Skip to content

Pergilah, Rindu

Pada tampias hujan, kamu datang sebagai percikan. Pada sisa-sisa parutan keju, kamu menyisip di sela lubang-lubang parut. Pada suara decit pintu kamarku yang rusak, terdengar suaramu ikut berdecit. Kamu membersamai ruas-ruas jariku. Juga mengalir di sepanjang arteriku. Kamu datang walau isi kepalaku menghalang. Mampir di sela apapun yang tak kuduga. Aku bisa apa? Hei, Kamu! Namamu rindu bukan? Jika iya, jangan datang lagi. Sebab namaku sepi. Sesepi layar putih temuan Bill Gates yang sudah 47 menit kutatap. Aku mencoba mengeja huruf di sana, tapi kesusahan memadunya menjadi kata. Sebab lagi-lagi cuma kamu yang tereja. Rindu. Bagaimanalah.. Logikaku mulai kewalahan memenjarakanmu. Ah, rindu, berdamailah sedikit dengan rasa.

Published inProsa

3 Comments

  1. Zulham Zulham

    Kena banget mbak, bagi Pin atau WA dong mbak, biar bisa sharing”

  2. sesuatu tentang rindu 🙂
    jadi baper baca tulisannya mba :’) Awesome

  3. diana ratnaningtyas diana ratnaningtyas

    Rindu itu memang kurang ajar. Slalu datang tanpa permisi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *