untuk menulis ini sebagai salah satu upaya untuk terus MOVE UP! Bukankah menulis adalah bentuk mengikat ilmu? Begitulah. Lalu saya menulis. Memulai blogging lagi setelah sekian lama blog ini usang tanpa huruf-huruf baru.

Sebenarnya, salah satu hal yang membuat saya sadar saya harus gerak adalah sejak saya tergabung di Komunitas Ibu Muda Indonesia (KIMI), sebuah komunitas yang berisi para ibu berjiwa muda (karena nyatanya, di grup ini berisi para ibu lintas usia). Continue reading Menulis Lagi

Tentang Buku ‘Cinta yang Baru’

Rencana Begini

Di luar sana, banyak kisah cinta tentang penantian berujung pertemuan. Tentang kisah memendam cinta yang terungkap dengan kata saling. Tentang janji yang ditepati. Lalu terjadilah perayaannya. Tapi tidak tentang kita. Kisah penantian kita masing-masing yang dulu kita impikan nyatanya tak sempat menjadi cerita. Aku dengan kisah pilu patah hatiku ditinggalkan. Kamu dengan kisah magis merelakan cinta yang harus kautinggalkan. Kamu dan aku adalah dua orang yang sama-sama tak bisa merengkuh cinta yang kita nanti. Tapi kamu dan aku adalah dua hati yang sama-sama kuat untuk mau kembali berdiri lalu saling mencari. Karena barangkali apa yang dulu kita nanti bukanlah apa yang sejatinya ditulis takdir.

Kamu dan aku (yang saat itu belum menjadi kita) terus mencari tanpa pernah tahu bagaimana akan menemukan. Kamu dan aku terus berharap tanpa punya apa-apa selain doa. Kadang kamu merasa menemukan apa yang kaucari. Kadang aku merasa ditemukan apa yang kunanti. Tapi tak pernah ada kata saling. Lalu entah sinyal apa yang memancar, kamu dan aku justru dipertemukan saat kita berhenti mencari. Kamu dan aku, entah dengan keyakinan dari mana, tak perlu waktu lama untuk mengerti bahwa ini saatnya melebur menjadi kita. Ya, kita adalah dua manusia yang dipertemukan takdir. Barangkali begitu. Kita adalah dua manusia yang sempat dirundung duka oleh kisah pilu masing-masing, lalu melebur saling membangun cinta baru.

***

‘Cinta yang Baru’ adalah tentang perjalananku menemukanmu. Tentang takdir Tuhan yang tak bisa kuterka. Tentang luka yang menemukan penawarnya. Tentang rindu yang terbayar setelah keikhlasan menjadi syaratnya. Tentang kamu dan cintaku pada-Nya.

Buku ‘Cinta yang Baru’ sudah bisa kamu pesan. Info pemesanan: ceritahimsa.com/buku . Ada merchandise spesial untuk 1,000 pemesan pertama. Continue reading Tentang Buku ‘Cinta yang Baru’