Skip to content

Tag: kimi challenge

Terima Kasih, Aku..

Sudah November lagi. Hujan masih terus menyapa, menambah syahdu suasana malam ini. Eh, kenapa jadi melow gini deh.

Baik, malam ini, aku pingin ngobrol lagi sama aku sendiri. Sama Himsa yang setahun ini udah berjuang. Melewati banyak fase sampai di titik ini. Baik kumulai meneteskan air mata. Tapi tak apa, ada kalanya kita perlu menangis bahagia, ‘memeluk’ diri kita sendiri, yang di balik kelemahannya ternyata menyimpan kekuatan yang luar biasa.

Dear, Aku, Himsa yang kini pipi chubby-nya kembali.. (Ya, salah satu target kamu tahun ini adalah menaikkan berat badan, dan alhamdulillah, dengan menjadi ‘lebih luwes’ dan mengurangi kadar overthinking ternyata membantu banget ya buat naikin berat badan).

Tahun ini kamu memulainya dengan empat poin doa yang kamu tulis bersama sahabat soul sister kamu di Komunitas Ibu Muda Indonesia (KIMI). Waktu itu, kamu menulis empat poin, padahal anjurannya hanya tiga poin. Pada momen itu, kamu kemudian menyadari betapa masih serakahnya dirimu. Tapi doa itu sudah kamu tulis. Artinya, kamu harus berproses atas semua konsekuensinya. Kamu harus ingat, ketika kamu sakit atau lelah, mungkin saja itu bagian dari proses agar Allah mewujudkan doamu.

Dear, Aku. Mari sejenak melihat catatan doamu. Lihatlah, meskipun kamu sempat menangis berkali-kali, tapi doa-doamu diproses oleh Allah. Continue reading Terima Kasih, Aku..

Belajar Sabar

Man Shabara Dzafira

Suatu ketika, saya pernah lelah ketika Naya kumat tidak mau makan. Rasanya ffffhhh sesak sekali lihatnya. Tapi ya sudah, tarik nafas, tenang di pojokan mencari ide agar dia mau makan. Sabar menuntut kita untuk kreatif mencari solusi, sehingga kita lupa berkeluh kesah. Dari menawari nasi yang dibulat-bulat, disate, bikin makaroni, makan bareng temennya, dan lain-lain. Tapi ya gitu, masih irit. Tapi lebih baik, setidaknya dia mau makan walaupun sedikit. Ya udah. Ya udah. Saya mencoba melepaskan beban saya dengan pasrah. Nanti kalau lapar, dia pasti minta. Sambil berdoa tentu saja. Sabar. Sabar. Sabar itu kan berusaha dan berserah. Sabar bukan berarti kita tidak boleh kesal, tapi kita tahu cara menyalurkan kesal itu dengan baik. Apalagi menghadapi anak bayi, makin kita rungsing, makin menjauh dia dari harapan kita. Ya udah. Sabar. Lalu, tiba-tiba, Naya memberi kejutan. Saat saya sedang makan, tidak menawarinya, dia justru mengambil alih makanan saya dan makan sendiri dengan lahap. Ah leganyaaaaa. Kalau tadi saya jadi nangis atau marah, pasti menguras energi.

Di sisi lain, sabar juga terkadang tentang tidak menyerah dan terus berusaha. Continue reading Belajar Sabar