Skip to content

Hampa

Kamu tahu rasanya kosong? Seperti kotak itu, tergeletak di sudut ruang yang pernah kuberi nama rindu. Tanpa nama, tanpa cerita, tanpa rasa, tidak juga sakit. Ia hanya kosong.

Kamu tahu rasanya kosong? Berjalan begitu saja. Berlari pelan-pelan. Berhenti ketika harus berhenti. Terduduk di ruangan yang pernah kuberi nama rindu. Sepi. Kosong juga rindu itu. Continue reading Hampa

Senja Memerah

Tadi, senja kembali memerah. Seperti membuka cerita yang dibawa angin. Seperti hendak berkelakar pada teratai di pertengahan danau. Seperti hendak bercerita tentang merahnya luka. Namun juga membariskan lagi harapan-harapan sembunyi.

Tadi, senja memerah lagi. Ia berpesan padaku tentang rindu bulan yang lama tak kujamah. Ah, juga tentang kita yang kupaksa meniada. Ia berkedip memuji aku yang mengaku bisa mengurai kenangan menjadi kekuatan. Ia berbisik tentang di mana rindu selama ini saling sembunyi. Ia bercerita tentang langit yang masih menunggu untuk mempersembahkan malamnya hanya pada bulan. Bukankah begitu janji langit dulu? Senja mengingatkanku bahwa malam yang dinanti bulan itu ada. Senja mengingatkanku pada rasa cemburu bulan yang meluap-luap pada bintang, juga tentang cara langit menenteramkannya. Senja memintaku untuk sekadar menatap bulan malam ini. Continue reading Senja Memerah

Memaafkan dan Mengobati

Pernahkah kau mendengar bahwa memaafkan bukan berarti mengobati? Pernahkan kau merasa baik-baik saja di antara kecamuk hati yang kau sumpal supaya tidak protes? Ya, tentu saja kau pernah mendengarnya. Bisa jadi kau bahkan tengah merasakannya. Sialnya, luka-luka yang kaututup dan kausumpal itu bisa bernanah dan meletus suatu hari. Kau hanya mampu menangis. Lalu kau menyadari bahwa lukamu belum terobati dengan cara ‘memaafkan’. Ya,  aku tahu sekali kau sudah melakukan prosesi memaafkan itu dengan amat tulus. Kau sudah memaafkan apa-apa yang membuatmu sakit. Kau lulus sampai sana. Tapi kau belum sepenuhnya menerima bukan? Sebab itu kau berjalan ke sana ke mari, mencari obat. Lukamu nyatanya kembali menganga ketika angin sekadar menyapa memberi berbagai tanda. Continue reading Memaafkan dan Mengobati

Karena Tuhan Belum Restu

Ada tiga huruf, alfabet empat, lima, dan sebelas, yang biasa kamu gunakan untuk menyapa. Sudah lama tidak terdengar. Biar saja tak terdengar. Ada 20 bungkus cokelat krispi kesukaanku di dalam kresek merahmu. Sudah lama tanganku tak menerima. Biar saja tak terterima. Ada beberapa baris syair tak bernada tapi bernyanyi merdu di pikiranku. Sudah lama tak berbisik. Biar saja tak terbisik. Ada sendu dalam rindu yang mencandu. Sudah lama tak berpadu. Biar saja menjadi tumpukan residu.

Diam-diam, kita mungkin saling bertukar cerita dalam perantara yang tak ada, atau saling meniadakan dalam ada, atau saling menggantung dalam pendulum waktu yang entah kapan terhenti di titik aku dan kamu. Mungkin kamu juga mengatakan, “Biar saja bla bla bla”, lalu tenggelam lagi dalam deru aktivitas. Melupakan soal itu. Atau mungkin kamu sedang bersiap? Bersiap apa? Entahlah, aku bahkan hanya menerka dengan ‘mungkin bla bla bla’ sejak huruf pertama masuk ke paragraf ini. Biar saja tak terterka, sampai kamu memberi jawaban.

Karena mungkin saja, aku juga tak terterka, sampai aku memberi jawaban. Ada beberapa huruf yang berjajar rapi. Apa bunyinya? Biar saja hanya aku dan layar putih ini yang tahu. Ada beberapa bulir yang mengkristal. Kenapa? Biar saja tetesan yang mengendap itu yang tahu.

Biar saja, aku dan kamu sama-sama tak terterka. Continue reading Karena Tuhan Belum Restu

Berbicara pada Hati

Suatu ketika, aku duduk sendiri di tengah keramaian. Pergi dari semua hal yang menyesaki pikiranku. Untuk berbicara pada hati. Tentang ia yang begitu sesak. Tentang ia yang basah oleh air mata. Tentang apa-apa yang tak bisa kusampaikan tapi selalu kurasakan. Tentang hati yang terluka.

Maka, aku duduk sendiri. Mendengarkan lagu-lagu  yang setiap liriknya selalu kuhubung-hubungkan dengan kehidupanku. Menarikan jemari di atas tuts-tuts hitam, sekadar untuk melarikkan rasa. Atau sejenak menatap keluar, menyaksikan ibu dan anak yang menikmati segelas ice cream berdua, di tangan mereka terdengar suara seorang lelaki dari sebuah ponsel. Anak kecil itu samar-samar kudengar berteriak, “Ayah, aku diajak Mama beli ice cream loh. Ayah masih di kantor?” Lalu, si ibu tersenyum bahagia. Anak yang beruntung—sepertinya.

Ah, bukankah hidup itu selalu seperti itu? Kita melihat orang lain bahagia, lalu kita merasa betapa hidup kita tak sebahagia ia. Betapa hidup kita dipenuhi luka. Betapa kita ingin seperti dia. Padahal sungguh, kita tak pernah tahu, luka macam apa yang disembunyikan di balik sesimpul senyum. Maka, sungguh. Sungguh bukan kita saja yang dianugerahi luka di hati. Continue reading Berbicara pada Hati

Kamu dan Keberuntungan

Suatu hari kita berbicara tentang keberuntungan dan perjuangan. Banyak hal. Aku bercerita tentang perjuanganku menghadapi masa-masa sulit dalam menyelesaikan pendidikan. Kamu pun begitu. Kamu selingi dengan cerita kesuksesan kawan-kawan dekatmu.

Kemudian kamu tertawa karena menyadari betapa sangat jauh keberuntungan darimu. Ya, keberuntungan yang didefinisikan secara umum.

“Kalau ada lucky draw atau undian berhadiah atau doorprize, aku hampir tidak pernah menang.”

Aku yang saat itu mendengarkanmu bercerita sambil ngepel tertawa dalam hati, “kalau istrimu ini Miss Doorprize, Mas. Harus dapat doorprize dalam acara apapun.” Aku tersenyum mengingat semangatku saat mengikuti suatu seminar. Rajin duduk di depan dan paling semangat saat ikut games atau aktif bertanya pada sesi pertanyaan.

Kemudian kamu tersenyum lagi, aku masih mengepel. “Tapi bukan keberuntungan seperti itu yang diberikan Allah untukku. Ternyata banyak sekali keberuntungan dalam hidupku yang harus disyukuri.”

Aku masih mengepel, kali ini kuhentikan sebentar untuk tersenyum ke arahmu, “Iya, Mas. Kalau kita bersyukur kan kita sedang beruntung?”

Kamu merebahkan dirimu di sofa, dan aku masih mengepel. Itu aturanku, hehehe. Tidak boleh ada kaki menginjak lantai saat aku mengepel sampai lantai kering. Dan kamu tak pernah protes, malah sering tersenyum saat melihatku membawa alat pel. Kamu sadar harus segera angkat kaki dari nikmatnya gelosoran di lantai.

“Mendapatkan kamu adalah keberuntungan besar buat Mas.” Gumammu. Aku sedikit tersentak. Sebenarnya aku deg-degan, tapi menutupinya dengan tertawa. Continue reading Kamu dan Keberuntungan

Menulis dan Patah Hati

“Kak, gimana sih caranya nulis?”
“Kak, kok tulisannya tentang patah hati terus? Pernah mengalami ya?”
“Kak, gimana cara melupakan dia? Saya mau bangkit dari patah hati.”

Tiga pertanyaan di atas sering sekali mampir di kotak masuk saya. Malam ini, saya mau mencoba berbagi tentang itu semua kepada teman-teman tentang jawabannya. Semoga bermanfaat ya 🙂

Baiklah, sebenarnya ketiga jawaban pertanyaan di atas tidak bisa dipisahkan. Saya mulai suka menulis sejak SD, mungkin sejak kelas V ketika guru Bahasa Indonesia saya memberi PR untuk membuat karangan bebas. Karangan saya diapresiasi dengan sangat baik. Sejak itu, entah dapat ilham dari mana, saya tidak lagi menulis kata ‘dokter’ sebagai cita-cita saya. Saya mau jadi penulis. Setiap hari saya mulai rajin menulis diari, terkadang membuat cerita pendek. Sebenarnya, ini tidak lepas dari peran Abah yang selalu mendoktrin saya dengan kalimat, “kamu itu harus rajin baca buku, kalau udah besar, pacarannya sama buku.” Abah sering membelikan buku cerita dan Majalah Bobo. Jadilah saya suka mengkhayal dan mengarang cerita. Cita-cita itu terus saya genggam. Ketika SMP dan SMA, saya aktif di organisasi majalah sekolah. Saya pun memutuskan untuk mengambil jurusan Ilmu Komunikasi yang menurut saya relevan dengan hobi saya. Sejak kuliah inilah, saya tidak lagi menulis diari di buku kecil. Saya mencoba menuliskannya melalui blog wordpress. Dari blogging inilah, saya bertemu dengan banyak penulis lain yang membuat saya semakin semangat untuk mewujudkan impian.

Saya menulis tentang apa saja. Karena, kata para penulis, menulis itu seperti menuangkan air dari teko ke dalam gelas. Jika teko kita ada isinya, maka gelas kita akan terus penuh. Teko itulah inspirasi, yang harus digali. Inspirasi bisa datang dari mana saja, mulai dari membaca (apapun, dari buku sampai status FB), berempati, mengamati, curhatan teman, bahkan perasaan.

Tidak saya pungkiri, perasaan menjadi inspirasi saya untuk menulis. Kata orang, jatuh cinta merupakan energi besar untuk berkarya. Itu tidak bisa disalahkan. Tapi kisah saya sebaliknya. Patah hati justru membuat saya mau tidak mau harus rajin menulis. Karena begitulah saya melakukan terapi hati. Saya menulis apa saja di blog untuk mengingatkan diri sendiri juga berbagi. Bahwa bangkit dari patah hati itu bagian dari iman, yang hukumnya wajib. Bahwa jika kita mengisi hati kita dengan nama Allah, maka kita akan tenang, bagaimana pun manusia membuat hati kita kecewa. Bahwa jatuh cinta dan rindu amat bisa dikelola. Bahwa keikhlasan itu proses sulit tapi harus terus dilakukan. Dan sebagainya. Teman-teman mungkin sudah membaca sebagian besar tulisan itu di sini.

Maka, jika ditanya, bagaimana cara bangkit dari patah hati? Adalah dengan menyibukkan diri, mengingat Allah, dan menghasilkan karya. Tulisan saya inilah buktinya. Apakah patah hati sembuh begitu saja? Tentu saja tidak, ia terus diuji dan diuji. Saya jatuh berkali-kali. Bangkit lagi. Jatuh lagi. Sampai kita benar-benar ikhlas. Ikhlas dengan apapun ketentuan yang diberikan Allah, entah sesuai dengan keinginan atau tidak. Apakah itu mudah? Tentu saja juga tidak. Yang saya lakukan adalah terus berdoa dan berkarya. Setiap satu tunas rindu bermunculan, saya membunuhnya dengan karya-karya. Terus begitu.
Continue reading Menulis dan Patah Hati

Sempurna?

Dalam rentang waktu menahun yang kita punya untuk menjadi jauh, rindu sudah bukan lagi pertanyaan yang perlu jawaban. Namun, jarak mungkin benar mencipta bias bagi kita. Mencipta persepsi dan prejudis yang mungkin kita buat sendiri. Memproduksi molekul-molekul cemburu yang dengan tiba-tiba mengoyak keyakinan. Tapi sungguh, dalam ruang paling steril di palung hati, keyakinan itu masih utuh. Juga doa dan harapan yang masih menggumpal dalam baris alfabet.

Kamu dan aku harusnya tak perlu takut. Bukankah hati kita sama-sama tahu ke mana langkah ingin berpijak? Continue reading Sempurna?

Krisis Percaya Diri

Kemarin, saya bertemu dengan sahabat lama saya. Sejak kenal dia ketika SMA, saya tahu sekali dia punya rasa percaya diri yang tinggi. Cantik, jago olahraga, berprestasi, populer dan tentu saja cerdas. Ah, rasanya lengkap sekali. Tapi, ternyata saya tidak setahu yang saya kira. Dalam pertemuan kemarin—pertemuan pertama setelah hampir empat tahun masa SMA berakhir—dia bercerita banyak hal. Ada satu kalimat dia yang mengusik hati saya, “I have a self confidence crisis.” katanya jujur. Saya hampir tidak percaya.

Tidak perlu saya beberkan bentuk krisis kepercayaan diri seperti apa yang dialami oleh sahabat saya. Yang jelas, saat itu saya berpikir. Bagaimana pun seseorang terlihat sempurna di mata orang lain, seseorang itu tetaplah manusia. Selalu punya alasan untuk merasa kehilangan rasa percaya diri.

Saya kemudian mengingat cerita teman saya yang lainnya. Sama. Saya pun melihatnya sebagai sosok yang sempurna. Seorang gadis cantik, cerdas, berprestasi dan nomor satu di jurusannya. Tapi ia pun teryata sama—pernah memiliki rasa tidak percaya diri. Dan, kalau boleh jujur, tidak usah jauh-jauh, saya pun demikian. Banyak yang mengatakan bahwa seorang Himsa tidak perlu motivasi untuk punya rasa percaya diri. Bahkan banyak pula yang bertanya tips supaya bisa percaya diri. Tidak semanis yang terlihat kok.

Hmm, mungkin karena sesosok Himsa yang terlihat selama ini adalah sosok yang aktif, cerewet, dan terkesan santai di depan umum, sesosok Himsa yang adalah diri saya, tampak begitu percaya diri. Padahal, saya juga sama seperti teman-teman. Sama saja. Saya juga bingung bagaimana caranya menumbuhkan rasa percaya diri. Bahkan, dalam titik tertentu ketika saya down, saya benar-benar tidak bisa mempercayai kemampuan saya—walaupun orang lain mengakuinya. Serius. Sampai suatu ketika, saya menemukan jawabannya. Semoga bisa jadi jawaban untuk siapapun yang pernah bertanya. Continue reading Krisis Percaya Diri

Merayakan Kegagalan

Mungkin, cara paling asyik untuk menikmati kegagalan adalah dengan merayakannya.

Ada orang yang mendapatkan keinginannya dengan sangat mudah. Mulai dari masuk sekolah hingga perguruan tinggi favorit, diterima bekerja di mana saja, bahkan hingga urusan jodoh pun berjalan mulus dengan sangat mudah dan lancar. Ada pula mereka yang harus gagal berkali-kali, jatuh dulu, berdarah-darah dulu hanya untuk sekadar memperoleh impian sederhana mereka–mendapat perguruan tinggi negeri misalnya. Ada pula yang hidupnya biasa saja. Pernah gagal, pernah juga berhasil. Ada yang biasa saja, tak pernah gagal (atau tak pernah punya target yang ingin dicapai?). Atau apalagi? Begitulah dinamika hidup. Anehnya kita (saya) seringkali larut dalam kondisi saling iri.

Mereka yang bisa mendapat semua yang diinginkan dengan mulus akan terus mencari tantangan, justru penasaran kapan ia akan gagal. Ia mencari motivasi terbesar dan ingin tahu rasanya bangkit luar biasa setelah jatuh. Sementara yang berkali-kali dihantui kegagalan akan terus bertanya “kapan akhirnya keberhasilan berteman baik denganku?”. Ada yang terus berusaha. Ada pula yang hanya mampu bertanya lalu menyerah. Kondisi saling berbalik. Entahlah. Apa yang harus direnungkan? Selain tentu saja menyadari bahwa hidup harus terus disyukuri ada di posisi manapun kita. Karena dengan bersyukur kita belajar dan mengambil hikmah. Karena dengan bersyukur kita hidup tenang. Tanpa terus bertanya kapan akan jatuh atau kapan akan berhasil. Karena dengan bersyukur kita terus berusaha bahwa Tuhan selalu punya jawab atas tanya yang Ia titipkan di hati dan pikiran kita. Continue reading Merayakan Kegagalan