Skip to content

Tidak Mencintai Siapa-Siapa

Apakah dalam hidup kita harus mencintai seseorang? Bukan, maksudku bukan orang tua atau sahabat. Tapi cinta kepada seseorang lawan jenis. Cinta yang membuat huruf-hurufmu berjatuhan dalam bait puisi. Cinta yang membuat degupmu kautata agar tak melanggar aturan-Nya. Cinta yang meluruhkan semua keberanianmu ke dalam air mata hanya karena dadamu sesak oleh rindu. Cinta yang membuatmu menggigit sela-sela gigi atas dan bawahmu untuk menahan cemburu yang tak kaukira. Cinta yang membuatmu bermunajat pada-Nya. Atau barangkali cinta yang kausimpan diam-diam, tapi kaudoakan dalam setiap sujudmu. Entahlah bagaimana kamu mendeskripsikannya. Cinta itu membuat jiwamu lebih hidup. Sebagaimana Tuhan bertitah dalam bahasa Cinta surat Ar-Rum: 21, tentang pasangan yang membuat hatimu menjadi tenteram. Apakah setiap orang harus memilikinya? Apakah setiap orang harus merindukan sosoknya? Continue reading Tidak Mencintai Siapa-Siapa

Pamit

Aku pamit.

Kalimat itu sudah diketik, hampir saja dikirim pada sebuah nomor yang selama ini cukup spesial baginya. Tapi kalimat berisi dua kata itu dihapus lagi. Ia justru mematikan handphonenya. Menyimpan di bawah bantal. Kemudian, ia menangis. Menangis pelan namun deras. Tidak ada artinya kata pamit. Semua berawal tanpa kata, selesai pun tanpa kata, pikirnya. Perempuan itu lalu sejenak terdiam, menatap dinding birunya yang mengusam, membaca lembar demi lembar catatannya yang menuliskan semua perasaannya.

Perempuan sembilan belas tahun itu masih menangis.

Tiga tahun lalu, tanpa kata cinta layaknya sepasang muda-mudi menjalin tali asmara, dua orang ini justru saling menjauh, memilih menghindari perasaan mereka, sampai suatu waktu, tabir-tabir tersingkap dan mereka pun tak mampu menutupi lagi apa yang ada di hati mereka. Tidak ada tali apapun yang mengaitkan hati mereka, sungguh tidak ada. Atau kalaupun ada, mungkin tali itu yang disebut orang-orang bernama perasaan. Perempuan itu, tiga tahun menyimpan perasaannya. Bukan waktu yang lama. Sungguh singkat sebenarnya.

Tidak ada yang tahu, tapi sesosok laki-laki yang ia beri nama “Langit” mengerti dan memahami. Sesosok laki-laki itu membuatnya memiliki harapan. Jauh perjalanan mereka. Harapan-harapan itu menggantung dalam doa. Hingga perempuan itu kini mendapati banyak “Langit” yang juga siap memantulkan warna birunya untuknya. Perempuan itu jengah. Bukan ia berhenti mencintai Langitnya, tapi karena ia mengerti satu hal. BELUM SAATNYA MENCINTAI LANGIT. Sungguh belum saatnya. Dan kali ini, ia benar-benar menghayati kalimat itu. Continue reading Pamit

Menemukanmu

Menemukanmu adalah seperti menemukan angka di saat aku berenang di dalam lautan abjad. Menemukanmu adalah seperti bermain di pantai. Aku mencari kerang dan mutiara di sepanjang pasir putih, namun kamu adalah sebentuk mawar biru yang tiba-tiba tumbuh di sana. Menemukanmu adalah sebuah perjalanan berhenti menerka, karena takdir Tuhan terlalu indah untuk diterka. Sekalipun untuk aku yang terlalu banyak menerka.

Menemukanmu adalah sebuah definisi bahagia yang sangat sederhana. Menemukanmu adalah yakin begitu saja tanpa terlalu banyak jika. Menemukanmu adalah seperti perjalanan Hajar mencari air zam-zam, berlari dulu dari Shafa ke Marwa hingga tujuh kali, namun ia ternyata ada begitu dekat. Menemukanmu adalah soal percaya kepastian janji Tuhan. Continue reading Menemukanmu

Tentang Bersabar

Suatu hari, saat menunggu Bus Transjakarta di Shelter GBK, banyak sekali orang yang mengantre. Aku dan seorang teman berada di antara antrean itu. Sampai kemudian tibalah bus yang dinanti. Orang-orang berebut ingin memasuki bus. Namun, ketika tiba giliran kami hendak melangkahkan kaki menuju bus, kami justru tidak boleh masuk. Petugas memberhentikan langkah kami.

“Cukup ya. Di belakang masih ada.” Continue reading Tentang Bersabar

Aku Pernah Cemburu

Aku pernah cemburu pada sebuah kertas yang tahu isi perasaanmu. Setidaknya ia lebih kaupercaya daripada aku. Aku pernah cemburu pada 140 karakter yang hanya bisa kautafsir sendiri. Aku pernah cemburu pada berbagai cerita di sebuah tempat yang aku tak ada di sana. Aku pernah cemburu pada bingkai foto yang melukis tawa lepasmu—sekali lagi, tanpa aku. Aku juga pernah cemburu pada selarik bait yang kautulis diam-diam di samping gambar-gambarmu. Terlebih pada gambar-gambarmu, aku bahkan sangat cemburu.

Aku juga pernah sedemikian cemburu pada… ah, aku bahkan menggigil untuk menulisnya.

Tapi kemudian aku diam, mengapa aku harus cemburu? Dan aku tertunduk menerka-nerka cerita. Melarikkan rasa di atas tuts-tuts hitam, karena aku tidak bisa menggambar sepertimu. Hey, apa kamu juga pernah cemburu pada tuts-tuts ini? Continue reading Aku Pernah Cemburu

Dear, Kamu

Aku tetiba amat merindukanmu. Merindukan sebentuk bola mata yang hanya dengan menatapku lekat seperti mampu menghapus semua sakit. Aku tetiba amat merindukanmu. Merindukan sebentuk bahu bidang yang hanya kusandari seperti mampu membuatku memiliki dunia. Aku tetiba amat merindukanmu. Merindukan sebentuk pesan yang walaupun singkat tanpa rima seperti mampu membuat hati ini terus kuat. Aku tetiba amat merindukanmu. Merindukan sesosok senyum sederhana tapi mampu membuatku mengingat penciptanya. Sayangnya, aku bahkan tak tahu siapa kamu.

Aku, malam ini, akan berbicara sangat absurd. Seabsurd rindu yang tak mengenal pemiliknya. Tapi ia ada. Iya, untukmu. Terserah jika kamu atau siapapun lalu akan melabeliku dengan cap galau, aku tak peduli. Aku mencoba lagi meretas rindu dengan cara ini. Mengabarkanmu betapa ingin aku sekadar menggenggam tanganmu saat ini. Betapa aku teramat takut pada keputusan besar yang sedang kuambil. Lalu biarlah ia bercampur dengan molekul udara. Barangkali kamu membacanya. Kamu yang aku pun tak tahu siapa. Continue reading Dear, Kamu

Definisi Bahagia

Saya teringat sebuah pertanyaan. Emang iya ya jadi ibu rumah tangga membahagiakan? Kan ya sayang sekolahnya tinggi-tinggi? Eh tapi, saya tidak akan bahas tentang itu. Ini bukan sekadar jadi ibu rumah tangga atau jadi wanita karir. Ini tentang definisi bahagia setiap orang yang berbeda—yang kita wajib menghormatinya.

Keinginan saya untuk menulis ini dimulai dari surat kaleng seorang sahabat perempuan tentang keputusan hidupnya untuk berbahagia dengan jalannya sendiri. Ia punya cara unik yang ia sebut: mendefinisikan bahagia. Sebagai seorang yang pintar, keinginannya awalnya seperti orang-orang pada umumnya. Kuliah tinggi, aktif di organisasi sebagai bekal untuk meniti karir dan sukses karir di ibukota. Awalnya, begitulah ia mendefinisikan bahagia. Yang pada akhirnya ia sadari, itu adalah definisi bahagia versi orang pada umumnya. Yang sayangnya bukan versi dirinya sendiri.

Tiba-tiba saya dikejutkan oleh pesan whatsapp darinya yang kurang lebih isinya begini:

Himsa, aku mau belajar, jadi dosen aja, nggak jadi kerja di Jakarta, aku mau nanti aku sendiri yang mendidik anak-anakku. Aku mau anak-anakku dapat pemahaman baik tentang hidup dari ibunya sendiri.

Saya kaget. Seorang enerjik itu berubah haluan? Ada apa? Continue reading Definisi Bahagia

Episode yang Terlewat

“Mamaaaaaa…” laki-laki kecil berusia 3 tahunan itu berlari kecil mengarah kepadaku. Aku membenarkan jilbab, lalu menyandarkan lutut di tanah, menunggu pelukannya. Ya, seperti kuduga, dia memelukku erat sekali.

“Lizhal tadi ketemu sama Om-om, dibikinin pesawat ini, Ma.” katanya kemudian setelah melepaskan pelukanku. Aku mengerutkan dahi. Menunggu kejutan apalagi yang dibawa oleh pangeran kecilku. Sebelas hari ini, sepulang sekolah, dia selalu bercerita tentang ibu gurunya, hampir cerita yang sama. Tapi, di beranda sekolah bermain ini, aku  selalu menunggu cerita-ceritanya dengan perasaan bahagia, tak peduli cerita yang sama itu terus berulang. Sama bahagianya seperti sebelas hari lalu ketika dia mengenakan seragam sekolah pertamanya.

“Mama, Ibu gulu nyuluh Lizhal nyanyi lagi, tapi Lizhal nggak mau, Lizhal kan sukanya nggambar.” Begitu biasanya ia bercerita. Tapi entah kenapa ceritanya hari ini berbeda. Tentang “om-om” katanya. Entah siapa yang dimaksud.

“Pesawat apaan , Rizhar sayang?”

“Jet mini, Ma.”

Tanganku tiba-tiba berhenti mengelus rambutnya.

“Ini, Ma.” Si kecil Rizhar mengeluarkan pesawat kertas dari sakunya.

Aku mengaburkan perasaan aneh yang tiba-tiba menjalar di tubuhku. Kuusap lagi rambutnya, kali ini lebih keras.

“Ah, Mama juga bis..”

Aku belum selesai berbicara ketika tiba-tiba Rizhar berteriak dan menunjuk seseorang yang berada di luar pagar sekolah. “Mamaaa, itu Omnyaaaaaaaaaa..” Tangan kecilnya kemudian menyeretku ke depan, membuatku tidak bisa menolak lagi. Rizhar benar-benar menggambar ceritanya hari ini. Sungguh, ini benar-benar kejutan.

Laki-laki yang disebut “Om” oleh Rizhar itu menoleh. Ia melepas kacamatanya. Caranya menatapku sama seperti caraku menatapnya. Tatapan bingung. Mungkin, kita sama-sama tidak percaya dengan apa yang ada di depan mata kita. Aku kemudian menunduk. Dia memakai kembali kacamatanya, lalu memendekkan tubuhnya untuk menyejajarkan kepalanya dengan kepala Rizhar. Continue reading Episode yang Terlewat