Skip to content

Dear, Kamu

Aku tetiba amat merindukanmu. Merindukan sebentuk bola mata yang hanya dengan menatapku lekat seperti mampu menghapus semua sakit. Aku tetiba amat merindukanmu. Merindukan sebentuk bahu bidang yang hanya kusandari seperti mampu membuatku memiliki dunia. Aku tetiba amat merindukanmu. Merindukan sebentuk pesan yang walaupun singkat tanpa rima seperti mampu membuat hati ini terus kuat. Aku tetiba amat merindukanmu. Merindukan sesosok senyum sederhana tapi mampu membuatku mengingat penciptanya. Sayangnya, aku bahkan tak tahu siapa kamu.

Aku, malam ini, akan berbicara sangat absurd. Seabsurd rindu yang tak mengenal pemiliknya. Tapi ia ada. Iya, untukmu. Terserah jika kamu atau siapapun lalu akan melabeliku dengan cap galau, aku tak peduli. Aku mencoba lagi meretas rindu dengan cara ini. Mengabarkanmu betapa ingin aku sekadar menggenggam tanganmu saat ini. Betapa aku teramat takut pada keputusan besar yang sedang kuambil. Lalu biarlah ia bercampur dengan molekul udara. Barangkali kamu membacanya. Kamu yang aku pun tak tahu siapa.

Dua purnama yang sudah kulalui dengan rutinitas baruku sesungguhnya sempat membuatku lupa tentang kamu. Ah, aku tahu kamu akan datang. Toh aku masih bisa hidup mandiri. Begitu pikirku. Tapi empat hari diberi kesempatan Sang Maha Besar untuk membiarkan bakteri-bakteri tumbuh di ususku, membuatku tidak berdaya apa-apa. Betapa aku sadar aku hanya perempuan biasa, yang barangkali 70% dari diriku dikuasai oleh darah melankolis dan sisanya adalah absurditas, banyak mau, kekonyolan, dan entah apa lainnya yang mampu membuatku penasaran dan memikirkan banyak hal. Ah tenang saja, 100% dari itu semua dikontrol oleh hati kecilku. Hati kecilku adalah pembelajar kehidupan. Karena hanya dengan itu aku akan menerima semua kekalahan, kekecewaan, atau apapun lainnya yang tak kuinginkan dalam hidup. Hati kecil itu juga yang terus memberikan energi untukku terus berjalan meskipun tanpamu karena ia mengingatkanku pada-Nya.

Ah iya, tetap saja aku memiliki antena lain. Yang jika ia memancar, ia terkadang mampu bertengkar dengan hati kecilku, membuatku ragu pada setiap apa yang kuputuskan, menertawakan daya diriku, meremehkan kemampuanku, memunculkan berbagai ketakutan, menghadirkan rasa bersalah, ah kadang juga ingin sekali menjauhkanku dari-Nya. Karena itulah pada akhirnya aku tetap merindukanmu. Merindukanmu. Barangkali kehadiranmu adalah penegas, penenang, penguat, pelindung dan penuntun yang mampu mengalahkan sinyal yang dipancarkan antena itu.

Dear, Kamu.
Ketika kita bertemu pada akhirnya, mungkin kamu akan menyadari betapa aku adalah perempuan lemah yang amat jauh dari sempurna. Barangkali kamu akan melihat sisi lainku yang selama ini orang lain tak mampu melihat. Barangkali kamu akan jengah dengan banyaknya kemauanku (yang sering kali konyol). Barangkali kamu akan kebingungan melihat kepanikanku. Ah entahlah apalagi. Kamu nanti akan tahu.

Hanya saja saat itu tiba, aku sungguh tak meminta macam-macam. Cukup tatap aku lekat karena dengan itu aku menyadari ada seseorang yang rela memberikan sepenuh cintanya untukku. Atau genggam erat tanganku karena dengan itu aku menyadari apapun yang kujalani aku masih memilikimu. Atau berikan saja kata-kata sederhana yang barangkali mampu melawan argumen kerasku. Percayalah, aku akan mematuhimu. Atau dengarkan saja apa celotehanku dengan penuh senyum. Karena dengan sekadar kamu ada, aku percaya apapun akan baik-baik saja.
Ya, aku masih merindukanmu. Maafkan aku berbicara terlalu banyak di sini. Ah, ini sesungguhnya hanya sedikit sekali. Sisanya, mari kita bicarakan pagi hari sambil meminum teh hangat saat kau bersiap kerja. Atau di malam-malam menjelang istirahat.

Entahlah. Aku bahkan ragu bagaimana menemukanmu. Sementara aku sudah lupa cara jatuh cinta. Atau barangkali takut jatuh cinta. Ah tidak, aku takut terluka lagi.

Selamat malam, Kamu. Aku tahu aku tak perlu khawatir karena kamu pasti akan selalu punya cara terbaik untuk menemukanku dan membuat hati ini melihatmu. Aku merindukanmu. Tuhan pasti mendengar. Bukankah Dia pencipta skenario yang amat hebat?

Apakah semua perempuan merasakan kerinduan semacam itu?

Published inProsa

5 Comments

  1. alhatul alhatul

    iya aku pun merasakan rindu ini, rindu pada sosok yang entah siapa namun aku yakin nanti dia akan menemani hari hariku

    • ahimsa ahimsa

      selamat menunggu dalam rindu

  2. deyy deyy

    ini rinduku padamu #08 ckup dengan adanya kamu aku kuat..

  3. Ervi Cahyatri Ervi Cahyatri

    Apakah aku telat membacanya? Aku rasa tidak. Karena tulisan ini sama seperti rasa “rindu” padamu. Tidak pernah telat dan tidak pernah bosan mengulanginya.

  4. Nadia lismayeni Nadia lismayeni

    Very good 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *