Skip to content

MEMAAFKAN DIRI SENDIRI

Ini adalah aku suatu ketika, yang sedang berbicara dengan diriku sendiri. Adalah aku, yang mulai bertanya. Duhai diri, kapankah kamu akan memulai memaafkan dirimu sendiri?

Entah pada episode ke berapa, kamu akan sampai pada titik itu. Kamu masih saja menangis, atau sekadar merutuk. Mencari orang lain untuk kamu jadikan si ‘Yang Bersalah’, agar kamu menjadi korban. Membiarkan orang lain membuatmu begitu tersakiti. Lalu menangis seolah kamu paling menderita. Berharap menjadi sejenak lebih baik setelahnya. Kamu lagi-lagi begitu menikmati peranmu sebagai korban. Hingga kamu tak sadar, lukamu sendiri kamu tutup begitu tebal. Luka yang kamu perbuat pada dirimu sendiri.

Kalau tak ada lagi sesiapa yang bisa kamu salahkan atas air matamu, maka kamu mulai menyalahkan keadaan. Menyalahkan hujan yang harusnya turun menjadi berkah. Menyalahkan matahari yang harusnya menghangatkan jiwamu. Menyalahkan apa saja. Agar kamu tak tampak bersalah. Agar kamulah yang tampak menjadi korbannya. Hingga kamu semakin tak menyadari, lukamu bernanah di balik perban tebal yang kamu bebatkan. Kamu seolah baik-baik saja. Tapi langkahmu berat, jiwamu kosong. Hanya senyummu tersungging seolah kamu yang paling kuat. Ah, bukankah itu sungguh menyesakkan?

Sementara jauh di dalam jiwamu, kamu meronta lalu merintih. Rintihan yang nyaris tak pernah kamu dengar. Dalam rintihan itu, kamu menyalahkan dirimu sendiri yang tak sempurna, yang tak bisa menjadi manusia yang begini begitu seperti kata orang, yang tak mampu mengerjakan sesuatu untuk membahagiakan semua orang. Kamu juga menyalahkan masa lalumu yang menurutmu buruk. Kamu menyudutkan dirimu sendiri. Tapi rintihan itu tak pernah kamu dengar. Atau sesekali memang kamu dengarkan, untuk kemudian membuatmu marah dan kesal.

Lalu kamu memilih sibuk berpura bahagia, atau sejenak menangisi apa-apa yang membuatmu sakit. Kamu tutup telingamu dari suara nuranimu sendiri. Agar kamu menjadi apa yang menjadi standar orang untuk mendapat sebutan ‘berhasil’. Tapi sesungguhnya kamu belum berhasil. Hanya kamu sendirilah yang tahu dalam hatimu. Kamu belum berhasil melihat lukamu sendiri, mengakuinya, juga menyembuhkannya. Maka, bagaimana bisa kamu memaafkan dirimu sendiri? Sampai kapan?

Mengapa kamu tak menjadi dirimu sendiri saja? Oh ya, aku lupa. Sungguh. Aku lupa kalau kamu masih takut menatap luka itu. Kamu bahkan tak menginginkan ia sembuh. Kamu abaikan begitu saja seolah tak ada. Padahal di balik bebat perban, lukamu semakin bernanah. Setiap hari ia mengikuti langkahmu, membentuk prasangkamu. Tanpa kamu tahu, luka itu membuatmu tumbuh menjadi manusia yang penakut akan masa depan. Menjadi manusia yang mudah tersakiti perasaannya. Menjadi manusia bertopeng namun tak sadar tengah mengenakan topeng.

Jika terus begitu, kapan kamu akan memaafkan dirimu sendiri? Tidakkah kamu melihat jiwamu letih melihat maumu yang menggunung, tapi langkahmu urung? Tidakkah kamu melihat jiwamu terus terluka oleh kebengisanmu sendiri? Memaksanya untuk bekerja keras mencapai maumu, lalu memarahinya saat kamu kecewa karena apa yang kamu mau tak kamu dapat. Merutuki apa-apa yang sudah jadi pilihanmu di masa lalu. Tapi kamu terus memaksanya untuk mendongak menatap kehidupan, tanpa berusaha memberi ruang untuknya mengobati lukanya sendiri.

Maka, cobalah sayangilah dirimu sendiri. Jujurlah pada dirimu sendiri. Sedihlah jika memang harus sedih, sakitlah jika memang harus sakit. Jujurlah jika memang tak mampu. Pahamilah bahwa dirimu adalah seorang manusia yang juga tak sempurna, yang tak bisa membahagiakan semua orang, yang juga punya luka. Bukalah luka itu pelan-pelan, berilah ia oksigen. Sekali lagi, terimalah semua hal yang tak mampu kamu lakukan. Teruslah bermimpi tinggi, tapi wujudkanlah apa yang bisa kamu wujudkan sesuai kemampuanmu. Jangan terus-terusan menyamakan dirimu dengan orang lain, lalu marah ketika kamu tak bisa mencapai yang ia capai.

Bermimpilah setinggi kamu mampu, tapi juga capailah sebagaimana kamu mampu saja. Tak perlu membuat ada apa yang tak ada. Bukan, bukan berarti kamu harus pasrah menyerah. Tapi justru sungguh-sungguh kamu upayakan tanpa merasa terbebani dengan kemampuanmu–yang katamu masih segitu aja. Jangan buat dirimu tersakiti lagi dengan penundaan-penundaan, janji-janji yang kamu buat untuk diri sendiri tapi tak kamu tepati, atau juga dengan iri hati dan dengki pada hasil yang dimiliki orang lain. Serta jangan lupa meminta maaf atas semua kebengisan yang kamu lakukan sendiri. Lalu maafkanlah segala ketidakmampuan dirimu.

Karena jika kamu mampu memaafkan dirimu sendiri, kamu akan mengenali dirimu sendiri. Kamu akan sadar atas lukamu sendiri. Mungkin tak selamanya kamu bahagia. Mungkin ada waktunya kamu akan marah, kecewa, kesal, dan segala emosi lainnya. Karena kamu manusia. Tapi, setidaknya ketika emosimu sedang tak baik, kamu akan tahu ke mana harus kembali, karena kamu telah mengenal dirimu sendiri. Mengenali dirimu sendiri akan membuatmu selalu ingin mengenal pencipta-Nya. Akan selalu meringankan langkahmu. Dan akan membuat jiwamu tenang.

Tidakkah kamu ingat, bahwa Dia dalam Kalam Sucinya mengutuk mereka yang mendzalimi dirinya sendiri? Jadi, masih enggankah kamu meminta maaf dan memaafkan dirimu yang papa ini?

Entah pada episode ke berapa, kamu akan sampai pada titik itu. Tapi, dengan mengingat ini, semoga kamu terus mengurai setiap perjalanan hidupmu untuk mengenal dirimu sendiri secara lebih dalam. Karena Allah masih sayang padamu. Pada ujian-ujian yang katamu berat itu, Allah sedang mengajakmu untuk sembuh dari luka-lukamu. Untuk lebih mendekat pada Dia.

Semoga senyum yang tersimpul di wajahmu itu, bukan lagi sebuah senyum pura-pura untuk membalut lukamu. Melainkan senyum yang memancarkan ketenangan dalam jiwamu.

Duhai diri, hari ini. Aku terus belajar memaafkanmu. Terima kasih sudah menjadi aku. Terima kasih karena kamu mampu melewati banyak hal. Terima kasih karena kamu mau terus belajar. Kamu memang tak mampu dalam segala, kamu memang tak sempurna. Tapi aku sayang padamu. Aku akan belajar untuk tak lagi merasa menjadi korban. Aku tak akan lagi membandingkanmu dengan siapa pun, karena kamu punya bahagiamu sendiri, yang tentu saja tak sama dengan siapa pun. Aku mau membuka bebat lukamu, lalu pelan-pelan menyembuhkannya. Mengakuinya. Menerimanya.

Medan,
20 Nov 2017
22.21

Published inProsa

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *